You Should Go & Love Yourself

Jumat sore, 15 Februari 2019. Ketika di kantor gue hendak berwudhu tapi karena kamar mandinya lagi dipake, gue memutuskan untuk berwudhu di wastafel aja. Pas lagi mau membasuh kaki dan menaikkan kaki kanan ke wastafel, tiba-tiba… “Preketek…!!!” … Ada yang bergejolak di pinggang kanan gue. Dan gue tetap melanjutkan hari itu seperti biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

 

Minggu siang, 17 Februari 2019. Kebetulan gue masuk kantor untuk menyelesaikan amanah yang sempat tertunda. Tiba-tiba seharian badan terasa pegel-pegel. Berawal dari pinggang belakang, lalu ke paha kanan-kiri, dan sedikit ke bagian punggung, bahu dan lengan. Karena gue kira gue butuh bergerak, jadilah sore-sore joging dulu bentar di sekitaran kantor selama +- 30 menitan, termasuk jalan kaki. Selama joging pegelnya ilang, tapi ketika balik kerja lagi pegel-pegelnya muncul lagi. Udah diminumin Antangin masih ga ada efek apa-apa: cuma boosting stamina tapi pegel masih terasa.

 

Selasa sore, 19 Februari 2019, gue berangkat dari Kemang ke Bandung, nyetir mobil sendirian menempuh perjalanan +-5 jam, ditemenin bini dan anak-anak gue. Demi mengikuti acara Kelas Inspirasi Bandung keesokan harinya. Singkat cerita, pagi hari di sekolah tempat acara Kelas Inspirasi Bandung berlangsung, gue sebagai relawan tukang foto menjalani sesi pembukaan di lapangan seperti biasa. Jepret sana jepret sini.

 

Selepas sesi pagi, para relawan kumpul sebentar di ruangan untuk briefing singkat. Kemudian satu-persatu bergeas meninggalkan ruangan untuk mulai menginspirasi di kelasnya masing-masing. Setelah semuanya pergi dan hanya meninggalkan relawan yang belum kebagian jadwal menginspirasi di jam pertama ini, gue pun bergegas bangkit untuk bertugas sebagai tukang foto. Tapi pas lagi pake sepatu dan mau berdiri, tiba-tiba lagi… “Preketek…!!!” … Kali ini pinggang belakang gue mendadak sakit semua dan nyeri, sampe gue ga sanggup untuk berdiri tegak. Gue lagu duduk dan merebahkan diri di bangku terdekat.

 

Selama beberapa menit gue terduduk sambil memegangi pinggang belakang. Mau coba untuk berdiri dan jalan, tapi ga bisa-bisa. Rasanya nyeri di pinggang, dan menjalar ke paha juga. Mungkin ini suatu penyakit yang kalo dalam bahasa Jerman disebutnya “kecetit”.

 

Gue duduk sendirian di bangku di luar ruangan. Di dalem ruangan ada para relawan yang belum kebagian jadwal menginspirasi. Sesekali di situ ada beberapa guru/orang tua murid yang lewat. Dan gue bersikap biasa aja seakan-akan lagi duduk manis. Jadi gue hampir yakin kalo ga ada seorangpun yang tau apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu.

 

Setelah lama duduk untuk memulihkan kondisi, akhirnya gue berhasil untuk bangkit dan berdiri. Kemudian berjalan perlahan masuk ke kelas-kelas dan mulai bertugas sebagai tukang foto. Sesekali pas lagi asik-asiknya mengambil foto tiba-tiba nyerinya muncul lagi, dan gue akalin dengan pura-pura keluar ruangan kelas dan duduk sebentar di bangku terdekat. Begitu seterusnya sampai Alhamdulillah acara bisa berjalan dan berakhir dengan lancar.

 

Sepulang dari sekolah dan balik ke hotel, setibanya di hotel badan gue ga bisa digerakin sama sekali. Gue cuma rebahan aja di kasur seharian, dengan koyo menempel di pinggang belakang. Obat-obatan pereda nyeri dan penghilang rasa sakit juga udah diminum. Sesekali bisa bangun untuk jalan ke meja atau ke kamar mandi, dengan sejuta upaya untuk menahan rasa sakitnya. Dan begitu seterusnya sampai besok siang ketika gue harus check out dan pulang ke Depok: menyetir lagi seorang diri selama +-5 jam perjalanan.

 

Singkat cerita akhirnya Alhamdulillah masih bisa mendarat di rumah dengan selamat di hari Kamis 21 Februari 2019 malem. Karena satu dan lain hal, akhirnya gue baru menyempatkan diri untuk periksa ke dokter syaraf di hari Senin 25 Februari 2019 sore, supaya tau apa yang terjadi dan apa yang harus diupayakan untuk bisa diobati.

 

Pak Dokter Syaraf melakukan pengecekan dengan cara tes gerak-gerakin kaki. Lalu beliau minta gue di rontgen untuk cek lebih lanjut. Setelah di rontgen di area pinggang dan hasil rontgennya dikulik sama Pak Dotker, beliau mendeteksi bahwa:

  • Tulang pinggang gue bentuknya gak lurus tapi agak melenceng sedikit (dan ini udah gue akui dari lama karena setiap MCU dan rontgen dada, pasti keliatan).
  • Sudah mulai terlihat ada pengapuran pada tulang punggung yang terletak di area pinggang (ini juga baru gue sadari beberapa bulan lalu ketika ada cek kepadatan tulang dan komposisi gue di kisaran 65%-70%-an, jauh di bawah batas normal di angka 80%-an).
  • Ada posisi ruas tulang punggung yang agak “bergeser” dan membebani ruas tulang punggung di bawahnya.

 

Sementara baru itu yang dapat dideteksi, belum dapat diduga apakah nyeri atau kecetit yang gue rasakan ini lebih disebabkan karena faktor tulang, otot, atau syaraf. Pak Dokter pun memberikan obat berupa pil dan obat oles untuk digunakan dulu selama seminggu, dan setelah seminggu baru dilihat lagi perkembangannya.

 

Selain itu, Pak Dokter juga memberikan beberapa saran mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan untuk mencegah hal ini menjadi lebih parah lagi. Beberapa hal yang ia sarankan membuat gue seperti tertampar karena ada hal-hal yang sejatinya gue senangi, bahkan mungkin sempat menjadi sebuah mimpi, pada akhirnya harus segera diakhiri dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Dan ada beberapa hal yang sejujurnya coba gue hindari, tapi mau ga mau gue harus dengan segera mengakrakbakn diri.

 

Emangnya apa aja yang beliau katakan? Kita sambung lagi di tulisan berikutnya ya.

 

Bersambung…

 

Depok, 26 Februari 2019, 07:00

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s