Ojekzone (6): Akhirnya

Akhirnya, saat yang kutunggu telah tiba. Tiket kereta di tanganku tertulis tanggal 9 Juni pukul 19.00, dimana berarti besok malam aku akan segera meninggalkan ibukota yang kejam ini untuk sejenak rehat pulang ke kampung halamanku: sebuah daerah yang dikepalai oleh seorang Sultan.

 

Yang membuatku menunggu saat-saat kepulanganku bukanlah perjumpaan dengan keluargaku. Bukan itu, karena selama 2 tahun aku mencari nafkah di ibukota, aku cukup sering pulang pergi menjenguk kedua orangtuaku. Namun yang membuat kali ini istimewa adalah karena aku akan menghabiskan malam panjang di kereta bersamanya: bersama rekan kerjaku, seorang perempuan berjilbab lucu lulusan statistika dari kampus yang sama denganku.

 

Sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku dekat dengannya, karena ada banyak kesamaan diantara kita berdua. Bahkan sejak ruang kerjaku pindah ke sebuah rumah mewah di belakang gedung utama, dia persis duduk di sebelah kiriku. Iya, di sebelah kiri, seakan-akan dia adalah tulang rusuk sebelah kiriku yang selama ini aku cari-cari.

 

Dan akhirnya ketika libur panjang hari raya, kita berdua berjanji untuk pulang kampung bersama, dengan kereta yang sama, untuk menikmati malam panjang di perjalanan dengan berbagi cerita bersama. Membayangkannya saja sudah mampu membuatku bahagia, layaknya anak bayi yang berada di dalam gendongan ibunya.

 

Sore ini, aku meninggalkan laptopku sejenak. Aku beranjak menuju pantry untuk sekedar melepas lelah, sembari memandang kolam renang dan hijau pepohonan di bagian belakang rumah. Rekan kerjaku, seorang lelaki se-almamater denganku hanya saja berusia lebih tua dan telah berkeluarga, sedang asik berkutat dengan laptopnya disitu. Melihatku datang, dia menyapaku dengan bahasa Jawanya yang tidak cocok dengan wajahnya yang lebih mirip orang Eropa.

 

“Piye, koe budal dino opo?”

(gimana, kamu berangkat hari apa?)

 

Aku menjawab pertanyaannya,

 

“Sesok Mas, numpak sepur jam pitu bengi”

(besok Mas, naik kereta jam tujuh malam)

 

Dia melanjutkan pertanyaannya,

 

“Sido barengan karo cah wedok kae?”

(jadi barengan sama perempuan itu?)

 

Aku tau ‘cah wedok kae’ yang dia maksud, yaitu perempuan lulusan statistika yang se-almamater dengan kita berdua yang besok akan pulang kampung bersama denganku. Perempuan yang sering hadir di mimpiku dan di dalam lamunanku.

 

Sido. Tapi meneng wae koe Mas, ojo ngandani sopo-sopo”

(jadi. Tapi diem aja kamu mas, jangan kasihtau siapa-siapa)

Aku memohon kepadanya untuk tidak bercerita ke siapa-siapa. Lelaki di hadapanku ini memang sepertinya memiliki indra ke-delapan; dia mampu menebak apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan orang tanpa harus banyak berinteraksi dengan orang tersebut. Bahkan yang lebih menakjubkan, tiba-tiba dia bisa membuat sebuah cerita yang tepat persis menggambarkan apa yang sedang orang lain tersebut rasakan. Dan yang lebih parah, dia mempublikasikan cerita tersebut di blognya!

 

Kepulanganku besok memang tidak ingin aku gembar-gemborkan. Aku tau bahwa bagi diriku yang belum 100% siap untuk mengarungi bahtera pernikahan, sebaik-baik hubungan adalah yang dijalani dalam penuh kesunyian. Orang lain tidak perlu tau siapa yang sedang aku buru dan bagaimana kelanjutan hubunganku dengannya. Aku hanya akan mengizinkan dunia untuk mengetahuinya ketika nanti aku telah menikahinya, atau setidaknya ketika aku telah bertemu walinya dan menyatakan keinginanku untuk melamarnya.

 

Malam pun menjelang, dan aku meninggalkan ruang kerjaku untuk bergegas pulang; mem-packing barang-barang untuk besok kubawa ke kampung halaman. Tak lupa aku meninggalkan pesan untuk perempuan itu, bahwa besok malam kita akan bertemu di peron nomor satu.

 

***

 

Akhirnya, aku dan dia siap untuk memulai perjalanan. Malam ini suasana stasiun sangat ramai. Ribuan orang ingin pulang ke kampung halamannya masing-masing. Tapi aku tidak merasa sendiri di keramaian ini, karena di sebelahku ada dia yang siap untuk menemani perjalanan ini.

