3 Tips Manajemen Strategi dari Game Pro Evolution Soccer

Di kantor gue ada seorang rekan kerja yang hobi banget ngajakin gue tanding main game sepakbola Pro Evolution Soccer (selanjutnya disingkat PES). Rekan kerja ini, kita sebut saja si Bocah Temanggung (bukan nama sebenarnya) sering nantangin gue main. Terus dia kalah. Terus nantangin lagi. Terus dia kalah lagi. Terus dia nantangin lagi. Begitu seterusnya sampe Gal Gadot nikah sama Sopo Jarwo.

 

Ya sejatinya gue ga selalu menang sih. Ada kalanya gue yang menang, ada kalanya dia yang menang. Tapi karena ini adalah blog gue sendiri dimana gue bebas menuliskan berbagai hal menurut sudut pandang gue sendiri, jadi gue tulis aja setiap kali main PES gue selalu menang dan dia selalu kalah. Titik.

 

Di sisi lain, gue adalah salah seorang yang (pernah) menghabiskan waktu berkutat dengan dunia manajemen strategi. 2 dari 6 tahun pendidikan gue dihabiskan di dunia ilmu manajemen strategi, sementara 4 dari 6 tahun pengalaman kerja gue berkutat seputar perencanaan strategi. Itu semua melandasi pola pikir gue menjadi pola pikir strategis, yang disadari atau ga menjadi tercermin di dalam kehidupan sehari-hari.

 

Memangnya strategi itu apa sih? Kalau menurut Johnson dan Scholes, 1999, strategi adalah arah dan jangkauan organisasi dalam jangka panjang untuk mencapai keunggulan kompetitif di dalam lingkungan  yang berubah-ubah melalui konfigurasi dari sumber daya dan kompetensi dengan tujuan untuk memenuhi keinginan dari para pemangku kepentingan. Well kalau kalimatnya terlalu panjang, secara singkat menurut Gardner, 1995, strategi adalah perencanaan yang menyeluruh di dalam sebuah permainan. Perencanaan untuk memenangkan permainan, tentunya.

 

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, siapa pemainnya? Kita, dan seluruh manusia yang hidup di muka bumi. Apa permainannya? Ya kehidupan ini. Namun perlu diingat bahwa bukan seperti pertandingan sepakbola di mana satu pihak menang dan pihak lain kalah, strategi di dalam kehidupan sangat memungkinkan terciptanya lebih dari satu pemenang di permainan yang sama. Kaya kata Raisa dan Isyana, “semua punya ruang, lukis yang kau mau, karena ceritamu milikmu…”

 

Kembali lagi ke game PES. Jelas sebagai sebuah permainan, strategi juga perlu diterapkan di dalam game PES ini. Dan tanpa sadar pola pikir strategis itu terlontar di dalam salah satu permainan yang -sekali lagi- gue menangkan.

 

Alkisah di suatu sore, di pertandingan re-match dengan si Bocah Temanggung untuk kesekian kalinya yang juga telah gue menangkan kesekian kalinya, si Bocah Temanggung bertanya beberapa pertanyaan simpel ke gue sebagaimana dia dokumentasikan di InstaStories nya beberapa jam setelah pertandingan berakhir. Dan disini gue akan coba jelaskan satu-persatu falsafah yang melatarbelakangi munculnya percakapan di InstaStories tersebut.

 

  1. Belajar, belajar dan belajar

 

 

Poin pertama ini sepertinya udah ga perlu diragukan lagi. Kalau mau berhasil, ya belajar. Mau memenangkan persaingan, belajar. Mau cerdas, belajar.  Mau sukses, belajar. Mau menang main game PES, belajar. Semua orang jelas meng-amin-i.

 

Yang perlu ditekankan adalah bahwa banyak orang yang berharap mampu memenangkan persaingan sementara dia enggan untuk belajar. Layaknya budaya mie instan dalam kemasan yang tinggal tuang air panas dan voila hasil tersaji dalam waktu 3 menit, banyak orang yang ingin segera memperoleh hasil instan tanpa mau berupaya lebih ekstra dan mengorbankan apa yang dimilikinya.

 

Setiap orang memiliki jatah yang sama di dunia ini: 7 hari seminggu, 24 jam sehari, 60 menit sejam dan 60 detik semenit. Lalu kenapa ada orang yang cenderung lebih berhasil sementara yang lainnya cenderung kurang berhasil? Ada orang yang hidupnya kemana-mana sementara yang lainnya gitu-gitu aja?

 

Jawabannya sederhana: belajar.

 

Di saat yang lain asik tidur, ada orang yang masih giat belajar. Di saat yang lain asik bermain-main ga jelas, ada orang yang juga masih giat belajar. Tentu ada yang dikorbankan disini, yaitu dia harus mengorbankan nikmatnya tidur nyenyak atau nikmatnya berhura-hura demi mempelajari sebuah ilmu, sementara yang lain asik tidur atau bermain-main. Namun inilah yang membedakan antara si pemenang persaingan dengan si pecundang permainan. Sesuatu yang sudah diajarkan oleh para pendahulu kita sedari dini, yaitu belajar.

