Ninja

Pagi ini aku menjalani hari seperti biasa. Aku panaskan motor Yamaha Nmax yang terparkir manis di garasi, dan segera kuberangkat dari Mampang menuju tempat kerjaku di kawasan Kemang. Badut lampu merah dengan kepala bergoyang-goyang menyambutku di persimpangan, mengawali hari ini penuh dengan senyuman.

 

Sesampainya di kantor, aku bergegas menuju ruang pelatihan untuk memberikan orientasi bagi karyawan baru. Sebagai orang Personalia, aku harus menginformasikan kepada mereka bagaimana perlakuan ketenagakerjaan yang diberikan oleh perusahaan kepada para karyawan. Mulai dari ketentuan cuti, perhitungan lembur, penggunaan asuransi, penggantian biaya kesehatan dan lain sebagainya. Semua ini menjadi rutinitasku di setiap Senin pagi.

 

Sama seperti Senin-Senin sebelumnya, aku mengisi pelatihan orientasi seperti biasa. Namun di tengah-tengah presentasi, aku merasakan pelatihan kali ini ada yang berbeda. Bukan pakaianku yang berbeda. Juga bukan materi presentasiku, karena ini hanyalah ulangan dari sebelumnya. Apalagi ruangannya, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Yang membuat kali ini berbeda adalah bahwa aku menemukan sebuah keindahan di antara para peserta.

 

Seorang perempuan. Dengan rambut panjang terurai. Dengan mata indah berbinar. Dengan senyum ramah menawan. Membuatku tak kuasa untuk tidak memujanya; mengaguminya di dalam diam.

 

Selepas pelatihan, aku mulai mencari tau. Bahwa ternyata perempuan itu adalah karyawan baru di bagian Pengembangan Bisnis. Hari Senin ini akhirnya berlalu, tapi yang terbayang di ingatanku hanyalah senyumannya yang teramat manis.

 

***

 

Sudah bukan menjadi rahasia, hari-hariku di kantor ini selanjutnya menjadi lebih berwarna. Makan siang yang tersedia, kuhabiskan berdua bersamanya. Pun malam-malam dimana biasanya kuhabiskan untuk berkutat dengan tesisku di salah satu universitas swasta, kini bisa kulewati dengan iringan tawa renyahnya. Singkat cerita, bagiku setiap hari bagaikan cerahnya bulan Purnama, sebagaimana nama belakangku.

 

Oke, dia memang bukan tipikal perempuan idaman. Aku yakin, bagimu dia mungkin bukanlah perempuan yang patut untuk diperjuangkan. Tapi bagiku, dia adalah pahlawan; dialah yang mampu menghiburku dalam segala kesusahan. Dia juga yang mampu mengobatiku dari penyakit bernama kesepian.

 

Termasuk ketika rekan kerjanya, seorang pria berkacamata kuda mencoba mendekatinya. Terpampang nyata bahwa lelaki itu tidak sungkan-sungkan untuk menunjukkan perasaannya. Wajahmu atau namamu pasti selalu ada dalam setiap postingannya di sosial media. Tapi aku tau, bahwa hatimu pasti bukan untuknya. Dan aku percaya, akulah yang akan menjadi pemenangnya.

 

***

 

Hari berganti hari. Sekian purnama telah kita lalui. Namun aku tidak menyangka bahwa ternyata dia sejahat ini. Tanpa aku menyadari, tanpa dia pernah memberi informasi, tiba-tiba dia telah bertunangan dengan seorang lelaki! Dan aku bukan mengetahuinya sendiri, melainkan dari salah seorang rekan kerjaku di kantor ini. Di sosial medianya, dia memposting foto mesra bersama seorang lelaki, dengan caption yang mampu membuatku untuk memuntahkan isi perut ini! Dia bertunangan, dan bagiku ini teramat menyakitkan!

 

Selepas postingan itu, aku mencoba menjaga jarak dengannya. Yang terjadi selanjutnya pun sudah dapat kalian duga: kita tidak lagi banyak menghabiskan waktu bersama. Mungkin dia mengerti perasaanku, karena itu dia pun juga mencoba menjaga jarak dariku. Tapi kalaupun dia memang benar mengerti perasaanku, bukankah tidak sepantasnya dia menerima lamaran lelaki itu?