 

Kita berdua berjalan menelusuri peron nomor satu, dan menjumpai kereta kami dengan gerbong nomor tujuh. Aku naik terlebih dahulu, lalu aku bantu dia mengangkut kopernya, dan selanjutnya aku membantu dia untuk menaiki gerbong kereta ini. Kujulurkan tanganku untuk dia gapai, dan ketika jemari tangannya menyentuh jemariku, dalam sepersekian detik aku merasa bagaikan berada di surga; betapa lembut jemarinya akan membuat bidadari surga iri kepadanya.

 

Lalu aku gotong koperku menuju kursi nomor sembilan. Sembilan A dan sembilan B, adalah bangku untuk kami berdua. Dia memilih untuk duduk di dekat jendela, dan aku bersedia untuk duduk di sisi lorong kereta. Kereta memang belum berjalan, tapi obrolan kita berdua telah cukup jauh berjalan. Dimulai dari membicarakan kelakuan rekan kerja: semisal manajer bagian perekrutan lulusan UII yang memiliki rasa dengan seorang assessor lulusan UI tapi tak berani mengutarakannya, atau abang manajer bagian pelatihan yang gencar mendekati Vicky Zhu kw asal Bekasi padahal si abang sudah beristri, sampai ke mantan artis F.T.V yang kini telah bertobat dan banting setir menjadi artis J.A.V yang sering kita tonton setiap malam hari.

 

Kereta melanju kencang. Malam semakin larut. Mata ini hendak terpejam, tapi melihat keindahan di matanya membuatku enggan untuk menghabiskan malam hanya dengan tertidur lelap dan berharap kereta segera tiba. Aku masih ingin berbagi cerita bersama, membicarakan masa lalu kita masing-masing yang layak untuk ditertawakan, maupun merencanakan masa depan kita yang aku harap semoga dapat sejalan. Tapi pada akhirnya tubuh ini tidak dapat berdusta, aku begitu lelah, begitu juga dirinya. Akhirnya ketika kereta telah memasuki kota yang disambut dengan musik gamelan Jawa di stasiunnya, kita pun mengakhiri pembicaraan ini dan memutuskan untuk memejamkan mata sejenak. Kupandangi dirinya yang perlahan terpejam, sampai akhirnya di balik selimutnya dia tenggelam.

 

***

 

Akhirnya, kereta tiba di stasiun tujuan. Aku turun dari kereta terlebih dahulu, disusul dia dan kopernya di belakangku. Pengeras suara di stasiun menyambut kedatangan kita dengan salah satu lagu dari KLA Project yang sudah begitu melegenda di kota ini. Membuatku semakin semangat untuk bersamanya menjalani hari.

 

“Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…”

 

Alunan musik bergema di seluruh penjuru stasiun. Lalu aku bertanya padanya, apakah ada yang akan menjemputnya di stasiun ini? Karena aku bersedia untuk mengantarnya sampai ke rumahnya, jika dia mau. Termasuk, aku juga tidak segan jika harus bertemu dengan orangtuanya terlebih dahulu sebelum aku bertemu dengan orangtuaku di kepulanganku kali ini. Karena aku harus minta izin kepada mereka jika aku memang ingin menjadikannya sebagai pelabuhan terakhirku.

 

Namun, ternyata dia menolak. Dia bilang bahwa sudah ada yang akan menjemputnya dan akan mengantar dia ke rumahnya. Oke akupun berbaik sangka, sebagai seorang perempuan yang lama tidak pulang, mungkin keluarganya akan menyambutnya di luar stasiun dan mengantarnya pulang layaknya seorang putri yang siap untuk kembali ke istana. Aku pun segera membuka layar smartphone ku dan memesan transportasi online via aplikasi yang sedang hits saat ini.

 

Sesampai di depan stasiun, ternyata dia dijemput oleh seorang lelaki. Masih muda, sepertinya seumuran denganku. Penampilannya juga khas seperti pemuda di kota ini pada umumnya. Mungkin itu kakaknya, pikirku dalam hati.

 

Lalu mereka berdua saling melempar senyuman, semakin mendekat dan oh… …ternyata mereka berdua saling berpelukan! Namun bukan pelukan layaknya seorang saudara, melainkan seperti… …ah aku tidak berani mengatakannya, terlalu kasar untuk aku ceritakan disini.

 

Aku mencoba bersikap biasa saja, meskipun sebenarnya aku penasaran siapa sosok lelaki itu sebenarnya. Setelah mereka melepas pelukan dan berbicara singkat melepas kerinduan, akhirnya perempuan itu memperkenalkan lelaki itu kepadaku. Dia menyeret tangan lelaki itu, berjalan menuju kearahku, dan mulai memperkenalkanku kepadanya.

 

“Kenalin, ini pacarku.”

 

Pacar? Aku tidak salah dengar, pacar? Ternyata dia selama ini telah memiliki pacar dan menjalin hubungan jarak jauh? Aku mencoba untuk memahami itu semua, tapi aku tidak bisa. Kepalaku mulai berputar-putar, pandanganku mulai samar-samar, dan apa yang terjadi selanjutnya, aku sudah tidak bisa lagi mengingatnya.

 

Depok, 8 Juni 2018, 00:20

One Comment Add yours

  1. Menarik juga gaya penyampaiannya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s