Ojekzone (8): Tak Akan Ada Lagi Ojekzone

Semuanya berawal di bulan Mei 2015. Ketika aku melangkahkan kakiku memasuki gedung tua di ujung Ampera Raya, beranjak ke lantai dua, seluas setengah lantai dari luas total lantainya; di situlah aku berada. Duduk manis di sofa tua, menunggu untuk dijemput dan diperkenalkan ke sekitar +-100 orang lainnya.

 

Duduk di dalam ruangan kecil berukuran sekitar 3×3 meter dengan 5 orang di dalamnya, kebahagiaan selalu terpancar di sana. Dengan jumlah orang seadanya, tentu semua hal dilakukan bersama-sama. Mulai dari mengadakan acara kebersamaan, menikmati makan malam, membuka stand bagi para pencari kerja, juga menghadapi segala tantangan dalam menjalani kerasnya dunia. Semua, bersama-sama.

 

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ruangan ini sudah tidak muat lagi menampung seluruh penghuninya. Juga, lantai ini sudah tidak cukup lagi, sehingga seluruh lantai dasar akhirnya turut serta digunakan. Terbayang wajah penuh kebahagiaan ketika pertama kalinya kita melihat ada koridor bernuansa pasar malam dengan kereta warna-warni di sisi, disertai ruangan dengan tema ice cream, maupun ayunan dan rerimbunan dari pohon buatan. Tak lupa, sebuah aula dengan tribun dan ring basket serta kotak telepon umum yang menyambut ketika pintu utama dibuka.

 

Begitupun dengan manusia-manusia di dalamnya. Mulai dari anak kampung dari ujung Timur Jawa yang pindah haluan dari ahli komputer ke pencari tenaga kerja, aki-aki dari planet Bekasi yang suka menyimpan video-video untuk menghibur diri, ahli pemeliharaan gedung yang juga mantan team sukses partai MNC, sampai psikolog dari Jogja dengan motor bututnya, semua berkumpul bersama. Menghuni tempat yang semakin padat ini. Membagi cerita, tawa, dan suka duka, semuanya bersama-sama.

 

Kehangatan diantara mereka begitu terasa, hingga ketika si psikolog dari Jogja mengantar pulang seorang gadis lulusan Belanda dengan motor bututnya, namun ternyata si gadis lebih tertarik dengan anak kampung dari ujung Timur Jawa; di sanalah akhirnya Ojekzone tercipta. Sebuah cerita yang menjadi saksi bisu dalam mengiringi setiap detik langkahku berada di tempat ini bersama mereka.

 

*untuk Ojekzone seri pertama silahkan bisa dibaca di sini: https://ckinknoazoro.com/2016/10/17/ojekzone-cinta-sebatas-jok-motor/

 

Cerita terus berlanjut, sebagaimana Ojekzone juga semakin berlarut. Seorang pemuda tanggung dari Temanggung yang selama ini membanjiri lingkungan dengan limbah pabriknya, akhirnya turut serta bergabung. Bersama si pelaku Ojekzone, kita bertiga membentuk komunitas pecinta sepakbola, dimana setiap kali ada waktu jeda, kata-kata “wani ora” akan selalu menggema. Jadilah permainan game sepakbola menambah keramaian suasana, dimana tentu saja kita semua tau siapa yang selalu berakhir menjadi pemenangnya. Hingga akhirnya aku turut berbagi: bagaimana korelasinya antara permainan sederhana ini dalam konteks manajemen strategi, yang bisa kita nikmati di sini: https://ckinknoazoro.com/2017/06/03/3-tips-manajemen-strategi-dari-game-pro-evolution-soccer/

 

Karena selalu kalah hingga akhirnya frustasi, si bocah Temanggung kemudian mengisi waktu luang dengan dunia fotografi. Termasuk, ketika kita sedang berkaryawisata ke kota bakpia, ia menyempatkan diri untuk bertemu dengan kawan lamanya: sebuah tempat yang terkenal dengan desahannya, yang dia jalani bersama dengan 2 orang pemuda lainnya, sebagaimana dibahas dalam cerita https://ckinknoazoro.com/2017/09/20/perjalanan-3-pemuda/ . Tobat? Ya, akhirnya dia melakukannya. Kini ia telah mengucap sumpah setia setelah ditinggal kekasih yang pernah membuang waktunya selama delapan tahun lamanya.

 

Berikutnya, si psikolog dari Jogja kedatangan rekan sebangsa: seorang gadis statistisi dari Jogja, yang tidak kalah kampungan dengan dirinya. Berdua, mereka berbagi cerita bersama mengenai mimpi-mimpi untuk menaklukkan ibukota. Dari desa, menuju Jakarta, menjelajahi dunia, membicarakan kelakuan atasan bersama-sama.

 

Tapi apa daya semuanya berubah. Sejak kedatangan perempuan itu: seorang gadis ber-Kelapa Dua yang ternyata lebih mampu menarik perhatiannya. Mimpi hanya tinggal mimpi, perasaan tidak mungkin dibawa mati, akhirnya mengalah lah sang statistisi dan membiarkan mereka berdua menentukan jalan hidupnya sendiri: merencanakan untuk mengikat janji sehidup semati di Taman Mini, di bulan Oktober nanti.

 

*untuk Ojekzone seri terakhir silahkan bisa dibaca di sini: https://ckinknoazoro.com/2018/09/07/ojekzone-7-coconut-two/

 

4 tahun 4 bulan telah berlalu sejak pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tempat ini. Mulai dari hanya 1 lokasi, kini telah bertambah menjadi belasan lokasi. Mulai dari hanya 100 penghuni, kini telah berlipat ganda menjadi lebih dari dua ribu penghuni. Canda, tawa, suka, duka, ceria, romansa, semua bercampur menjadi satu mengiringi perjalanan yang tidak sebentar ini.

 

Ojekzone, pada akhirnya harus diakhiri. Karena semua yang datang akan segera pergi, semua yang dimulai akan segera diakhiri, dan semua yang jomblo akan segera dibully. Maka, aku rasa sudah waktunya bagiku untuk melangkahkan kaki. Beranjak menjauh pergi, walau selamanya selalu mendekat di hati. Terbang jauh bebas, walau ikatan ini tidak akan pernah lepas.

 

Bukan hal yang mudah untuk berubah; untuk memulai dunia yang baru setelah 4 tahun lamanya menjalani kehidupan yang sama. Karena tidak akan ada kenyamanan di dalam pertumbuhan, sebagaimana juga tidak akan ada pertumbuhan di dalam kenyamanan. Maka aku putuskan aku harus tetap melangkah, meninggalkan masa kini, mendekati masa depan nanti. Tentu ini bukan pilihan mudah, tapi aku berharap semoga semuanya berkah. Bagiku, bagimu, bagi kita, bagi semuanya.

 

Dan Ojekzone, kini tidak akan ada lagi. Karena si pelaku utama, di bulan depan akan segera mengikat janji sehidup semati. Si penumpang pertamanya, juga telah berkeluarga dan memiliki seorang buah hati. Pun si gadis lugu asal Jogja, telah pindah kerja untuk lebih mengabdi kepada negara.

 

Sementara aku, masih akan terus menulis cerita lainnya: cerita yang tidak pernah lekang oleh waktu, tentang diriku, dirimu, dan kita semua.

 

Sampai

jumpa

Jakarta, 3 September 2019, 10:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s