 

  1. Belajar lebih cepat

 

 

Pertanyaan berikutnya, semua orang kan sama-sama belajar, lalu mengapa tetap ada yang cenderung lebih berhasil sementara yang lainnya cenderung kurang berhasil? Jawabannya sudah dijelaskan pada percakapan tersebut, yaitu belajar lebih cepat dibanding yang lain.

 

Mengenai poin ini, ada satu kisah klasik yang layak untuk diceritakan secara turun temurun, khususnya bagi para generasi muda penerus bangsa. Coba lihat sejarah, antara Indonesia dan Malaysia, siapa yang lebih dulu merdeka? Jawabannya jelas: Indonesia. Lalu lihat lagi, kepada siapa dulu anak bangsa Malaysia berguru? Jawabannya juga jelas: ke Indonesia. Kala itu banyak insinyur Malaysia yang dikirim ke Indonesia untuk berguru di Pertamina.

 

Sekarang coba kita lihat kondisi hari ini. Siapa yang secara umum negaranya lebih maju? Biarpun malu untuk mengakuinya, tapi jawabannya adalah: Malaysia. Lalu lihat antara Petronas dan Pertamina, bagaimana kondisinya? Ya ga perlu diceritakan bahwa Petronas telah memiliki salah satu menara kembar tertinggi di dunia, ditambah menjadi sponsor salah satu team juara balapan jet darat tercepat di dunia.

 

Mengapa itu bisa terjadi? Itulah jawabannya, yaitu dengan belajar lebih cepat daripada yang lain. Prinsip ini sendiri sejainya gue temukan ketika sedang mengikuti mata kuliah Lingkungan Bisnis Dinamis (Dynamic Business Environment), dimana statement lengkapnya berbunyi “Belajar adalah penting. Tetapi mereka yang unggul adalah yang belajar lebih cepat dari yang lain”. Prinsip ini begitu menggema dan bahkan pada saat itu langsung gue posting di twitter.

 

 

Sekali lagi, belajar memang penting. Tapi perlu disadari bahwa semua orang juga belajar. Jadi instead of sekedar belajar, yang juga tidak kalah pentingnya adalah belajar lebih cepat daripada yang lain. Apakah IQ mempengaruhi? IQ adalah satu hal, tapi yang lebih penting adalah niat dan kesungguhan kita sendiri untuk mau belajar lebih cepat dari yang lain.

 

  1. Tidak mungkin memperoleh hasil yang berbeda dengan cara yang sama

 

 

Dari sekian banyak pertandingan antara gue dengan si Bocah Temanggung, ada kalanya dia yang memenangkan pertandingan. Kemudian dari sekian banyak kekalahannya, terkadang dia mempertanyakan kenapa dia bisa menang, dan jawaban simpel gue adalah, “soalnya waktu itu lu pake strategi yang beda dari biasanya.”

 

Atau di lain waktu, setiap kali kita mau re-match lagi dengan team yang sama, gue selalu nanya ke dia, “Formasi lu masih sama kaya game sebelomnya? Yah bakal menang lagi ini gue mah. Jangan harap lu bisa memperoleh hasil yang berbeda kalo masih pake cara yang sama.”

 

Inti dari poin 3 ini adalah kalimat terakhir tersebut: jangan harap bisa memperoleh hasil yang berbeda selama masih menggunakan cara yang sama. Dalam konteksnya dengan game PES ini pun jelas: kalo mau menang menghadapi lawan yang sama, coba ganti formasi, ganti strategi, sehingga hasil akhirnya akan berbeda.

 

Mungkin hal ini udah ga terdengar asing lagi, karena ya memang ini adalah intisari dari salah satu quote om Albert Einstein yang terkenal itu. Si om Einstein selain dikenal sebagai seorang fisikawan, sebenarnya juga merupakan seorang filsuf handal, dan salah satu quote-nya tersebut aslinya berbunyi seperti ini:

 

 

Seringkali hasil akhir dari sebuah permainan memang tidak seperti yang dibayangkan. Tapi kalau kita mencobanya kembali dengan cara yang sama sebagaimana sebelumnya, itu seperti bunuh diri. Lakukan hal yang berbeda, tentunya hasil akhir pun akan berbeda pula.

 

 

 

Itu kiranya beberapa insight yang bisa diambil dari sekedar obrolan ringan ketika sedang bertanding game PES. Meskipun konteksnya secara sederhana adalah dalam bermain game, tapi prinsip-prinsip manajemen strategi tersebut aplikatif untuk diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari. Jadi kalau hari ini lu merasa hidup lu masih “gitu-gitu aja” dan semakin tertinggal dari persaingan, semoga apa yang disampaikan disini bisa bermanfaat.

 

Depok, 3 Juni 2017, 16:34

 

Note: sebagai ucapan terima kasih kepada si Bocah Temanggung yang cuplikan InstaStories nya telah dimuat disini, boleh silahkan ini di-follow Instagramnya https://www.instagram.com/ostasegara/ . Masih jomblo loh, jadi kali-kali aja ada lelaki ber-otot kekar dan ber-perut six pack yang berminat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s