Celengan Haura

Siti Maemunah. Itu adalah nama seorang perempuan perkasa yang tinggal di salah satu sudut gang di kota Depok, tidak jauh dari Jalan Margonda Raya. Ibu Maemunah sebagai orang tua tunggal memiliki 5 orang anak, dan anak bungsunya mungkin sudah cukup dikenal oleh beberapa khalayak.

 

Rumman Haura Nabila. Itu nama anak bungsunya. Apa dan mengapa Haura bisa dikenal? Well mungkin gue ga perlu cerita banyak, karena udah banyak media yang mengulas mengenai si Haura ini. Untuk contohnya bisa dilihat di link berikut ini:

 

https://health.detik.com/read/2016/05/13/140703/3209807/1202/perjuangan-siti-maemunah-jual-celengan-demi-anaknya-yang-alami-cacat-lahir

http://tv.liputan6.com/read/2920621/pantang-menyerah-kisah-ibu-jual-celengan-demi-anak-cacat-fisik

http://jabar.pojoksatu.id/depok/2016/05/12/masih-butuh-10-kali-operasi-ayo-tolong-haura/

http://metro.news.viva.co.id/news/read/773201-celengan-hias-untuk-beli-susu-bayi-haura

http://www.saweransosial.com/susuuntukhaura

http://www.depoknews.id/semangat-haura-balita-cacat-lahir-jual-celengan-demi-susu/

http://www.beritaislam24h.info/2016/05/jual-celengan-untuk-beli-susu-ini-ayo.html#

 

Ya, intinya Haura terlahir cacat dengan beberapa kekurangan. Dan dia butuh bantuan, tentu saja.

 

Tapi bukan itu yang mau gue ceritain disini, sekalipun judul tulisan ini adalah “Celengan Haura”. Karena Haura sudah banyak diulas di berbagai media, maka disini gue coba menangkap perspektif yang lebih luas mengenai Ibu Maemunah sebagai seorang perempuan perkasa.

 

Jadi berawal dari berita mengenai Haura tersebut, bini gue yang tergabung dalam grup whatsapp ibu-ibu menyusui a.k.a sekomplotan ibu-ibu yang pro dengan ASI (Air Susu Ibu) instead of sufor (susu formula) berencana untuk bersilaturahim ke Ibu Maemunah. Berangkatlah mereka kesana, dan apa yang gue tulis disini adalah hasil investigasi dari bini gue selama bersilaturahim kesana.

 

Ibu Maemunah tinggal di gang sempit ga jauh dari jalan Margonda Raya yang riuh dengan segala hingar bingarnya. Disana beliau mengontrak rumah dan ditempati bersama ke-empat orang anaknya, termasuk Haura. Mendengar dan membaca berita mengenai Haura sebagaimana disebut pada tautan-tautan di atas tentunya sudah cukup pilu, apalagi kalo melihat secara langsung kondisi Haura. Dan itulah yang dirasakan bini gue dan sohib-sohibnya ketika berkunjung kesana.

 

But that is not the worst part.

 

Ibu Maemunah memiliki 5 orang anak. Anak pertama Alhamdulillah sudah menikah dan hidup berkeluarga bersama pasangannya di daerah Ciledug. Anak keduanya, laki-laki, putus sekolah sejak kelas 6 SD. Anak ketiga dan keempatnya yaitu perempuan berusia 8 tahun dan laki-laki berusia 6 tahun, dan saat ini keduanya tidak bersekolah untuk alasan yang sangat sederhana: tidak ada biaya. Haura sendiri adalah anak kelima dari keluarga tersebut.

 

 

Lalu mungkin ada yang bertanya, suaminya kerja apa?

 

Well, saat ini suami Ibu Maemunah sedang tidak bersama mereka. Tidak bersama Ibu Maemunah, tidak bersama anak pertamanya, juga tidak bersama salah satu dari anak-anaknya. Ibu Maemunah seorang diri tinggal dan merawat ke-empat anaknya, termasuk Haura yang terlahir dengan kondisi tidak seperti anak-anak lainnya.

 

Jadi, suaminya dimana?

 

Suaminya selalu berada di sisi Ibu Maemunah, sampai ketika Haura lahir.  Dari pengakuan Ibu Maemunah, setelah Haura lahir, suaminya pergi meninggalkan mereka begitu saja. Tanpa sebab. Tanpa alasan. Tanpa nafkah. Jadi, sejak kelahiran Haura sampai ketika tulisan ini ditulis, Ibu Maemunah seorang diri menghidupi anak-anaknya.

 

Seperti yang tertulis pada tautan-tautan mengenai Haura, ia setiap hari harus meminum susu khusus yang dimasukkan melalui hidungnya. Dan susu khusus tersebut harganya jelas tidak murah: mencapai sekitar rp 300.000,- per kaleng. Jika ditanya satu kaleng tersebut dikonsumsi untuk berapa hari, jawabannya jauh lebih menyedihkan: satu kaleng setiap hari. Which is, minimal rp 300.000,- harus dikeluarkan setiap hari demi Haura memperoleh asupan nutrisi yang cukup.

 

Apakah ada solusi lain? Ketika Ibu Maemunah benar-benar tidak bisa mendapatkan susu tersebut, pernah beliau memberikan sebut saja susu X (merk disensor) kepada Haura. Hasilnya, Haura memang bisa minum susu tersebut. Tapi beliau harus selalu bersiap-siap di keesokan harinya untuk membawa Haura ke UGD karena pasti setelahnya ia mengalami muntah-muntah dan diare.

