Asah Kapakmu

Alkisah pada suatu hari si sebuah kerajaan, seorang raja yang bernama, sebut saja Raja Rendi (bukan nama sebenarnya) hendak mengumpulkan kayu yang akan digunakan untuk membangun perumahan town house dengan model cluster di salah satu wilayah kerajaannya, sebut saja karesidenan Beji . Sang Raja lalu menyuruh 2 orang ajudannya, sebut saja Ardia (juga bukan nama sebenarnya) dan Pardita (masih bukan nama sebenarnya) untuk pergi ke hutan mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Bermodalkan sebuah kapak, mereka diberikan waktu selama satu minggu untuk menebang pohon sebanyak mungkin dan membawanya kembali ke hadapan Sang Raja.

 

Keesokan harinya, Ardia dan Pardita berangkat menuju hutan terdekat menaiki kuda yang diimpor dari kerajaan sebelah. Karena hanya diberi waktu satu minggu dan ditarget mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya, mereka langsung bekerja sekuat tenaga memotong pohon-pohon di hutan sekitar wilayah kerajaan. Tak lupa sebelumnya mereka minum STMJ dan makan selusin telor rebus terlebih dahulu supaya memiliki kekuatan untuk bekerja selama satu minggu penuh. Selepas hari pertama, mereka berdua berhasil mengumpulkan kayu yang sama banyaknya.

 

Kemudian memasuki hari kedua, mereka bekerja kembali untuk memotong pohon sebanyak-banyaknya. Tanpa kenal lelah, Ardia terus-menerus menghujamkan kapaknya ke pohon sepanjang hari, karena ia berpikir hanya memiliki waktu satu minggu untuk mengumpulkan kayu. Sementara Pardita, selepas siang hari ia beristirahat sejenak dan memeriksa kondisi mata kapaknya. Ia lihat kapaknya sudah mulai tumpul. Lalu ia memutuskan untuk menghabiskan sisa hari kedua untuk mengasah kapaknya supaya tajam kembali. Sementara Ardia masih asik menebang pohon sampai berakhirnya hari kedua. Dan terlihat bahwa jumlah kayu yang dikumpulkan Ardia lebih banyak dibandingkan yang sudah dikumpulkan oleh Pardita.

 

Di hari ketiga, Ardia dan Pardita kembali bekerja memotong pohon. Dengan mata kapak yang sudah diasah kembali, Pardita mampu memotong kayu dengan cepat. Sementara Ardia karena merasa dikejar waktu, yang dia lakukan sepanjang hari hanyalah menghujamkan kapaknya terus-menerus, tanpa menyadari bahwa kecepatan memotongnya sudah berkurang karena mata kapaknya sudah tidak setajam hari pertama. Begitu seterusnya: Ardia menghabiskan tujuh hari dalam seminggu untuk memotong pohon sebanyak-banyaknya, sementara Pardita setiap 2 hari sekali mengasah kembali kapaknya untuk memastikan mata kapak tetap tajam dan kecepatan memotongnya tidak berkurang.

 

Akhirnya hari ketujuh telah berakhir dan mereka berdua menghadap kepada Sang Raja untuk menunjukkan kayu yang sudah mereka kumpulkan. Sekalipun terus-menerus memotong kayu tanpa henti, ternyata jumlah kayu yang dikumpulkan oleh Ardia masih kalah jauh dengan kayu yang dikumpulkan oleh Pardita. Lalu ia mencoba melihat kondisi kapaknya: sudah tumpul, penyok-penyok, banyak koreng disana-sini. Sementara kapak Pardita masih dalam kondisi tetap tajam, terawat dan terjaga: layaknya Nia Ramadhani dan perawatannya.

