Sang Mantan (4) – Dirinya

Aku tidak tau ada apa dengan kantor ini, yang pasti, hal-hal ajaib selalu saja terjadi setiap hari. Memang aku baru bergabung sekitar 6 bulan lalu, untuk mengisi posisi sebagai seorang assessor, dengan atasanku pada saat itu adalah seorang Abang yang lebih mirip dengan sosok komika stand up komedi. Namun saat ini aku telah berdiri sendiri dengan berbagai macam alat tes dan assessment yang telah mampu aku ciptakan sendiri.

 

Memangnya, keajaiban apa lagi yang terjadi akhir-akhir ini?

 

Beberapa rekan kerjaku baru saja pulang dari perjalanan dinas di Jogja. Diantara mereka ada seorang perempuan yang juga sekaligus manajer bagian perekrutan, yang selama 3 tahun bekerja disini sudah memiliki puluhan mantan. Juga ada anggota teamnya, salah satunya adalah seorang perempuan yang selama 3 hari perjalanan dinas di sana bajunya tidak pernah berganti. Serta ada beberapa orang lainnya yang tidak begitu penting untuk aku ceritakan disini, kecuali seorang lelaki berkacamata, kurus dan tinggi yang tiba-tiba suka mengirim gambar-gambar ajaib di grup chat obrolan Divisi.

 

Sepulang mereka dari Jogja, entah mengapa aku memperoleh hadiah yang tidak disangka-sangka. Mereka berdua memberikanku oleh-oleh yang persis sama, baik bentuknya, wujudnya, bahkan sampai kemasannya! Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi apakah mungkin bagi mereka berdua aku memang semenarik ini?

 

Mungkin aku sudah mulai dimakan usia, tapi bagiku itu sama sekali bukan halangan untuk terus mencari apa yang aku cari. Dan salah satu hal yang saat ini masih aku cari, adalah seorang perempuan istimewa yang layak untuk aku berikan status sebagai seorang istri. Lalu, apakah aku memang semenarik ini bagi mereka berdua? Bagiku pertanyaan itu tidak perlu dijawab, karena yang juga perlu diperhatikan adalah, apakah mereka berdua memang semenarik ini bagiku sehingga aku layak memberi mereka status sebagaimana yang aku sebut tadi?

 

Kita mulai dari yang pertama, manajer bagian perekrutan. Secara umum, kita memang memiliki banyak kesamaan: kita sama-sama seumuran, sama-sama memilih psikologi sebagai latar belakang pendidikan, sama-sama suka travel dan jalan-jalan, serta sama-sama masih single walaupun sudah mapan. Hal ini membuat kita berdua sering menjadi bahan perjodohan diantara rekan-rekan sekerja. Suatu hal yang aku nikmati tapi hanya sebatas guyonan semata.

 

Sebatas guyonan semata? Iya, aku membiarkan setiap bahasan perjodohan antara aku dan dirinya menjadi bumbu di tempat kerja, sekedar supaya hidup ini tidak berjalan membosankan dan gitu-gitu saja. Memang aku yang memilih untuk tidak melanjutkan ke tahap yang lebih serius; aku biarkan saja hal ini menghilang dengan sendirinya. Bukan apa-apa, aku hanya kurang tertarik dengan perempuan yang seumuran. Ditambah, aku sudah menjalani sebagian besar hidupku di dunia psikologi, yang membuatku tau persis seperti apa baik-busuknya para lulusan psikologi, sehingga mencari pasangan dengan latar belakang yang sama sepertinya tidak akan memberikan nilai tambah bagi masa depanku nanti. Itu saja.

 

Oke, aku tau mungkin hal ini terdengar menyakitkan. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, dan yang terpenting aku juga tidak mungkin selamanya membohongi mereka semua. Tidak ada gunanya menggantungkan harapan terlalu lama, karena yang harusnya kamu lakukan adalah segera mengambil keputusan dan selalu menyiapkan diri dengan segala konsekuensi atas keputusan yang terjadi.

 

Selanjutnya yang kedua, salah seorang anggota team dari bagian perekrutan. Dia terpaut 7 tahun dariku dan berlatar belakang ilmu komputer dari sebuah universitas yang padahal lebih tepat disebut sebagai YAyasan Rumah Sakit Indonesia (silahkan gabungkan huruf besar di kalimat tersebut dan kamu akan tau maksudnya). Dia selalu mengenakan baju hitam kemana-mana dan karena kita duduk saling berhadapan walau terpisah meja, diam-diam dalam diam aku sering memperhatikan.

 

Awalnya aku sempat tertarik kepadanya, karena dia berbeda dengan teman-temannya dan tetap bisa menjadi dirinya sendiri tanpa terpengaruh lingkungan sekitarnya. Tapi setelah aku tau apa yang terjadi, sepertinya aku harus kembali berpikir lebih dari dua kali.

 

Memangnya, apa yang terjadi?

