Berbagi Peran

Meskipun secara ga langsung, ada sekelompok kecil orang yang merasa “takjub” dengan keseharian gue. Seorang suami sekaligus ayah dari dua anak perempuan, tapi mampu membagi waktu dengan dunia kerja, juga termasuk aktivitas pribadi semacam menulis blog, bermusik, atau sekedar menyalurkan hobi fotografi dan berbagi inspirasi. Ada beberapa yang menyatakan secara langsung, ada beberapa yang menyiratkan secara tidak langsung, ada juga beberapa yang diam-diam memperhatikan tapi enggan untuk sekedar menyiratkan.

 

Well actually I’m not that awesome. For me, awesome is as simple as Barney Stinson’s said:

 

“When I get sad, I’m stop being sad and be awesome instead. True story.”

 

Ya meskipun sejujurnya gue bersyukur, tapi gue masih berada di level yang jauh dari kata “takjub” itu sendiri. Banyak orang lain di usia yang sama kaya usia gue tapi udah memiliki pencapaian yang jauh lebih “wah”. Ga perlu gue kasih contoh siapa-siapa aja orangnya, mungkin lu bisa lihat sendiri dari orang-orang yang ada di sekitar lu.

Tapi demi menghormati mereka yang telah dengan jujur menyatakan ke-takjub-annya (meskipun I don’t feel so), ga ada salahnya kalo disini gue akan sedikit berbagi cerita. Mungkin gue yang kurus-kerempeng-begeng-cacingan ini pernah atau telah menjadi inspirasi bagi mereka, sehingga gue akan berdosa seandainya gue sendiri yang meredupkan nyala api inspirasi mereka.

 

*nb: Bahkan beberapa tahun lalu pernah ada junior yang dengan terang-terangan mengatakan kalo gue adalah salah satu tokoh inspirasinya, dan dia mewawancarai gue karena dapet tugas kuliah untuk membuat cerita mengenai tokoh-tokoh inspiratif di dalam hidupnya!

 

Pada intinya, apa yang lu lihat hari ini bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Kalo lu ngeliat gue, atau para idola lu lainnya telah mencapai beberapa pencapaian di dalam kehidupannya, itu bukan sim salabim jadi apa prok-prok-prok dan alakazam, datang secara tiba-tiba. Jelas itu pasti karena mereka telah melakukan berbagai hal secara konsisten dalam sekian watu yang lama, sehingga kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu. Sebagaimana kutipan dari Marie Forleo:

 

“Success doesn’t come from what you do occasionally. It comes from what you do consistently.”

 

Untuk itu, disini gue coba akan jelasin secara singkat bagaimana keseharian gue sehari-hari, termasuk bagaimana gue membagi peran yang berlipat ganda ini.

 

Di pagi hari, gue menjalani peran sebagai seorang ayah. Dengan fasilitas yang disediakan tempat kerja gue dimana kita memiliki jam kerja fleksibel, gue ga perlu bangun pagi jam 4 untuk segera berangkat ke kantor sebelum jam 5 supaya ga kena macet, sebagaimana yang pernah gue lakukan selama hampir 3 tahun. Jadi gue bisa berangkat ke kantor kapanpun gue mau, asal masih dalam batasan tau diri uhehe…

 

Pagi hari gue berupaya untuk menyempatkan diri menjadi orang pertama (atau kedua) yang dilihat anak-anak gue ketika bangun tidur. Ciri khas kalo mereka udah bangun itu gampang: Ajeng, anak gue yang pertama, pasti nangis pas bangun tidur karena mendapati orang tuanya ga ada disampingnya. Sementara Laras, anak gue yang kedua, pasti kedengeran ada grusak-grusuk di kamar pas dia bangun tidur. Sembari menunggu mereka loading 100%, biasanya kita bergumul dulu di tempat tidur sampai mereka bener-bener udah bangun jiwa dan raganya.

