Sang Mantan (2) – Sendiri, Sepi dan Terluka

Terdengar keributan di meja ujung sana. Ini bukan keributan yang pertama kalinya, karena penghuni meja itu memang sudah terkenal dengan keributannya. Keributan-keributan yang biasanya berasal dari hal-hal yang menurutku tidak pantas untuk diributkan. Entah itu gosip artis, model pakaian terbaru, keluhan tentang kehidupan, ataupun hal-hal lain yang bagiku tidak menarik untuk diperbincangkan.

 

Aku mengambil earphone dari atas meja, memasukkan ujungnya ke dalam lubang di Apple-ku. Baru saja aku hendak meletakkannya di telinga, namun aku membatalkannya karena mendengar obrolan di meja ujung sana.

 

“Oh minggu depan dia mau kesini, Mbak? Ciyeee bisa balikan lagi ini mah!”

 

Seorang ibu muda berujar sembari tangannya tak henti memijat pompa ASI.­­

 

“Asiiiikkk… Bakal mengulang kembali kisah lama nih Mbak!”

 

Rekannya yang baru saja menikah, ikutan menimpali.

 

“Ih apaan sih, biasa aja kali!”

 

Si ‘Mbak’ yang dimaksud membantah ucapan kedua rekannya, meskipun dengan wajah yang malu-malu dan merah merona.

 

Ternyata keributan kali ini disebabkan karena si ‘Mbak’ itu akan bertemu lagi dengan lelaki yang pernah mengukir kisah indah bersamanya, sekitar setahun lalu. Aku pun cukup mengenal dekat lelaki itu, karena aku sempat berbicara empat mata dengannya ketika aku berkunjung ke tempat tinggalnya di Timur pulau Jawa. Ya, dia memang lelaki yang baik dan rupawan, yang getaran suaranya bisa dengan mudah meluluhkan hati setiap perempuan.

 

Aku membatalkan niatku untuk memasang earphone di telinga, lebih memilih untuk mencuri dengar apa yang terjadi di ujung sana. Tapi keinginanku untuk mencuri dengar pun juga tidak jadi terlaksana karena iPhone-ku mendadak berbunyi; di layarnya tertulis nama salah seorang kepala organisasi di daerah ini, yang sepertinya menghubungiku untuk meminta upeti.

 

***

 

Hari itu akhirnya tiba. Malam ini, lelaki itu akan datang ke kantor ini untuk menjemputnya. Dan perempuan itu, aku lihat hari ini dia mengenakan pakaian yang tidak biasanya. Entah mengapa, ia terlihat lebih mempesona.

 

Memangnya, siapa perempuan itu? Mengapa aku begitu peduli dengannya? Oke, akan kuceritakan sedikit kepada kalian semua.

 

Pertama kali aku memperoleh tawaran untuk bekerja disini, aku dihubungi oleh salah seorang temanku yang sudah lebih dulu berada disini. Setauku ketika dulu kita bekerja bersama, dia lebih banyak berkutat dengan pengelolaan strategi. Tapi entah mengapa kali ini dia bekerja di bagian sumber daya manusia dan menawarkan posisi untukku, karena katanya belum ada lulusan Hukum di bagian tempat dia bekerja saat ini.

 

Aku mencoba untuk menerima tawaran tersebut, dan orang pertama yang aku temui di kantor ini adalah perempuan itu. Ia bertugas sebagai pintu masuk para kandidat yang akan bekerja, sehingga mau tak mau aku harus berhadapan dengannya. Awalnya, aku melihatnya biasa saja: dia tak ada bedanya dengan para pintu masuk perusahaan-perusahaan lain yang pernah mewawancaraiku sebelumnya.

 

Singkat cerita, akhirnya aku diterima di tempat ini, dan kembali bertemu dengannya, di satu ruangan yang sama. Hari-hari yang kujalani penuh dengan gelak tawa, dan ternyata dia termasuk salah seorang perempuan yang mampu membuatku tertawa bersama. Kedewasaannya membuatku terpana, karena aku menyukai perempuan yang mandiri dan tidak manja. Meskipun aku tau ada beberapa lelaki yang dekat dengannya. Terlebih saat itu dia sedang berbahagia dengan seorang lelaki yang berada di kota berbeda. Tapi aku pun tau, cepat atau lambat, kita akan segera menghabiskan waktu bersama.