 

Karena mampu mengumpulkan kayu lebih banyak, akhirnya Raja Rendi mengamanahkan Pardita untuk menjadi kepala proyek pembangunan town house di kerajaan tersebut. Tak lupa, Sang Raja juga memberikan satu cluster berkelas kepada Pardita untuk dia tempati; yang hanya berjarak 5 menit dari pusat perbelanjaan terdekat dan akses mudah ke kandang sapi. Tanpa berpikir dua kali dan sebelum hari Senin harga properti naik kembali, Pardita menerima penawaran Sang Raja. Dan akhirnya Pardita hidup berbahagia di town house tersebut bersama keempat istrinya.

 

***

 

Kisah di atas hanyalah fiktif belaka, tentu saja. Mana ada raja yang namanya Rendi, apalagi ajudan namanya Ardia dan Pardita. Ditambah, istrinya ada empat. Jelas, kisah tersebut hanyalah fiktif sefiktif-fiktinya.

 

Namun seringkali kita terlupa bahwa kejadian tersebut sebenarnya selama ini juga terjadi di kehidupan kita. Bukan, bukan soal hari Senin harga properti naik lagi. Bukan soal Nia Ramadhani dan perawatan kelas atasnya. Juga bukan hidup bahagia seorang lelaki dan keempat istrinya. Melainkan seputar kapak kita yang selalu kita gunakan terus menerus tanpa perhan kita asah kembali; tanpa menyadari bahwa kita terlalu asik menjalani rutinitas hari-hari tanpa pernah berpikir dan meninjau kembali.

 

Lebih khusus di dunia kerja: kita terlalu sering berkutat dengan hal yang sama, setiap hari, berulang kali, dari sejak pagi sampai pagi kembali. Merasa bangga ketika menghabiskan lebih banyak waktu di ruang kerja, meskipun belum tentu yang kita lakukan ada nilai tambahnya. Dan menjadi lebih berbahaya ketika ternyata hal-hal tersebut tanpa sadar telah membuat kita menjadi kapak yang tumpul: terbiasa dengan ritme yang sama sehingga lupa bagaimana caranya untuk tumbuh dan berkembang, untuk mempercepat kembali langkah kita.

 

Ada kalanya kita perlu rehat sejenak. Luangkan waktu untuk menenangkan diri, mundur ke belakang, dan melihat kembali semua yang kita lakukan dari kacamata yang berbeda; sembari bertanya kepada diri sendiri. Apakah yang kita lakukan ini memiliki nilai tambah? Apakah ada cara lain untuk melakukan aktivitas ini? Apakah ada proses yang lebih mudah dan sederhana? Apakah kualitas yang kita lakukan selama ini telah memenuhi ekspektasi? Apakah yang dibutuhkan di masa mendatang masih sesuai dengan yang kita kerjakan saat ini?

 

Tidak hanya itu: keterbatasan pegetahuan dan pengalaman juga membuat kita terjebak di dalam rutinitas yang sama. Untuk itu tidak ada salahnya jika kita selalu membawa buku kemana-mana dan menyempatkan diri untuk membaca walau hanya 1 sub-bab setiap harinya. Tidak suka membaca buku? Ya sekarang “buku” itu sudah ada dalam genggaman, tinggal search saja apa yang kita mau. Tidak suka membaca sama sekali? Well, ajak teman berdiskusi: bertingkahlah seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa; lempar pertanyaan dan biarkan mereka menari dengan pikirannya untuk memberikan jawaban yang mungkin tidak pernah kita duga. Atau ikuti sebuah acara, dengarkan pembicaranya, temui orang baru dan tanyakan hal-hal yang kita ingin tahu. Ada banyak cara sebenarnya, hanya kita saja memiliki seribu alasan untuk enggan melakukannya.

 

Kembali lagi, kapan terakhir kali kita mengasah kembali kapak kita? Kita bisa memilih untuk tetap melakukan hal yang sama, sampai akhirnya kita akan tertinggal oleh mereka yang bekerja dengan cara yang berbeda dan terus menerus mencari berbagai cara untuk tetap inovatif dalam berkarya.

 

 

Depok, 12 November 2018, 05:455

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s