 

Selain itu, gue berupaya untuk memandikan mereka juga. Paling sering sama Ajeng karena kalo mandi sama gue pasti banyak main-mainnya; mulai dari sekedar semprot-semprotan pake shower maupun main jebur-jebur dan bebek-bebekan di ember. Setelah itu kalo lagi agak santai, gue menyempatkan diri ke rumah orang tua gue sembari membawa salah satu dari mereka, biasanya sih si Ajeng yang dibawa karena di rumah orang tua gue ada ponakan gue yang seumuran. Jadilah mereka pada main bareng, sementara gue numpang baca koran sambil nyicipin gorengan buatan emak gue uhehe…

 

Agak siang, baru gue berangkat ke kantor dan menjalani peran sebagai seorang karyawan. Ya sebagaimana karyawan pada umumnya, ga usah diceritain lah ya kaya gimana, anggap aja lu semua udah pada ngerti keseharian seorang karyawan. Peran ini yang gue jalanin sampai sore dan malam, bahkan bisa lebih: tergantung dari beban kerja pada saat itu. Beban memuncak sih paling sering kalo lagi tanggal-tanggal gajian: menghitung, menginput dan mengecek ulang setiap angka satu persatu supaya ga ada kekeliruan terkait gaji. Soalnya sekalinya ada gaji salah dikit, karyawan pada langsung protes. Tetapi ketika gajian berlangsung normal, ga pernah tuh ada yang berterima kasih. Curhat dikit ah uhehe….

 

Selepas kerja, gue melepaskan peran gue sebagai seorang karyawan, dan mengambil peran sebagai diri sendiri. Iya, diri sendiri. Mungkin terdengar agak egois, tapi in the end kita tetep butuh waktu untuk menjadi diri kita sendiri, bagaimanapun adanya. Untuk kasus ini, peran sebagai diri sendiri itu maksudnya gimana?

 

Semua orang pasti butuh “quality time with him/herself”. Ya, waktu berkualitas antara dia dengan dirinya sendiri. Semisal, ada perempuan yang nyalon dan perawatan, ada laki-laki yang menyalurkan hobinya, ada orang yang berkumpul dengan komunitasnya, dan lain sebagainya. Ada orang yang meluangkan waktu khusus untuk itu semua di waktu tertentu, semisal weekend atau hari libur atau lain sebagainya; ada juga orang yang mencicil waktu-waktu tersebut di setiap harinya. Kaya gue gini contohnya.

 

Di dalam peran ini, gue berupaya untuk melakukan apa yang gue mau. Semisal: bermusik, baca buku, nulis blog, main game, ketemu orang untuk diskusi, belajar banyak hal via internet, atau sekedar leyeh-leyeh menatap langit. Memang, ga jarang gue baru tidur setelah hari telah berganti. Tapi ya itu semua adalah konsekuensi demi menikmati waktu untuk diri sendiri.

 

Jadi sederhananya, dalam sehari gue membagi waktu ke dalam 3 peran: sebagai ayah, sebagai karyawan, dan sebagai diri sendiri. Pertanyaannya, bagaimana dengan peran sebagai manusia yang notabene adalah hamba Allah?

 

Well, menikah itu bagian dari sunnah, dan berkeluarga itu ibadah. Bekerja untuk mencari nafkah, itu ibadah. Belajar dan menuntut ilmu juga itu ibadah. Ditambah jika semua aktivitas diawali dengan Bismillah dan dilakukan semata demi mencari ridho Allah, insya Allah itu semua adalah ibadah. Jadi, gue ga punya waktu khusus untuk berperan sebagai hamba Allah, karena di setiap detik nafas yang kita hembus, kita adalah hamba Allah.

 

Bagaimana dengan weekend atau hari libur? Mirip dengan hari-hari biasa, hanya saja porsi antara peran sebagai ayah dengan peran sebagai karyawan agak dibalik. Di pagi hari sebelum anak-anak pada bangun atau di malam hari setelah anak-anak udah tidur, gue berupaya menyempatkan diri untuk menanggapi hal-hal terkait pekerjaan. Sebagai karyawan di bagian Human Capital, gue harus selalu siap siaga jika sewaktu-waktu ada karyawan yang bertanya-tanya. Ya itu udah konsekuensi lah ya, dinikmatin aja.