 

Hari demi hari berlalu, akhirnya perempuan itu sudah mengakhiri hubungannya dengan si lelaki berbeda kota. Aku mencoba mengambil kesempatan, tetapi sepertinya aku kurang dinaungi keberuntungan. Dia memilih untuk lebih dekat dengan seorang programmer lulusan Ilmu Komputer daripada seorang pekerja lulusan Hukum sepertiku. Ya orang itu memang lebih dewasa, dan lebih bisa memberikan kepastian akan masa depan. Tapi masa kecilku yang kuhabiskan di daerah pegunungan mengajarkanku untuk tidak menyerah dalam menghadapi setiap tantangan.

 

Akhirnya seiring berjalannya waktu, mereka berdua pun menjauh. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya mereka berdua saling mencoba untuk menjaga diri. Kesempatan kali ini tidak akan ku sia-siakan. Tapi apa dinyana, si lelaki yang dulu itu tiba-tiba datang menghubungi dan mengajaknya untuk jalan.

 

Sehingga hari ini, aku lihat dia berdandan sepenuh hati demi menghadapi malam yang dia nanti-nanti; malam dimana si pangeran akan datang menjemputnya mengendarai kuda putih dan menyelamatkannya dari relung jurang kesendirian.

 

Dan aku, tidak banyak yang bisa kulakukan. Selama ini orang-orang tidak tau apa yang sebenarnya kurasakan. Memang, sehari-hari kita biasa saling bersinggungan: entah aku yang mulai mencelanya, atau ia yang balik mencelaku. Celaan demi celaan bagi kita berdua sudah seperti makanan. Namun kamu tau, aku suka makanan. Dan aku menyukai setiap celaan yang keluar dari mulutnya.

 

Mengapa harus mencela? Tidak bisakah dengan saling memuji dan bertutur tentang keindahan? Kamu tau, ketika berkumpul bersama rekan-rekan lelaki, aku terbiasa menghidupkan suasana dengan cara mem-bully. Aku tidak tau apakah itu juga berlaku untuk perempuan, tapi kulakukan itu terhadapnya karena aku hendak mencari perhatian. Segala celetukan yang kuucapkan kepadanya, hanya sekedar supaya dia bersedia berbicara kepadaku walau hanya sepatah dua patah kata.

 

Jadi ketika malam ini dia akan bertemu dengan lelaki yang dulu pernah menerangi hatinya, aku rasa aku tidak akan sanggup untuk menghadapinya. Biasanya aku pulang kerja setelah pukul delapan malam, walaupun hanya sekedar bermain pertandingan yang aku selalu dikalahkan. Tapi khusus hari ini, aku memutuskan untuk pulang lebih awal.

 

Aku memanggul tasku, melangkahkan kaki meninggalkan ruangan. Kutinggalkan rekan kerjaku, seorang badut lampu merah Mampang yang sedang belajar fotografi. Juga perempuan muda asal Bekasi yang perjalanan pulang dari kantor ke rumahnya saja memakan waktu tiga hari. Serta dua orang perempuan yang dari tadi asik berbincang-bincang dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Aku nyalakan mesin Honda Brio merah ini dan aku melaju menjauh pergi. Sungguh, aku tidak peduli apa yang akan terjadi malam nanti. Lebih tepatnya, aku tidak mau peduli.

 

***

 

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Di lantai 5 kos-kosan sekitaran Kuningan, aku menghirup sebatang rokok dalam-dalam di satu tangan dengan menggenggam iPhone di tangan lainnya.  Kuperhatikan pesan-pesan yang masuk. Di grup tempatku bekerja, muncul sebuah gambar dimana perempuan itu terlihat sedang berdandan. Gambar itu dikirim dari jam setengah delapan. Ah iya, lelaki itu berjanji akan datang pukul delapan. Mungkin itu alasan mengapa perempuan itu difoto saat sedang berdandan; demi menyambut sang pangeran impian.

 

Aku tidak mau tau lebih jauh lagi, kututup gambar itu, dan kualihkan aplikasiku kepada Instagram. Namanya muncul di baris teratas timeline, menempati posisi pertama InstaStories di antara 600-an rekan-rekanku yang aku ikuti. Setengah enggan, aku membukanya. Dan terlihat perempuan itu sedang makan berdua dengan si lelaki itu. Aku tekan tombol berikutnya, dan InstaStories selanjutnya pun menampilkan gambar yang sama, hanya kali ini disertai dengan filter ala-ala.

 

Muak dengan itu semua, aku lempar iPhone-ku ke atas kursi. Kualihkan pandanganku ke teras kosan lantai lima. Mataku menerawang, memandang pekatnya langit malam. Kita memang berada di bawah naungan langit yang sama. Tapi kau disana bahagia berdua bersamanya, sementara aku disini sendiri, sepi dan terluka.

 

Jakarta, 22 September 2017, 20:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s