Ojekzone (7): Coconut Two

Sudah dua tahun lebih aku bekerja di tempat ini: sebuah perusahaan start-up lokal yang bergerak untuk memajukan UKM di seluruh Indonesia. Dan selama itu, sudah dua kali aku gagal menggantungkan harapanmu kepada perempuan yang telah aku kagumi sepenuh hati.

 

Yang pertama, beberapa bulan setelah aku baru mulai bekerja, hatiku terpaut kepada seorang perempuan yang awalnya bertugas di bagian perekrutan. Langit malam dan sepeda motor bututku menjadi saksi perjalanan kisah kita. Dari kantor, menuju stasiun kereta, maupun sebaliknya. Tapi apa daya, perasaan ini hanya bertepuk sebelah tangan. Ia lebih memilih rekan kerjaku yang lain: seorang lelaki yang juga bertugas bersamanya di bagian perekrutan.

 

Yang kedua, setahun lebih setelah aku berada disini, hatiku terpatri kepada seorang perempuan lugu nan rendah hati. Ia masih bertugas di bagian analisa data sampai hari ini. Meja kerja dan gerbong kereta senja menjadi saksi atas semua yang terjadi. Dari ruang kerja, ke ruang makan, maupun sebaliknya. Tapi apa lacur, ternyata perasaanku ini harus hancur lebur. Ia ternyata sudah memiliki lelaki pujaannya: seorang yang menjemputnya selepas ia turun dari kereta senja.

 

Dalam diam aku berpikir, apa memang kisah cintaku harus selalu berakhir seperti ini? Hanya berjalan sepihak hingga ujung-ujungnya harus aku sendiri yang tersakiti? Ingin rasanya aku memaki dunia, tapi yang dapat kulakukan hanyalah bermain video game sepakbola dan memaki kekalahanku di dalam setiap pertandingannya.

 

Tahun ini, usiaku memasuki angka dua puluh lima. Usia yang sudah tidak lagi muda, apalagi jika  mengingat kembali bahwa aku sudah mimpi basah sejak SD kelas lima. Seharusnya saat ini aku sudah menjadi seorang pria dewasa, yang tidak perlu lagi galau dan bimbang karena urusan cinta. Namun, mengapa? Mengapa harus aku yang mengalaminya?

 

Awalnya aku tidak mengerti, apa yang salah dengan diri ini. Sering aku berpikir sendiri, dalam diam di kamar mandi. Namun pada akhirnya aku mencoba untuk memahami, bahwa yang terindah memang tidak akan datang terlalu dini. Aku mengerti bahwa Tuhan telah menyimpan yang terbaik untuk dapat aku miliki.

 

Dan itulah yang terjadi saat ini: untuk ketiga kalinya, memasuki tahun ketiga aku bekerja, aku kembali jatuh cinta lagi. Kepada siapa? Kepada seseorang di sekitar lingkunganku sendiri. Yang senyumannya mampu menyejukkan hati.

 

Semua berawal dari sebuah mini-komunitas di tempat kerja. “Geng Mecin”, kami menyebutnya demikian. Berawal dari kesamaan para anggota geng, yaitu para penyusun fondasi terbawah di dalam piramida organisasi yang setiap hari harus mendengarkan arahan kerja dari para manager yang tidak tahu diri, kami membuat Geng Mecin ini untuk media melepaskan segala kepenatan dari dunia kerja. Diawali dari acara nonton bersama, keakraban mulai tumbuh diantara kami semua.

 

Dari keakraban itu, perlahan aku menyadari. Di tengah kegalauanku karena kenyataan pahitku dengan seorang perempuan di kereta senja, aku lihat ada sesosok mata yang diam-diam memperhatikanku dan sepertinya menaruh harapan kepadaku. Perempuan di kereta senja dengan perempuan yang memperhatikanku ini memang saling mengenal. Mereka berdua juga berada di dalam Geng Mecin, dan berada di bawah pimpinan manajer yang sama. Namun dia, perempuan yang diam-diam memperhatikanku itu, mencoba menjaga diri untuk tidak terlalu berani, karena dia tau aku sedang berusaha mendekati si perempuan kereta senja.

 

Sampai kemudian fakta itu nyata: bahwa si perempuan kereta senja telah memiliki lelaki idamannya, baru dia mulai berani menampakkan diri. Dia sering membelikanku makanan ketika mampir ke minimarket terdekat. Atau ketika dia sedang membeli jajanan SD, tidak lupa dia turut membelikan untukku juga. Memang, dia tidak memberikannya langsung kepadaku. Dia akan menaruhnya di kulkas, kemudian memberitahukan kepadaku via chat bahwa ada makanan di kulkas dan mempersilahkanku untuk mengambilnya. Iya, semua demi menjaga hubungan antara dia dan perempuan kereta senja, supaya tidak ada persahabatan yang terluka diantara mereka berdua.

 

Namun pada akhirnya tak ada guna menyembunyikan ini semua. Tinggal menunggu waktu sampai dunia tau bahwa memang ada rasa diantara kita berdua. Tidak ada gunanya menyembunyikan kenyataan bahwa setiap malam aku selalu mengantarnya pulang. Pun, tidak ada gunanya menyembunyikan realita bahwa setiap weekend kita selalu menikmati kuliner bersama. Sehingga, tidak ada gunanya menyembunyikan perasaan kita berdua: bahwa kita saling suka.

 

Ini sudah ketiga kalinya aku jatuh cinta di ibukota, dan aku sangat beharap bahwa kali ini semuanya akan berakhir bahagia. Karena sesungguhnya yang aku inginkan bukanlah sesuatu yang seperti apa. Aku hanya sekedar mengimpikan kisah cinta yang sederhana namun penuh dengan keindahan: seindah malam ini ketika aku mengantarnya pulang di atas motor bututku, menuju rumahnya yang beralamat di Coconut Two.

 

Depok, 8 September 2018, 10:22

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s