 

Sisanya, gue lebih banyak menghabiskan waktu dengan berperan sebagai ayah, atau berperan sebagai anak, atau berperan sebagai bagian dari masyarakat. Peran sebagai anak, maksudnya kadang kita mau jalan-jalan sama orang tua, ya udah jalan aja. Atau sekedar ngajak anak-anak main ke rumah orang tua. Sementara peran sebagai bagian dari masyarakat, kadang kita sekeluarga jalan keliling sekitaran rumah, selain untuk ngajak anak jalan-jalan juga untuk say hello sama tetangga-tetangga.

 

Peran sebagai diri sendiri juga tetep ada, dan kecenderungannya ada di penghujung malam di saat anak-anak udah pada tidur. Bahkan kadang kalo bini gue lagi ada jadwal ngajar nari, salah seorang atau kedua anak gue kita titipin ke rumah mertua, jadi gue sama bini gue punya lebih banyak waktu untuk diri kita masing-masing. Salah satunya hasil produknya bisa dilihat di video duet rekaman kita berdua uhehe…

*nb kalo mau liat contoh videonya, ini dia nih:

Di luar itu semua, gue juga berupaya menyempatkan diri untuk berolahraga. Biasanya ada beberapa waktu: pagi hari bisa peregangan-peregangan dulu, sebelum mandi dan berangkat ke kantor (atau malem pas anak-anak udah pada tidur) bisa fitness dulu, sore hari di kantor bisa joging dulu, dan weekend atau libur bisa jalan-jalan sama keluarga ke taman. Tujuan olahraga disini bukan supaya punya badan kurus (karena emang udah kurus) atau punya badan bagus (karena emang udah bagus. Eh?), tapi lebih untuk alasan kesehatan dan produktivitas. Ya, berolahraga memang membuat badan sehat dan yang ga kalah penting, berolahraga justru mampu membuat tubuh lebih rileks dan lebih produktif dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

 

Bagaimana dengan peran-peran lainnya? Kalo ngomongin peran memang ga bakal pernah ada habisnya karena jumlah peran yang ada jelas jauh lebih banyak dibanding jumlah waktu yang kita punya. Untuk itu gue membatasi diri untuk membagi peran sebagaimana yang gue tulis disini aja. Meskipun, ada beberapa peran lain yang pernah gue jalanin namun kini udah gue tinggalin, semisal:

  • Peran sebagai mahasiswa. Pernah ada masa ketika gue sambil kerja juga sambil kuliah S2. Sehingga saat itu peran gue hanya terbagi ke situ aja, dimana gue bahkan ga punya peran untuk menjadi bagian dari pergaulan anak muda pada umumnya.
  • Peran sebagai bagian dari komunitas. Waktu anak gue baru satu (dan istri gue juga baru satu. Ups…), gue lumayan eksis di beberapa komunitas ke-relawan-an. Sampai bela-belain ngajar dan berbagi ilmu ke pelosok daerah selama berhari-hari. Tapi setelah anak gue nambah jadi dua, dengan sangat terpaksa peran ini harus gue hilangkan dulu untuk sementara waktu. Kan anak gue juga punya hak atas diri gue, gitu.
  • Peran sebagai bagian dari pergaulan. Well basically gue bukan orang yang suka nongkrong-nongkrong di keramaian bersama sejumlah besar orang untuk berbagi tawa dan cerita. Lihat aja media sosial gue, pasti jarang nemu foto gue lagi kumpul sama temen-temen gue. Jadi peran ini juga sementara gue kesampingkan, meskipun kalo ada undangan ngumpul, nikahan atau makan-makan pasti ga akan gue lewatkan.

 

Hal penting yang perlu gue sampaikan disini adalah, bukan tentang seberapa banyak peran yang kita punya, melainkan seberapa baik kita dalam menjalani setiap peran yang ada. Bisa aja seseorang memiliki puluhan peran. Tapi kalo ternyata dia kelabakan dalam menjalani semua peran itu sehingga hidupnya berantakan, toh buat apa? Perlu disadari bahwa tegas berkata “tidak” untuk hal-hal yang tidak kita butuhkan, adalah tanda dari kedewasaan. Termasuk, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memiliki manfaat di dalamnya. Karena kecenderungannya kita selalu berkata “iya” pada hal-hal yang kita inginkan, padahal bisa jadi itu bukanlah hal yang benar-benar kita butuhkan.

