Perjalanan 3 Pemuda

“Dah yuk, kita balik!”

 

Seorang pemuda dengan kamera Fuji di tangannya, mengajak 2 orang rekannya untuk segera kembali ke penginapan. Malam sudah semakin larut, mereka baru saja berburu foto di salah satu tempat yang menjadi trademark kota wisata ini. Kedua rekannya yang memegang kamera Canon meng-iya-kan ajakan pemuda tersebut, dan mereka bertiga bergerak melangkah menuju penginapan.

 

Persimpangan terakhir sebelum berbelok ke penginapan, salah seorang diantara mereka merasa bahwa malam belum terlalu larut jika harus dihabiskan dengan kembali ke penginapan. Dia pun mengusulkan kepada rekannya,

 

“Nanggung nih baru jam segini. Mau ngeluyur kemana dulu ga?”

 

Yang termuda diantara mereka pun menimpali,

 

“Katanya di deket sini ada tempat wisata yang bersejarah. Mau ke sana aja apa?”

 

Dan 1 orang sisanya yang kebetulan pernah tinggal cukup lama di kota wisata itu, mengamini permintaan tersebut.

 

“Mau ke situ? Ya udah yuk!”

 

Seharusnya di persimpangan itu mereka cukup berbelok ke kiri untuk kembali ke penginapan. Alih-alih demikian, mereka tetap melangkah lurus mengikuti jalan utama, dan baru berbelok setelah bertemu dengan stasiun kereta.

 

 

“Eh tapi gua agak lupa tempatnya persisnya di sebelah mana.”

 

Orang yang pernah tinggal di kota wisata itu sedikit kebingungan merekam kembali memori yang pernah dilaluinya sekitar 7 tahun yang lalu. Namun rekannya, yang juga pernah tinggal di kota itu, mencoba menenangkannya.

 

“Gapapa, telusurin dulu aja. Kalo keliru tinggal muter balik lagi.”

 

Sementara yang termuda di antara mereka, manut-manut saja menyimak pembicaraan kedua rekannya. Dan mereka terus melangkah menyisiri jalan pinggir stasiun, mencari gang yang dimaksud.

 

Tibalah mereka di gang pertama. Gang itu terlihat sepi dan lurus memanjang, terlihat dari kilauan lampu jalanan dari sisi ujung gang. Dengan rasa penasaran, mereka bertiga pun berbelok menuju gang tersebut, dan melintasi aspal berbatu setapak demi setapak.

 

Gang itu cukup lebar, motor pun masih bisa berpapasan tanpa harus ada yang mengalah. Banyak penginapan-penginapan sederhana di sepanjang gang, beberapa diantaranya disertai dengan tulisan berbahasa asing. Juga ada beberapa toko kelontong, galeri, dan kedai kopi. Tapi sebagian besar sudah mematikan lampunya dan tampak sepi. Tibalah mereka di ujung gang, bertemu kembali dengan jalan besar dan mereka tidak menemukan apa yang mereka cari.

 

“Bukan ini kayanya gangnya!”

 

“Ya gapapa kita coba cari lagi aja”

 

Mereka pun melanjutkan perjalanan, menelusuri jalan untuk mencari gang berikutnya. Tibalah mereka di gang kedua, dengan kondisi yang mirip dengan gang pertama: lurus memanjang, terlihat sepi, dan setelah ditelusuri ternyata isinya tidak jauh berbeda dengan gang pertama yang mereka temui. Sepertinya ini juga bukan yang mereka maksud. Dan sesampainya di ujung gang, mereka tetap melanjutkan perjalanan demi menemukan apa yang mereka cari.

 

Jauh mereka melangkah menyusuri jalanan pinggir stasiun, akhirnya tibalah mereka di gang berikutnya. Berbeda dengan 2 gang sebelumnya, gang ini terlihat langsung berbelok, sehingga tidak dapat diketahui apa yang ada di sisi ujung gang sebelah sana. Dan sebelum belokan itu terlihat beberapa laki-laki berusia setengah tua sedang berkumpul, entah apa yang mereka lakukan.

 

“Ini kali tempatnya, soalnya dulu seinget gue di depannya kaya ada rame-rame gitu”

 

“Yuk hajar aja dulu!”

 

Mereka membulatkan tekad dan dengan segenap keberanian yang mereka punya, mereka melangkah memasuki gang tersebut. Pemuda dengan kamera Fuji berjalan paling depan, diikuti dengan yang paling muda diantara mereka, dan 1 orang lagi di belakang. Begitu memasuki gang dan melintasi kumpulan laki-laki di depan gang tersebut, salah seorang dari laki-laki tersebut berkata,

 

“Mas, masuk bayar Mas! Seorangnya lima ribu!”

 

Mereka pun berhenti, dan mengeluarkan uang sejumlah lima belas ribu rupiah untuk diberikan kepada laki-laki itu.

 

“Itu kameranya jangan dipegang gitu Mas, masukin ke dalem tas aja!”

 

Laki-laki tadi menunjuk ke pemuda yang berjalan paling belakang, yang sedang mengalungkan kamera Canon di lehernya. Mematuhi arahan laki-laki tersebut, si pemuda kemudian meletakkan kamera Canonnya di dalam tas punggung yang dia bawa. Selanjutnya setelah laki-laki tadi merasa tidak ada lagi yang perlu disampaikan, ia pun mempersilahkan ketiga pemuda tersebut untuk melintas.

 

Gang itu sempit, sangat sempit. Motor tidak bisa masuk, bahkan untuk dua orang berpapasan pun cukup sulit. Tak jauh dari tempat dimana mereka bertemu dengan laki-laki tadi, gang berbelok ke kanan. Mereka mengikuti arah gang dan persis setelah berbelok, akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari.

