Sang Mantan (3) – Pesawatku

Malam ini aku menyusuri jalanan paling terkenal di kota ini: sebuah jalan di kota yang dipimpin oleh Sultan, dimana 14 tahun lalu aku menghabiskan 5 tahun dalam hidupku untuk berkuliah disini di jurusan Psikologi pada sebuah kampus yang terletak di kaki gunung Merapi. Sudah lama aku tidak belanja disini, dan bisa kembali ke tempat ini serasa menghidupkan kembali jiwa mudaku meskipun sesungguhnya usiaku sudah tak muda lagi.

 

Kedatanganku ke kota ini sejatinya karena ada tugas negara: ada perjalanan dinas yang harus aku lakukan. Tapi karena aku memiliki sejuta kenangan di kota ini, aku sengaja datang beberapa hari sebelum hari dimana tugas negara tersebut harus aku lakukan. Supaya aku memiliki waktu lebih lama untuk menikmati kota yang pernah menjadi saksi atas semua dosa dan kekhilafanku di masa lalu.

 

Aku melepas penat sejenak dengan duduk si salah satu bangku taman. Di hadapanku, dua orang rekan kerjaku sedang asik mengabadikan gambar dengan latar belakang situs-situs bersejarah nan menawan. Padahal mereka baru saja berkenalan, namun kesamaan latar belakang sepertinya membuat mereka dapat segera saling menyesuaikan. Yang pertama adalah seorang lelaki yang pernah kuliah di jurusan Teknik yang membuatnya terkena radiasi, di salah satu universitas kota ini yang terkenal dengan nama kampus kerakyatan. Sementara yang kedua adalah seorang perempuan bagian perekrutan yang pernah kuliah di jurusan Teknik Informatika di universitas yang lebih terkenal karena ada Fakultas Kedokteran, yang ternyata takut dengan bunyi gamelan.

 

Aku bukannya tidak ingin bergabung dengan mereka berdua, tapi saat ini sepertinya hatiku tidak sedang berada disini. Hatiku masih tertinggal di tempat kerjaku, dengan seorang lelaki yang mulanya aku anggap cupu, dengan tampilannya yang seperti bapak guru, tapi setelah sekian lama ternyata dia mampu meluluhkan hatiku yang telah membatu dan membawaku terbang menggapai langit nan biru.

 

Kiranya kamu sudah tau, siapa lelaki yang aku maksud itu?

 

Sebelumnya, aku pernah bercerita bahwa aku pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang berbeda kota. Dia berkutat di tenaga penjualan, berasal dari Kota Pahlawan, yang memang tidak begitu tampan tapi alunan gitar dan suaranya mampu membuatku terkesan. Tapi ah sudah, itu hanya masa lalu. Aku tidak mau menceritakannya kembali kepada kalian semua. Karena lelaki yang aku maksud kali ini bukanlah lelaki itu, melainkan rekan kerjaku yang seumuran denganku. Kita berdua sama-sama lulusan Psikologi, hanya saja kampus kita berbeda jauh meskipun nama kampusnya tidak begitu berbeda. Hanya ada satu huruf “I” yang memisahkan nama kampus kita berdua.

 

Dua orang rekan perjalan dinas dihadapanku, si lelaki bau radiasi dan si perempuan yang tiga hari bajunya tidak ganti-ganti, menjadi saksi atas semua curahan perasaanku kepada lelaki itu. Termasuk ketika kemarin sebelum aku berangkat ke kota ini, aku sempat mendapatkan momen berkesan ketika berdua semobil dengannya, namun momen itu tiba-tiba rusak ketika rekan kerjaku yang lain ikut menumpang di mobil itu tanpa perasaan bersalah apalagi berdosa. Ya, ketika itu tempat kerjaku sedang mengadakan makan malam bersama di sebuah restoran yang menyajikan makanan khas Sumatera. Seluruh rekan kerjaku yang lain telah berbaik hati mempersilahkan aku dan dia untuk berdua saja menikmati malam gerimis di dalam mobilnya. Tapi entah mengapa si abang manajer bagian pelatihan itu tiba-tiba datang menumpang dan menghancurkan perjalanan yang seharusnya bisa menjadi menyenangkan.

 

***

 

Besok pagi aku akan terbang kembali ke ibukota, dan aku masih saja bingung oleh-oleh apa yang sebaiknya aku berikan untuknya. Terpikir olehku untuk membelikannya baju batik, tapi aku ragu apa aku bisa menyesuaikan selera berpakaiannya yang agak unik. Si lelaki bau radiasi menyarankanku untuk membelikan boxer, tapi aku khawatir jika aku mengetahui ukurannya maka hanya akan membuatku minder. Sementara si perempuan yang takut akan bunyi gamelan dan sudah tiga hari bajunya tidak ganti-ganti menyarankanku untuk membelikan baju Dagadu, tapi aku tau jika aku melakukan itu, maka mereka pun akan membelikan baju yang sama untuk diriku supaya aku dan dia memiliki baju kembaran sebagaimana pasangan jaman now kebanyakan.

