Why I Uninstall My Path

  Postingan di atas yang gue tulis hari Jumat, 19 Agustus 2016 sekaligus mengakhiri karir dunia per-Path-an gue yang hanya berlangsung sekitar 3 tahun. Pertanyaannya, kenapa? Sekarang ini dengan teknologi yang semakin maju, dunia seakan berada dalam genggaman. Lebih tepatnya, di dalam sebuah smartphone yang biasa kita genggam. Segala jenis informasi ada di sana, mulai…

Cerpen Ramadhan – Hari 30 – Selesai

  “Seorang lelaki haruslah menyelesaikan apa yang telah ia mulai.”   Kamu mungkin tidak akan pernah menemukan kalimat tersebut dimanapun selain di sini, karena memang kalimat tersebut adalah prinsip yang aku tanamkan kepada diriku sendiri. Sebagai seorang lelaki, ketika kamu memutuskan untuk memulai sesuatu, maka kamu juga harus berani untuk menyelesaikan sesuatu itu. Dengan segala…

Cerpen Ramadhan – Hari 29 – Tangis dan Senyuman

Gumpalan tanah terakhir telah diletakkan. Lubang dimana terletak jasad Si Kaki Satu kini telah tertutup oleh tanah. Serta secuil batu nisan diletakkan di ujung, sebagai penanda. Tapi tangis Nia masih belum berhenti mereda. Nia memang tidak mengenal lelaki itu. Bukan hanya Nia, bahkan ternyata tidak seorangpun yang mengetahui siapa nama lelaki yang menyelamatkan Nia di…

Cerpen Ramadhan – Hari 28 – Hari Ini

Mungkin hari ini, kamu terganggu dengan tangisannya. Ketika ia haus atau lapar, ia menangis. Dan kamu harus menyuapinya makanan untuknya. Itupun terkadang tidak semuanya ia telan: beberapa jatuh terbuang, beberapa hanya dijadikan mainan, bahkan terkadang ia enggan membuka mulutnya. Mungkin hari ini, kamu terganggu dengan tangisannya. Ketika ia buang air, ia menangis. Dan kamu harus…

Cerpen Ramadhan – Hari 27 – Di Ujung Trotoar #4

Ini sudah ke-5 kalinya aku menelpon Yusuf malam ini, tapi tidak sekalipun ia mengangkatnya. Aku memang akan segera menikah, tapi entah mengapa dalam kondisi panik seperti ini, justru Yusuf lah orang yang ingin aku hubungi, bukan calon suamiku sendiri. Malam ini aku mendapat amanah sebagai dokter jaga. Dan kamu tahu, sebagai dokter jaga, kamu harus…

Cerpen Ramadhan – Hari 26 – Ada Yang Salah

Ada yang salah dengan bangsa ini. Ketika peneliti yang sedang mencoba menciptakan mobil sendiri, untuk mengharumkan nama negeri, penelitiannya gagal malah dibui. Sementara mereka yang wira-wiri di layar kaca, untuk merusak moral anak bangsa, malah dipuja dimana-mana. Ada yang salah dengan bangsa ini. Ketika keteladanan datang dari rakyat jelata, yang gajinya tidak seberapa, namun ketika…

Cerpen Ramadhan – Hari 25 – Kapan Nikah?

Aku bingung, mengapa banyak orang yang takut hanya untuk sekedar menjawab pertanyaan “Kapan nikah?”. Ada yang menjawabnya dengan tersenyum. Ada yang menjawabnya dengan cengar-cengir. Ada yang memasang muka masam. Ada yang melarikan diri. Dan sebagainya. Yang jelas, mereka semua menjadikan pertanyaan itu sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai suatu tantangan yang perlu ditaklukkan. Aku tidak…

Cerpen Ramadhan – Hari 24 – Larasati Zahra Khumaira

Dari tadi aku merasa ada yang memegang-megang kepalaku. Aku tidak tau itu siapa, tapi hal ini cukup untuk membuatku terbangun dari tidur panjangku. Tangan itu datang lagi. Tapi kali ini ia bisa menyentuh kepalaku lebih jauh. Dan kalau sebelumnya aku hanya merasakan ada 1 jari yang menyentuhku, sepertinya kali ini jumlahnya bertambah menjadi 2 jari….

Cerpen Ramadhan – Hari 23 – Tidak Ada

Tidak ada rasa sakit yang lebih menyakitkan selain perasaan yang dialami para ibu ketika proses melahirkan. Dan tidak ada rasa bahagia yang lebih membahagiakan selain perasaan yang dialami para ibu ketika melihat, menyentuh dan memeluk bayi yang baru saja dilahirkannya. Depok, 28 Juni 2016, 23:48

Cerpen Ramadhan – Hari 22 – Maybe Never

Wasit meniup peluit panjang. Pertandingan 2 x 45 menit telah berakhir setengah jam yang lalu, sementara peluit tadi menandakan bahwa babak perpanjangan selama 2 x 15 menit juga telah berakhir. Artinya, pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti untuk mencari siapa pemenangnya. Aku menghampiri pelatih untuk berdiskusi mengenai siapa yang akan menjadi penendang, dan bagaimana urutannya….

