Cerpen Ramadhan – Hari 30 – Selesai

  “Seorang lelaki haruslah menyelesaikan apa yang telah ia mulai.”   Kamu mungkin tidak akan pernah menemukan kalimat tersebut dimanapun selain di sini, karena memang kalimat tersebut adalah prinsip yang aku tanamkan kepada diriku sendiri. Sebagai seorang lelaki, ketika kamu memutuskan untuk memulai sesuatu, maka kamu juga harus berani untuk menyelesaikan sesuatu itu. Dengan segala…

Cerpen Ramadhan – Hari 29 – Tangis dan Senyuman

Gumpalan tanah terakhir telah diletakkan. Lubang dimana terletak jasad Si Kaki Satu kini telah tertutup oleh tanah. Serta secuil batu nisan diletakkan di ujung, sebagai penanda. Tapi tangis Nia masih belum berhenti mereda. Nia memang tidak mengenal lelaki itu. Bukan hanya Nia, bahkan ternyata tidak seorangpun yang mengetahui siapa nama lelaki yang menyelamatkan Nia di…

Cerpen Ramadhan – Hari 27 – Di Ujung Trotoar #4

Ini sudah ke-5 kalinya aku menelpon Yusuf malam ini, tapi tidak sekalipun ia mengangkatnya. Aku memang akan segera menikah, tapi entah mengapa dalam kondisi panik seperti ini, justru Yusuf lah orang yang ingin aku hubungi, bukan calon suamiku sendiri. Malam ini aku mendapat amanah sebagai dokter jaga. Dan kamu tahu, sebagai dokter jaga, kamu harus…

Cerpen Ramadhan – Hari 23 – Tidak Ada

Tidak ada rasa sakit yang lebih menyakitkan selain perasaan yang dialami para ibu ketika proses melahirkan. Dan tidak ada rasa bahagia yang lebih membahagiakan selain perasaan yang dialami para ibu ketika melihat, menyentuh dan memeluk bayi yang baru saja dilahirkannya. Depok, 28 Juni 2016, 23:48

Cerpen Ramadhan – Hari 22 – Maybe Never

Wasit meniup peluit panjang. Pertandingan 2 x 45 menit telah berakhir setengah jam yang lalu, sementara peluit tadi menandakan bahwa babak perpanjangan selama 2 x 15 menit juga telah berakhir. Artinya, pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti untuk mencari siapa pemenangnya. Aku menghampiri pelatih untuk berdiskusi mengenai siapa yang akan menjadi penendang, dan bagaimana urutannya….

CerpenRamadhan – Hari 21 – Di Ujung Trotoar #3

  Malam ini malam yang menyenangkan. Aku baru saja bertemu dengan teman-temanku dari salah satu Komunitas Pendidikan untuk menikmati temu kangen dan makan malam bersama. Setelah sekian lama tak jumpa, sejuta cerita diiringi gelak tawa bercampur aduk dengan perasaan bahagia.   Ditambah lagi, kini aku sedang duduk manis di mobil yang disetiri oleh Wardhana, lelaki…

CerpenRamadhan – Hari 20 – Parenting

  Aku baru saja pulang dari acara Seminar Parenting yang diadakan oleh salah satu lembaga yang kesehariannya bergerak di ranah kepemimpinan. Sebagai seorang ayah dengan bayi berusia 17 bulan, ditambah istri yang sedang mengandung 38 minggu, aku rasa tidak pernah ada kata terlambat bagiku untuk menyempatkan diri hadir di dalam majelis ilmu.   Banyak hal…

CerpenRamadhan – Hari 19 – Otak

  Membaca buku bergambar ini memberiku banyak wawasan baru. Biarpun semuanya mungkin sudah kupelajari sekitar 10 tahun lalu ketika aku masih mengenakan seragam putih abu-abu, hari ini aku menyegarkan kembali pikiranku. Dan dari semua cerita yang ada di situ, akan aku ceritakan salah satu diantaranya kepadamu.   Di dalam otak, ada sebuah “peta”. Otak telah…

CerpenRamadhan – Hari 18 – Di Ujung Trotoar #2

  Aku berjalan kaki seorang diri menyusuri trotoar. Bukan seorang diri lebih tepatnya, melainkan berdua bersama tongkat kayu penyangga yang telah menemaniku sejak lahir; tongkat kayu yang juga menjad senjataku dalam mencari nafkah.   Setiap malam, kami para pemuda jalanan -begitu kami menamakan diri- selalu berkumpul di sekitar pintu masuk Gelora Bung Karno. Beratapkan langit…

CerpenRamadhan – Hari 17 – #cerpenramadhan

  Di bulan Ramadhan kali ini aku mempunya hobi baru. Ya, selepas shalat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk menggenggam smartphone, membuka media sosial dan membaca lini masa yang terpampang di sana.   Memangnya, apa yang menarik?   Di bulan Ramadhan ini salah seorang temanku, sebut saja Arya, selalu memposting…