 

Di tengah kebingunganku, aku membuka timeline Instagram untuk mencari pengalih perhatian. Namun foto yang pertama muncul di timeline ku adalah foto dari akunnya dengan gambar mainan pesawat terpampang disana. Iya, pesawat! Aku lalu teringat bahwa dia sangat terobsesi dan maniak dengan pesawat (untung bukan dengan perawat), sehingga aku memutuskan bahwa aku akan membelikannya pesawat sebagai bukti bahwa walaupun ragaku di kota ini, tapi hatiku telah terpaut jauh di tempat dia berada saat ini. Aku pun menyusuri jalanan sembari berharap menemukan apa yang aku inginkan.

 

Langkahku terhenti ketika akhirnya aku melihat mainan pesawat-pesawatan dari kayu. Mungkin tidak begitu mewah, tapi setidaknya bisa menunjukkan keseriusanku kepadanya. Dengan sedikit basa-basi dan tawar-menawar, akhirnya dua buah mainan pesawat berpindah ke tanganku, dan dengan senyum sumringah aku menggenggam erat pesawat itu; seerat genggamanku jika kelak nanti dia akan menjadi milkku.

 

***

 

Hari ini suasana di tempat kerjaku berjalan seperti biasa. Semua orang duduk manis di mejanya, sembari sesekali melempar celetukan dan melepas canda tawa. Di kolong mejaku, sebuah kotak kado berbungkus kertas warna-warni telah menunggu dengan rapi. Di dalamnya ada mainan pesawat kayu, yang aku beli dari perjalanan dinasku beberapa hari yang lalu. Sementara lelaki itu, lelaki yang akan menjadi tempat pemberhentian selanjutnya mainan pesawatku, asik berkutat di depan laptopnya dengan headset terpasang di telinga. Aku tidak tau lagu apa yang sedang didengarnya, tapi aku rasa dia sedang mendengarkan soundtrack sebuah film yang terkenal dengan baling-baling bambu dan pintu kemana saja.

 

Aku bangkit berdiri dari kursiku. Sudah kuputuskan, bahwa hari ini aku akan menyerahkan pesawatku kepadanya. Selama ini aku mencoba untuk menunda-nunda, tapi aku menyadari bahwa semakin aku menunda, semakin malaikat maut datang menggerogoti usia. Dan aku mencoba untuk memahami bahwa yang membuatku takut selama ini bukanlah bagaimana caraku memberikan pesawatku kepadanya, melainkan aku takut dengan bagaimana reaksi dan respon dia setelah pesawatku ini kuberikan kepadanya. Atau, aku takut dengan apa yang akan terjadi selanjutnya seandainya perasaan ini ternyata hanya bertepuk sebelah tanganku semata.

 

Aku meraih bungkusan kado dari bawah mejaku, aku pegang erat-erat dengan kedua tanganku, dan aku beranjak bangkit berdiri dan melangkah mendekati dirinya. Kursiku dan kursinya memang tidak persis berhadapan, melainkan agak serong ke kanan. Namun aku harus memutar meja panjang ini untuk dapat berdiri persis di hadapan dirinya. Perempuan macam apa yang memberikan kado dari jarak yang tidak dapat terjangkau oleh sebuah pelukan?

 

Baru dua langkah aku berjalan, tiba-tiba persis di hadapanku melintas sosok seorang perempuan. Perempuan itu, perempuan lulusan Teknik Informatika yang takut mendengar suara gamelan, tiba-tiba berjalan cepat dan berhenti persis di sebelah lelaki itu. Perempuan itu, perempuan yang menemani perjalanan dinasku beberapa hari yang lalu dengan baju yang tidak pernah berganti, kini sudah berdiri sejauh dua puluh sentimeter di samping sang lelaki. Di tangannya, ada sebuah bungkusan dengan kertas kado yang persis sama denganku. Sama persis, dengan corak yang sama, ukuran yang sama, dan aku khawatir jika ternyata isinya juga sama.

 

Lalu perempuan itu memanggil lelaki pujaanku, yang segera melepas headsetnya dan menolehkan wajahnya ke perempuan itu. Kemudian perempuan itu menyerahkan bungkusan kadonya kepada si lelaki, dengan senyum sumringah yang sebelumnya tidak pernah aku lihat di wajahnya. Apa yang dia lakukan? Apa dia juga menyimpan perasaan kepada si lelaki yang seharusnya menjadi milikku itu?

 

Depok, 10 Juni 2018, 00:45

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s