CerpenRamadhan – Hari 21 – Di Ujung Trotoar #3

  Malam ini malam yang menyenangkan. Aku baru saja bertemu dengan teman-temanku dari salah satu Komunitas Pendidikan untuk menikmati temu kangen dan makan malam bersama. Setelah sekian lama tak jumpa, sejuta cerita diiringi gelak tawa bercampur aduk dengan perasaan bahagia.   Ditambah lagi, kini aku sedang duduk manis di mobil yang disetiri oleh Wardhana, lelaki…

CerpenRamadhan – Hari 20 – Parenting

  Aku baru saja pulang dari acara Seminar Parenting yang diadakan oleh salah satu lembaga yang kesehariannya bergerak di ranah kepemimpinan. Sebagai seorang ayah dengan bayi berusia 17 bulan, ditambah istri yang sedang mengandung 38 minggu, aku rasa tidak pernah ada kata terlambat bagiku untuk menyempatkan diri hadir di dalam majelis ilmu.   Banyak hal…

CerpenRamadhan – Hari 19 – Otak

  Membaca buku bergambar ini memberiku banyak wawasan baru. Biarpun semuanya mungkin sudah kupelajari sekitar 10 tahun lalu ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, hari ini aku menyegarkan kembali pikiranku. Dan dari semua cerita yang ada di situ, akan aku ceritakan salah satu diantaranya kepadamu.   Di dalam otak, ada sebuah “peta”. Otak telah…

CerpenRamadhan – Hari 18 – Di Ujung Trotoar #2

  Aku berjalan kaki seorang diri menyusuri trotoar. Bukan seorang diri lebih tepatnya, melainkan berdua bersama tongkat kayu penyangga yang telah menemaniku sejak lahir; tongkat kayu yang juga menjad senjataku dalam mencari nafkah.   Setiap malam, kami para pemuda jalanan -begitu kami menamakan diri- selalu berkumpul di sekitar pintu masuk Gelora Bung Karno. Beratapkan langit…

CerpenRamadhan – Hari 17 – #cerpenramadhan

  Di bulan Ramadhan kali ini aku mempunya hobi baru. Ya, selepas shalat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk menggenggam smartphone, membuka media sosial dan membaca lini masa yang terpampang di sana.   Memangnya, apa yang menarik?   Di bulan Ramadhan ini salah seorang temanku, sebut saja Arya, selalu memposting…

CerpenRamadhan – Hari 16 – Lemah

  Sudah lebih dari 30 menit aku memandangi layar handphone. Mataku terpaku lama melihat nama Harining Mardjuki, dengan pikiranku yang jauh melayang. Haruskah wanita ini yang aku bawa ke acara pernikahan Sari?   10 menit berikutnya berlalu begitu saja. Dan akhirnya aku telah memutuskan: tidak. Aku tidak akan pergi dengannya.   Aku melempar handphoneku ke…

CerpenRamadhan – Hari 15 – Di Ujung Trotoar

  Nia melangkah gontai menyusuri jalan. Ia berjalan kaki di sepanjang trotoar untuk meninggalkan FX: mencoba meninggalkan bayangan tentang apa yang baru saja terjadi.   Malam ini, entah bagaimana ceritanya, Nia tidak ingat atau mungkin memang tidak mau mengingat apa yang baru saja terjadi. Ketika ia dan Mugi sedang berbincang santai, tiba-tiba Misan datang menghampiri…

CerpenRamadhan – Hari 14 – Fak Fak

  “Orang bilang tanah kita tanah surga… Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…”   Kata Koes Plus di dalam lagunya, “Kolam Susu”, tanah kita ini tanah surga. Dan kali ini aku akan bercerita bahwa tanah kita memang tanah surga. Yaitu salah satu surga tersembunyi di pesisir Timur bumi Indonesia: Fak Fak, Papua.  

CerpenRamadhan – Hari 13 – Harining Mardjuki

  Saat yang kutakutkan akhirnya harus datang juga: minggu depan Sari akan melangsungkan pernikahannya!   Sejujurnya aku enggan untuk hadir. Kamu tau, bukan hal yang mudah bagiku untuk lari dari bayang-bayangnya. Aku lebih memilh mengurung diri di kamar bersama ribuan DVD Korea daripada harus melihat Sari bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.   Tapi apa…

CerpenRamadhan – Hari 12 – Pengajar Muda

  Izinkan aku memperkenalkan mereka: Laeli, Sun, Dhani, Tiwi, Buchori, Citra, Dede dan Putri.   Siapa mereka? Ah, aku rasa kamu tak perlu tau. Atau mungkin tak ingin tau. Atau memang tak mau tau?   Jauh dari gemerlap keramaian ibukota dengan segala kemewahannya, apalagi media sosial dan segala hiruk pikuknya, mereka mengabdikan diri untuk kemajuan…