Ojekzone (5): Kereta Senja

Hampir 2 tahun sudah belalu sejak kejadian itu, dan aku sudah bisa melupakannya. Masa-masa dimana aku merasa disakiti dan dikhianati, masa-masa dimana aku terjebak oleh perangkap Ojekzone yang kubuat sendiri, kini sudah bisa aku lewati.

 

Bahkan hari ini, aku baru saja menghadiri undangan pernikahan mereka bedua. Jauh di lubuk hati, aku memang masih merasakan sisa-sisa luka yang tersakiti. Tapi terus menerus terjebak dalam perasaan itu hanya akan menjauhkanku dari kedewasaan seorang lelaki. Aku harus mampu kembali bangkit dan berdiri, meninggalkan semua masa suram yang pernah aku lalui.

 

Jadilah hari ini dengan segala kelegaan hati, aku datangi pernikahannya. Tanpa rasa tersakiti, tanpa ada rasa luka. Aku salami mereka satu-persatu, aku berikan pelukan persaudaraan kepada si lelaki, dan aku berikan senyuman ikhlasku untuk si perempuan yang tak akan pernah lagi aku miliki. Tapi aku tidak marah. Justru aku berterima kasih kepada mereka berdua karena telah membuatku lebih kuat lagi daripada sebelumnya; telah membentuk diriku menjadi seorang lelaki yang harus siap menghadapi segala tantangan yang akan terjadi. Hati yang terluka? Ah, aku sudah lupa.

 

Berbicara tentang itu, menurut kamu, apakah yang dapat mengobati hati yang terluka? Kalau kamu menjawab “waktu”, dengan tegas aku salahkan jawabanmu. Coba lihat, berapa sering kamu jumpai orang-orang yang pernah patah hati, namun setelah sekian tahun berlalu mereka masih juga belum bisa terobati? Berapa sering kamu jumpai orang-orang yang sudah beranjak tua namun hati dan perasaannya masih saja terjebak di ruang dan waktu yang sama pada saat mereka terluka?

 

Jadi aku tegaskan sekali lagi, bahwa waktu bukanlah penawar untuk hati yang terluka. Sampai kapanpun itu.

 

Kalau begitu, lalu apa jawabannya?

 

Obat untuk hati yang terluka, khususnya bagi yang merasakan patah hati, sesungguhnya adalah dengan cara jatuh cinta lagi. Ya, jatuh cinta lagi. Tidak peduli berapa lama waktu yang akan kamu habiskan, kalau kamu bisa segera mencinta setelah jatuh terluka, maka semua rasa sakit akan menghilang dengan sendirinya.

 

Itulah alasan mengapa hari ini aku dapat datang dengan kepala tegak di pernikahan mereka berdua. Kini aku sudah tidak lagi merasakan terluka, karena hatiku telah kembali jatuh cinta. Dengan siapa? Ah jangan pura-pura tidak tahu, aku yakin kamu sudah bisa menduganya.

 

Beberapa bulan lalu, tempat kerjaku kedatangan pegawai baru. Dia satu almamater denganku, satu kampung denganku, seangkatan denganku, dan ada banyak kesamaan lainnya yang membuat aku tidak bisa menyamakan dia dengan jutaan perempuan lainnya. Manajernya yang berkepala botak dan beranak dua, merekrut dia disini dengan alasan bahwa di masa depan kebutuhan akan data dan informasi akan semakin meningkat. Atas dasar itulah dia hadir di tempat ini, untuk mengolah data seputar sumber daya manusia menjadi sebuah informasi yang digunakan untuk merumuskan masa depan kebijakan perusahaan ini.

 

Di tempat kerja, aku duduk di pojok belakang sendiri, berteman tembok yang senantiasa melindungi. Sementara dia duduk di samping jendela; walaupun kita terpisah beberapa meja tapi aku masih bisa melihat jelas keindahan di dirinya. Terlebih ketika dia sedang memandang keluar jendela kemudian sinar matahari menyinari wajahnya, aku seakan memandang sosok seorang bidadari surga.

 

Hari ini dia juga menghadiri undangan bersama teman-teman dekatnya. Aku suka melihatnya mendatangi undangan pernikahan, karena hanya disaat itulah aku bisa melihat dia mengenakan rok dan gaun yang menawan. Sehari-hari, dia memang lebih memilih mengenakan celana, tapi aku lebih suka melihatnya mengenakan rok yang menjulur panjang. Meskipun sejujurnya aku lebih senang jika dia tidak mengenakan apa-apa. Hahaha, aku bercanda tentu saja.

 

Aku tidak banyak berbicara dengannya, karena sebagaimana pengalamanku sebelumnya, aku tidak mau perasaanku diketahui oleh orang banyak. Aku memang menyimpan perasaan ini sendiri, tapi aku tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama. Kali ini, aku akan lebih berani untuk mendekatinya. Dan akan aku mulai dengan cara mengajaknya untuk pulang kampung bersama.

 

Ya, kita memang berasal dari daerah yang sama. Kita kuliah di universitas yang sama, pada tahun yang sama, hanya saja di fakultas yang berbeda. Tempat kerja ini adalah pertama kalinya dia merantau ke ibukota, dan akan sangat menyenangkan jika saat dia pulang kampung di hari raya nanti, akulah yang akan menemaninya mulai dari sini sampai ke Yogyakarta.

 

Aku membayangkan: 2 bulan dari sekarang, aku dan dia akan melangkah di peron yang sama. Masuk ke dalam gerbong yang sama. Kemudian duduk berdua bersebelahan, saling bersandar melepaskan beban. Berbagi cerita bersama, tentang masa depan kita berdua, di atas kereta senja.

 

Depok, 30 Maret 2018, 16:50

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s