 

Itu baru asupan harian. Belum lagi operasi untuk menyembuhkan Haura. Sebagaimana juga ditulis pada tautan-tautan tersebut, Haura masih butuh beberapa kali operasi lagi untuk setidaknya membuat tubuhnya berfungsi lebih “normal”. Pun khusus untuk operasi (maupun pengobatan-pengobatan rutin) Haura juga tidak bisa dilakukan di sembarang tempat; banyak dokter yang sudah ditemui tetapi hampir tidak ada satupun yang berani memberikan tindakan. Semuanya mengarahkan Haura untuk dirujuk kepada dokter yang lebih menguasai. Jadilah setiap operasi ataupun setiap terjadi sesuatu, Haura harus dibawa ke RSCM untuk pengobatannya.

 

Bagaimana keadaan kakak-kakak Haura? Anak kedua Ibu Maemunah seperti sudah disebutkan sebelumnya, putus sekolah sejak kelas 6 SD. Sementara anak ketiga dan keempat mereka sampai sekarang belum bersekolah. Semuanya karena tidak ada biaya. Dan lebih parah lagi, mereka berdua saat ini terjangkit penyakit TBC yang disebabkan oleh tertular dari tetangganya.

 

Lantas, apakah Ibu Maemunah berkeluh kesah dan berputus asa atas keadaan yang menimpanya?

 

Disinilah kehebatan seorang Ibu Maemunah. Seorang perempuan perkasa yang ditinggal pergi suaminya, dan seorang diri harus menghidupi keempat anaknya, dengan dua orang anak yang terkena penyakit dan anak bungsu yang terlahir tidak seperti anak pada umumnya.

 

Ibu Maemunah tidak menyerah. Beliau tidak kemudian menjadi seorang ibu yang berpangku tangan dan berharap belas kasihan dari siapapun. Beliau adalah seorang perempuan perkasa yang menyucikan diri dari meminta-minta.

 

“Sungguh seorang dari kalian yang mengambil tailnya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya” –Hadist riwayat Bukhari.

 

Sebagaimana telah dibahas, setiap hari Haura harus menghabiskan satu kaleng susu khusus. Hal ini mengakibatkan banyaknya kaleng susu bekas di rumahnya. Berangkat dari sini, selanjutnya Ibu Maemunah mengemas dan menghias kaleng susu bekas ini menjadi celengan yang lucu dan unik. Celengan-celengan ini selanjutnya dijual sebagai sumber penghasilan beliau. Tidak hanya itu, beliau juga berjualan roti bagelen. Ada rasa chocochip, oreo, butter, keju dan pandan. Bukan buatan sendiri memang; beliau mengambil dari kerabatnya untuk kemudian dijual kembali.

 

Hasil dari penjualan tersebut jelas kurang mencukupi, melihat Ibu Maemunah butuh setidaknya rp 300.000,- per hari demi asupan nutrisi Haura. Itu pun belum termasuk biaya kehidupan sehari-hari beliau dan ke-4 orang anaknya. Juga, rumah kontrakan yang masih harus dibayar. Serta biaya pengobatan untuk Haura maupun kedua kakaknya. Dan jangan lupa, anak kedua, ketiga dan keempatnya pun tidak bersekolah karena kekurangan biaya. Jangan bayangkan kebutuhan lain seperti jam tangan atau smartphone mewah seperti yang kita kenakan saat ini, apalagi berlibur ke Bali, Lombok atau tempat lain yang pernah kita kunjungi. Masih banyak kebutuhan primer yang harus beliau penuhi.

 

Jadi kalau kita semua disini merasa punya rezeki berlebih, jelas ga ada salahnya kalau sebagian dari rezeki yang kita punya kita berikan kepada Ibu Maemunah dan keluarganya. Well actually rezeki kita pasti berlebih sih, cuma kembali ke kita apakah kita mau merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita punya atau malah tamak dan serakah terhadap semuanya.

 

Rasulullah S.A.W pernah bersabda, “Satu dirham memacu dan mendahului seratus ribu dirham”. Para sahabat bertanya, “Bagaimana itu?”. Rasulullah S.A.W menjawab, “Seorang memiliki (hanya) dua dirham. Dia mengambil satu dirham dan bersedekah dengannya, dan seorang lagi memiliki harta benda yang banyak, dia mengambil seratus ribu dirham untuk disedekahannya.” -Hadist riwayat An-Nasaa`’i.

 

Sekali lagi, kalau tertarik membeli celengan atau bagelen Ibu Maemunah, silahkan bisa berkunjung langsung ke kediaman beliau di Jalan Margonda Raya, Gang Beringin no 24C RT 04/18, Kemiri Muka, Beji Depok, Jawa Barat. Bisa juga hubungi beliau di 082139680068. Kalaupun ingin sekedar transfer, bisa ke rekening BCA 8691041379 atas nama Siti Maemunah. Kalaupun merasa belum ada rezeki, mohon boleh tolong kirim doa kepada mereka, toh doa yang diberikan kepada orang lain akan berbalik juga kepada yag mendoakannya.

 

Ibu Maemunah, Haura, dan kakak-kakak Haura juga memiliki hak yang sama seperti kita: hak untuk hidup sejahtera, bebas dari kecemasan, dan mendapatkan kesempatan yang sama sebagaimana kita memilikinya. Untuk itu, mari bersama-sama kita bantu Haura dan Ibu Maemunah semampu kita.

 

Depok, 23 April 2017, 13:04

 

Note: kalo masih ragu mau ikut membantu beliau atau ga, yuk mampir ke tautan ini untuk tau beberapa hal terkait keutamaan sedekah:

http://muslimfiqih.blogspot.co.id/2016/04/kumpulan-hadist-nabi-tentang-keutamaan-sedekah.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s