Sang Mantan

“Minggu depan aku ke Jakarta nih. Kamu ada waktu?”

 

Secuil pesan muncul di notifikasi iPhone ku. Aku membukanya, dan tersentak saat melihat namanya. Nama itu, nama yang sudah sekian lama aku tidak pernah berinteraksi lagi dengannya. Nama yang melukiskan sejuta kenangan di hatiku setahun yang lalu. Nama yang membuatku tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya, terlebih saat aku membaca isi pesannya.

 

“Mbak kenapa kok senyum-senyum sendiri?”

 

Rekan kerjaku, seorang ibu muda yang sibuk memerah ASI di kantor untuk oleh-oleh anaknya di rumah, terheran-heran melihat wajahku yang tiba-tiba berubah sumringah saat menatap layar iPhone. Tapi aku menghiraukan pertanyaannya, pikiranku masih melayang-layang mengingat kenangan lama.

 

“Mbak?”

 

Kali ini dia memanggilku kembali dengan suara yang lebih keras, membuatku spontan menjawab,

 

“Eh, iya, ini dia minggu depan mau kesini”

 

Ibu muda itu tersenyum, seakan tau siapa ‘dia’ yang aku maksud. Iya, dia yang pernah mengukir cerita indah bersamaku. Dia yang pernah menumbuhkan bunga di hatiku, namun disaat bersamaan juga berhasil membuatnya layu.

 

***

 

Hari yang aku tunggu-tunggu akhirnya tiba. Malam nanti, dia akan datang menjemputku ke kantor untuk kemudian kita berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Demi itu semua, hari ini aku rela berdandan lebih lama dari biasanya: tidak hanya untuk memikirkan riasan wajah apa yang akan aku gunakan, tapi juga memilah-milah baju terbaik apa yang akan aku kenakan.

 

Sebagai seorang yang bekerja untuk merekrut kandidat bagi perusahaan, sehari-hari aku memang dituntut untuk berpenampilan menarik karena kesan pertama para kandidat terhadapku sedikit banyak akan menjadi persepsi mereka terhadap kesan pertama mereka terhadap perusahaan. Namun khusus untuk malam ini, aku rela berpenampilan jauh lebih menarik bagi biasanya. Aku tidak ingin kesan pertama dia terhadapku menjadi berantakan hanya karena aku keliru dalam memilih pakaian.

 

Mungkin kamu bertanya, kenapa aku harus menunggu kedatangan dia hanya untuk menjadi berbunga-bunga? Sejujurnya, aku pernah mencoba untuk tetap menumbuhkan bungaku kepada laki-laki lain yang berada lebih dekat denganku. Sebut saja seorang programmer, yang tidak hanya tampan tapi juga dipenuhi dengan kesederhanaan, serta terlihat lebih memiliki masa depan. Atau seorang lulusan Hukum yang biarpun kelakuannya sering menyebalkan tapi disaat bersamaan juga sebenarnya terlihat menggemaskan. Juga ada lagi yang lainnya, yang terlalu banyak untuk kuceritakan semua.

 

Lebih dari 8 tahun bekerja di bidang ini, aku bisa dengan mudah memutuskan kandidat mana yang cocok untuk ditempatkan di perusahaan. Tapi lebih dari 30 tahun menjalani hidup ini, aku selalu saja kesulitan untuk memutuskan kandidat mana yang cocok untuk ditempatkan di relung hatiku yang terdalam. Bagiku ini adalah sebuah ironi, yang terkadang sering membuatku galau sendiri, tapi dalam diam sejujurnya aku cukup menikmati.

 

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku keluarkan alat rias dari dalam tas, dan sejurus kemudian aku mulai berdandan. Bertemu sejumlah kandidat selama seharian, ditambah semburan makian dari para atasan, membuat wajahku terlihat berantakan. Tapi demi malam yang telah aku nanti-nantikan, dihadapannya aku tidak mau terlihat mengecewakan.

 

Ruangan kantor ini sendiri sudah cukup sepi. Di sebelahku ada seorang rekan kerja yang masih asik menghubungi kandidat sembari menunggu suaminya menjemputnya, yang kebetulan juga bekerja di tempat ini. Di seberangnya ada rekan kerjaku lainnya yang sedang asik bermain game online sembari sesekali berkomunikasi dengan kekasih wanitanya yang berada jauh di kota berbeda. Di ujung sana ada seorang lelaki beranak dua yang sedari tadi asik berkutat dengan laptopnya, sepertinya dia sedang menulis cerita. Dan di meja sebelahnya, dua perempuan kehed belegug siah yang doyan mendengarkan lagu-lagu Korea baru saja beranjak pergi meninggalkan ruangan ini.

 

“Aku udah deket nih, siap-siap ya”

 

Dia mengabarkanku bahwa tidak lama lagi dia akan datang. Aku segera mengemas semua perlengkapanku, tak lupa menyirami tubuhku dengan parfum terindah yang aku miliki. Aku bergegas keluar ruangan dan menunggu di teras depan. Sorakan-sorakan maupun nyinyiran rekan kerjaku sama sekali tak aku hiraukan, yang ada di pikiranku hanyalah lagu-lagu Glenn Fredy yang dulu pernah dia nyanyikan.

 

Sebuah mobil masuk ke dalam area parkiran. Mobil itu berhenti tepat di depanku, dan tak lama kemudian kaca jendelanya turun secara perlahan. Dari balik jendela itu aku melihat sebuah wajah yang sudah lama aku rindukan. Dia menyapaku dengan sebuah senyuman yang tidak sempat aku balas karena aku sendiri sudah terlalu gemetaran.

 

Aku pun masuk ke dalam mobil, menyapanya sepatah dua patah kata, dan kita berdua melaju melintasi keramaian jalanan ibukota. Kemana mobil ini akan membawaku, aku tidak peduli. Yang ingin aku lakukan hanyalah menikmati betapa indahnya malam ini.

 

Depok, 22 September 2017, 05:04

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s