 

Lampu-lampu bersinar terang benderang, berwarna-warni. Merah, biru, kuning. Dentuman musik pun terdengar berdetakan, meskipun tidak terlalu kencang. Tidak seperti dua gang sebelumnya yang begitu sepi, bangunan-bangunan disini terlihat begitu hidup: pintu-pintu terbuka lebar dengan lampu yang masih menyala. Dan di setiap pintu masuk bangunan-bangunan tersebut, mereka menemukan pemandangan yang jauh lebih menarik.

 

Deretan perempuan, mulai dari yang berusia muda, setengah tua, maupun sudah agak tua tapi mencoba berdandan seperti anak muda, duduk manis mencoba menggoda. Well, tidak duduk manis dalam arti sebenarnya, melainkan mencoba untuk terlihat manis. Jangan tanya pakaian yang mereka kenakan: mini dress, tank top, rok pendek, baju ketat dan semacamnya menjadi seragam kerja mereka. Pun dengan dandanannya: bibir bergincu, wajah penuh riasan, maupun tatanan rambut yang menyilaukan. Beberapa diantara mereka memegang rokok di tangan. Tentu kita semua tau, apa kiranya yang sedang mereka kerjakan.

 

Ketiga pemuda tersebut terus bejalan menelusuri gang. Sesekali mereka harus berjalan melewati sekumpulan perempuan yang duduk menggoda di pinggiran gang. Ada kalanya salah seorang diantara perempuan itu mencoba untuk menyapa dan mengajak berbicara. Juga terdengar suara dari dalam pintu bangunan yang terbuka, suara-suara yang memanggil seperti,

 

“Boss mampir dulu lah boss”

 

“Boleh Boss karaokean enam puluh ribu aja”

 

“Pelan-pelan boss, ga mau pilih-pilih dulu?”

 

Dan sebagainya, dan sebagainya.

 

Ketika diintip ke dalam pun, terlihat ada beberapa ruangan dengan lampu berwarna-warni layaknya tempat karaoke. Juga ada beberapa kamar yang terlihat seperti bilik kos-kosan. Di depannya selalu ada semacam meja penerima tamu, serta beberapa orang laki-laki yang terlihat berjaga disana. Tapi ketiga pemuda itu tidak mengacuhkan sedikitpun panggilan maupun sapaan tersebut. Mereka terus bejalan menelusuri gang, melintasi bangunan demi bangunan maupun deretan perempuan.

 

Gang itu memiliki persimpangan, dan mereka pun bingung kemana harus melanjutkan perjalanan. Akhirnya mereka terus melangkah lurus, dan tak lama mereka berjumpa kembali dengan sekumpulan laki-laki. Sepertinya ini sudah hampir di ujung gang, pikir mereka. Lalu yang terdepan diantara mereka pun memberanikan diri bertanya kepada salah seorang laki-laki tersebut,

 

“Kalo mau ke hotel XYZ, lewatnya mana ya?”

 

“Oh kalo mau kesitu lewatnya sana, bukan sini”

 

Laki-laki tersebut menjawab sembari menunjukkan arah. Ketiga pemuda tersebut pun mengikuti arahan laki-laki itu. Mereka memutar balik menuju arah yang dituju, sehingga mereka punya alasan untuk berlama-lama berada disitu.

 

Mereka kembali ke persimpangan dan berbelok ke arah yang ditunjukkan oleh laki-laki tadi. Gang itu masih belum berujung dan mereka kembali menjumpai pemandangan yang sama. Dan sampai sejauh ini, sekali lagi mereka mencoba untuk mengacuhkan segala rayuan dan panggilan yang datang.

 

Jauh mereka berjalan, akhirnya mereka bertemu kembali dengan sekumpulan laki-laki. Mereka melintasinya untuk kemudian melihat gang tersebut berbelok lagi. Dan setelah berbelok, terlihat gang yang lebih luas dengan motor-motor yang parkir berjajar; sepertinya itu adalah parkiran motor bagi orang-orang yang juga ingin melintasi gang itu. Selepas parkiran motor akhirnya mereka melihat ujung gang berupa jalan besar, dan perjalanan melintasi gang itu berakhir di jalan besar ini.

 

Begitu keluar dari gang dan tiba di jalan besar, mereka bertiga saling berpandang-pandangan satu sama lain, dan kemudian tertawa lepas terbahak-bahak. Tawa mereka begitu kencang hingga menjadi perhatian para pedagang, tukang becak, dan orang-orang yang melintas di sekitar. Tapi bagi para pedagang dan tukang becak disitu, adalah hal biasa melihat orang-orang keluar dari gang tersebut dengan ekspresi dan reaksi seperti apa yang mereka lkukan.

 

Mereka saling bercerita tentang apa yang baru saja mereka lalui: bagaimana si yang paling muda merasa khawatir akan keselamatan dirinya, bagaimana si pemuda berkamera Fuji bersikap sok akrab dengan para penjaga disitu, maupun bagaimana si pemuda yang paling belakang mencoba mencuri pandang mencari secuil kecantikan dari deretan penuh dempulan. Perjalanan mereka yang sejatinya hanya memakan waktu sekian menit itu tapi terasa bagai berjam-jam di dalam hidup mereka.

 

Puas berbagi cerita, mereka melanjutkan perjalanan menuju penginapan. Tapi persis sebelum tiba di penginapan, salah seorang di antara mereka berkata,

 

“Yakin nih mau langsung balik? Ga mau coba setetes dua tetes?”

 

Mereka bertiga saling berpandangan, kemudian tersenyum dengan penuh kenakalan. Apa yang terjadi selanjutnya, langit malam yang tau jawabannya.

 

Jakarta, 21 September 2017, 08:34

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s