 

Kemarin, aku, dia dan seluruh rekan kerjaku sedang mengadakan wisata ke pulau yang terkenal dengan seribu masjidnya. Di hari kedua ketika kita sedang berwisata di tepian pantai, dia sedang asik menikmati makan siangnya. Kemudian seorang pemuda lokal, sang pemandu wisata, mencoba menghampirinya dan mengajaknya berkenalan. Yang aku tau, saat itu mereka saling bertukar nomor telepon dan berjanji untuk menikmati secangkir kopi bersama di malam hari. Dan malamnya setelah kembali ke kota, selepas acara gala dinner jam 11 malam aku melihatnya keluar dari penginapan untuk masuk ke dalam taksi. Aku tak tau apa yang terjadi selanjutnya, tapi yang pasti hal itu telah membuka mataku untuk menyadari bahwa memang sudah sebaiknya aku tarik kembali perhatianku darinya.

 

Jadi, mana yang aku pilih?

 

Bukan mereka berdua tentu saja. Aku memang tidak dalam dibawah tekanan untuk segera memilih kepada siapa bahtera rumah tangga akan kukayuh bersama. Aku juga tidak diburu waktu untuk menikah segera. Bagiku, menikah bukan soal dulu-duluan. Menikah bukan soal berlomba siapa cepat, bukan soal gengsi dan harga diri, juga bukan soal membangga-banggakan pencapaian prestasi. Terlalu receh jika pernikahan hanya dikaitkan dengan itu semua.

 

Bagiku, menikah adalah soal menggenapi setengah agama. Iya, itulah kemuliaan utama dari pernikahan. Tatapan mataku kepada seorang perempuan yang aku terkena dosa karenanya, menjadi berpahala jika dilakukan dibawah naungan pernikahan. Sentuhan tanganku kepada seorang perempuan yang aku terkena dosa karenanya, menjadi berpahala jika dilakukan dibawah naungan pernikahan. Dengan pernikahan, saling bertatapan dan berpegangan tangan saja sudah bisa memberikan pahala, apalagi jika lebih dari itu?

 

Yang juga tak kalah penting adalah karena teladan terbesarku, Muhammad Rasulullah saw, menikah dan menganjurkan menikah, sebagai ummatnya maka akupun menaatinya. Juga bagiku, di dunia ini ada 3 hal yang harus dilakukan segera dan tidak boleh ditunda: segera sholat ketika waktu sholat telah tiba, segera makan ketika hidangan telah tersedia, dan segera menikah ketika kemampuan sudah ada. Sehingga jujur aku katakan, aku menikah karena ingin kupenuhi setengah agamaku. Bukan sebatas karena aku ingin menyingkirkan poster Shizuka di kamarku yang selama ini sering aku jadikan sebagai objek fantasi liarku. Tidak, aku tidak sereceh itu.

 

Lalu sekali lagi pertanyaannya, mana yang aku pilih?

 

Oke, sejujurnya sedikit banyak aku telah menentukan pilihanku. Bukan kepada dua orang perempuan yang aku sebut diatas yang sama-sama telah memberikan oleh-oleh kepadaku, melainkan kepada seorang dedek gemes yang usianya terpaut 10 tahun dari usiaku. Masih di tempat kerja yang sama, tentu saja. Dan kalau selama ini kalian tidak pernah menyadarinya, tentunya karena aku memang belum banyak memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat lagi dengannya.

 

Dari obrolan dengan teman-temannya, aku tau dia pun juga memiliki rasa yang sama. Dia memang masih muda, tapi aku pun tau bahwa dia memang tidak keberatan untuk menikah muda jika kesempatan itu tersedia di depan mata. Dan tidak seperti sebagaimana dengan dua perempuan sebelumnya, kali ini aku yang akan mencoba mengambil langkah untuk lebih dekat kepadanya, karena hati ini telah mantap untuk berkata “iya”.

 

Namun aku katakan bahwa tidak ada guna kalian mencarinya, karena aku juga tidak akan menyampaikannya ke siapa-siapa; hanya ke sebagian kecil orang yang aku nyaman bercerita dengannya. Izinkan aku untuk mendekatinya dalam diam, sebagaimana keseharianku sebagai seorang assessor yang melakukan segala proses assessment dalam diam, dan ketika kalian butuh hasil laporannya aku jamin akan selalu tersedia. Jadi biarkan aku melakukan segala proses ini dalam diam, dan ketika tiba waktunya, aku akan dengan segera memberikan undangannya. Cukuplah semangkuk mie ramen menjadi saksi kedekatan kita berdua.

 

Untuk itu, bagiku tidaklah penting lagi untuk melanjutkan bercerita. Dan silahkan kalian tertawa, karena dengan ini aku nyatakan bahwa cerita ini…

 

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

…bagi kalian semua. Tapi baru saja dimulai antara aku dan dirinya.

 

Depok, 13 Juli 2018, 05:43

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s