CerpenRamadhan – Hari 16 – Lemah

  Sudah lebih dari 30 menit aku memandangi layar handphone. Mataku terpaku lama melihat nama Harining Mardjuki, dengan pikiranku yang jauh melayang. Haruskah wanita ini yang aku bawa ke acara pernikahan Sari?   10 menit berikutnya berlalu begitu saja. Dan akhirnya aku telah memutuskan: tidak. Aku tidak akan pergi dengannya.   Aku melempar handphoneku ke…

CerpenRamadhan – Hari 15 – Di Ujung Trotoar

  Nia melangkah gontai menyusuri jalan. Ia berjalan kaki di sepanjang trotoar untuk meninggalkan FX: mencoba meninggalkan bayangan tentang apa yang baru saja terjadi.   Malam ini, entah bagaimana ceritanya, Nia tidak ingat atau mungkin memang tidak mau mengingat apa yang baru saja terjadi. Ketika ia dan Mugi sedang berbincang santai, tiba-tiba Misan datang menghampiri…

CerpenRamadhan – Hari 13 – Harining Mardjuki

  Saat yang kutakutkan akhirnya harus datang juga: minggu depan Sari akan melangsungkan pernikahannya!   Sejujurnya aku enggan untuk hadir. Kamu tau, bukan hal yang mudah bagiku untuk lari dari bayang-bayangnya. Aku lebih memilh mengurung diri di kamar bersama ribuan DVD Korea daripada harus melihat Sari bersanding di pelaminan dengan laki-laki lain.   Tapi apa…

CerpenRamadhan – Hari 11 – FX Malam Itu

  Eat & Eat, FX Senayan, pukul 21:30 malam. Sudah lebih dari 1 jam aku duduk di tempat ini. Di hadapanku ada Nia yang baru saja menghabiskan tawa lepasnya. Ya, sedari tadi aku dan Nia duduk berdua di sini, menikmati kudapan malam bersama sembari berbagi cerita dan sesekali melepas tawa.   “Mugi kamu tuh ternyata…

CerpenRamadhan – Hari 9 – Ide

  Aku memandangi layar notebook di hadapanku. Program Microsoft Office – Word terbuka lebar di sana. Namun belum ada 1 huruf pun yang aku ketik. Putih. Polos. Tanpa goresan apa-apa.   Aku mengalihkan pandanganku ke jam dinding yang memajang logo klub sepakbola favoritku: Parma FC. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Artinya tinggal 2 jam…

CerpenRamadhan – Hari 8 – Lelaki Itu

  Sudah 4 putaran aku berlari mengelilingi jogging track ini, tapi semangatku masih belum mengendur. Aku masih ingin berlari 11 putaran lagi, karena kau tahu bahwa aku memang gemar berlari.   Biasanya aku berlari bersama teman-temanku, tapi hari ini ternyata mereka semua sedang memiliki kesibukannya sendiri. Namun demi komitmen terhadap janji yang kuucapkan setahun lalu,…

CerpenRamadhan – Hari 7 – Di Suatu Siang

  Aku sedang asik menyantap papeda di Kilo Lima ketika Purwaka datang dan langsung mengajakku untuk segera berangkat.   “Tantra, ayo jalan. Rombongan dari Jakarta sudah datang!”   Aku menyeruput kuah papeda sampai habis dan bergegas masuk ke mobil Kijang Diesel yang dikendarai oleh Purwaka.   “Ada 10 orang yang datang siang ini. Kita jemput…

CerpenRamadhan – Hari 6 – Keadaanku

  Ada yang aneh dengan Yusuf akhir-akhir ini. Kini dia mulai sering menulis. Media sosialnya dipenuhi dengan tulisan-tulisan mengenai gagasan dan pandangan hidup. Begitupun blognya yang sudah sekian tahun tidak aktif, tiba-tiba kini mulai aktif kembali.   Aku bukannya tidak tahu. Yusuf tiba-tiba menjadi senang menulis semenjak aku memutuskan untuk bertunangan dengan seorang lelaki, yang…

CerpenRamadhan – Hari 5 – Memilih

  Mata Rosi sedari tadi memperhatikan layar smartphone miliknya. Tidak ada yang menarik dari isi timeline hari ini. Sampai mata Rosi berhenti dan menatap lama sebuah postingan dari Arya, temannya yang lebih suka menyetir sendiri daripada naik kendaraan umum.  Falsafah hidup, kata Arya di dalam tulisannya. Berikutnya, Rosi juga menatap lama postingan lain dari Nia,…

CerpenRamadhan – Hari 4 – Pemuja Rahasia

  Gadis itu masih berlari mengelilingi jogging track di stadion Soemantri Brodjonegoro. Aku melihat sudah 5 putaran dia mengelilingi lintasan sepanjang 400 meter ini. Namun nafasnya masih saja terjaga. Keringat yang menetes dari pipinya tidak secuilpun mengurangi kecantikan wajahnya.   Sasha. Begitu aku dengar teman-temannya memanggil gadis itu. Biasanya aku melihat dia berlari bersama teman-temannya….