 

Akhirnya, aku memilih untuk tidak peduli lagi dengannya. Aku memilih untuk menikmati makan siangku di meja kerja. Dan aku memilih untuk menghabiskan malam tesisku juga di ruangan yang sama; bersama empat ekor makhluk rekan kerjaku yang kelakuannya tidak dapat diterka.

 

***

 

Sebuah surat elektronik masuk ke dalam kotak suratku, dan di judul suratnya tertulis pengajuan pengunduran diri. Ya, di team Personalia ini, salah satu tanggung jawabku adalah membantu karyawan yang hendak mengundurkan diri supaya mereka dapat tetap terpenuhi hak dan kewajibannya setelah lepas bekerja. Sehingga, pengajuan pengunduran diri bagiku adalah hal yang biasa. Namun, surat elektronik ini menjadi tidak biasa karena pengirimnya adalah dia: si perempuan itu.

 

Aku tidak bisa mengelak, untuk kali ini akhirnya aku harus berhadapan dengannya kembali. Aku mencoba untuk mengalihkan tanggung jawab ini, tapi atasanku yang masih saja menjomblo di usanya yang sudah tua itu tetap saja memaksaku untuk menyelesaikan kewajibanku.

 

Hingga akhirnya hari itu tiba: perempuan itu akan datang ke ruang kecil di belakang meja kerjaku untuk menyelesaikan hak dan kewajiban terakhirnya sebagai karyawan di kantor ini. Dia muncul dari pintu ruangan, menyapaku dengan senyuman manis yang sudah lama aku lupakan. Aku balas dengan senyuman yang sejatinya tidak aku ikhlaskan, dan berbekal dokumen-dokumen di tangan, aku mengajaknya ke dalam ruangan untuk menyelesaikan segala hak dan kewajiban.

 

Kini aku dan dia hanya berdua di ruangan ini. Ingin kucoba menghindari tatapan matanya, tapi aku tidak bisa. Ingin kututup telingaku supaya aku tidak mendengar tawa renyahnya, tapi aku tidak mungkin melakukannya. Walaupun aku benci, tapi aku rindu saat-saat seperti ini; saat-saat dimana hanya ada aku dan dia berdua, meninggalkan segala beban hidup dan permasalahannya.

 

Tapi waktu terus berjalan. Setelah tuntas segala kewajiban, tidak ada lagi yang perlu aku sampaikan. Dan dia pun berdiri, beranjak meninggalkan ruangan. Setelah saling bersalam-salaman dan berpamitan, akhirnya tibalah waktu bagi dia untuk melepaskan statusnya sebagai seorang karyawan.

 

Untuk terakhir kalinya, aku mengantarkan kepergiannya. Kubukakan pintu, dan kutemani dia sampai ke parkiran. Di samping Yamaha Nmax yang biasa ku gunakan, aku melihat ada Kawasaki Ninja terparkir menantang. Di atasnya, ada seorang lelaki yang sepertinya sudah tidak asing lagi. Itu dia! Dia yang selama ini selalu muncul di dalam sosial medianya! Dia yang merebut perempuan itu dariku!

 

Perempuan itu pun melambaikan tangannya, dan dia segera naik ke atas Kawasaki Ninja. Memeluk mesra lelaki itu, mereka berdua pun berlalu meninggalkanku yang masih terdiam di sudut parkiran.

 

Selepas mereka menghilang, aku mengeluarkan telepon pintarku. Tanpa pikir panjang, aku memutar salah satu lagu yang ada di dalam playlist telepomku; lagu Kimcil Kepolen dari Via Vallen.

 

Pancene kowe pabu nuruti ibumu…

Jare nek ra Ninja ra oleh dicinta…

 

Jakarta, 19 Oktober 2017, 21:42

 

*Note:

  • featured image taken from: https://www.instagram.com/p/BYeS2eIDfO8/?taken-by=_hendrapurnama
  • song taken from:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s