 

Sebagai penutup, sekali lagi kalo lu masih merasa “takjub” dengan seorang gue yang apalah apalah ini, ada beberapa hal yang perlu disadari untuk menjadi manusia “takjub” kaya begini.

 

Pertama, jelas itu karena kehadiran orang-orang di sekitar kita. Mereka yang selama ini telah menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, sehingga kemudahan itu ikut kira rasakan juga. Dengan kehadiran mereka, sebagian beban kita terbagi. Dengan bantuan mereka, kita mampu menyimpan energi untuk melakukan hal-hal yang lebih berarti.

 

Disini, gue rasa gue perlu berterima kasih kepada orang-orang di sekitar gue. Supaya lu perlu tau juga, mereka yang ada di sekeliling gue adalah orang-orang ini:

  • Bini gue. Jelas, beliau telah merawat dan membimbing anak-anak kita (juga suaminya) dengan sangat baik, sehingga sangat jarang gue “diganggu” ketika sedang menjalankan peran gue sebagai karyawan atau sebagai diri sendiri.
  • Pembantu gue. Ini juga jelas, dia telah menjaga kebersihan dan kerapihan rumah dengan sebaik-baiknya sehingga gue dan bini gue ga perlu banyak membuang energi ke sana, yang akhirnya bisa kita salurin ke anak-anak kita atau ke pekerjaan kita masing-masing.
  • Orang tua gue dan mertua gue. Ini pun jelas, karena mereka bersedia kita “repotin” di saat kita sebagai seorang anak butuh bantuan dan bimbingan dari orang tua. Juga, kan mereka yang telah membuat dan membentuk kita hingga sekarang jadi kaya gini.
  • Rekan kerja. Ini yang paling jelas, karena dalam satu hari, sebagian besar hidup kita pasti dihabiskan di tempat kerja. Jadi memiliki rekan kerja yang luar biasa jelas adalah suatu anugerah, karena sekali lagi energi kita bisa dijaga untuk ga dihabiskan di tempat kerja semata.

 

Coba lihat orang-orang di sekitar lu. Apakah mereka adalah orang-orang luar biasa yang juga mampu membuat diri lu menjadi pribadi yang luar biasa? Kalo jawabannya adalah “iya”, ya bagus, Alhamdulillah. Kalo jawabannya “tidak”, well, itu jelas bukan salah mereka. Itu salah lu sendiri! Loh kenapa gitu? Ya karena mereka adalah cerminan dari diri lu sendiri. Kalo lu ingin dikelilingi oleh orang-orang yang positif, maka pertama-tama lu harus membuat diri lu positif dulu. Maka, ke-positif-an itu akan menular dan mereka akan mendatangi lu dengan sendirinya.

 

Kedua, pada akhirnya semua kembali lagi kepada ridho Illahi. Kewajiban yang kita punya jelas jauh lebih banyak dibanding waktu yang kita miliki. Tinggal, apakah kita mampu membuat setiap detik dan setiap peran yang kita punya menjadi penuh dengan keberkahan. Mungkin ada orang yang aktivitasnya banyak, tapi dia menjalaninya dengan semangat dan senang hati, sehingga hari-harinya selalu berkah. Di sisi lain mungkin juga ada orang yang aktivitasnya sebenarnya sedikit, tapi entah mengapa dia selalu uring-uringan dan menemukan banyak kesulitan di dalam menjalaninya. Mungkin, dia kurang diberikan keberkahan dalam setiap detik yang dia miliki. Dan keberkahan itu penyebabnya dari kita sendiri: kalo kita menghabiskan waktu untuk hal-hal yang jauh dari keberkahan (misal: ngegosipin orang atau melototin satu-persatu postingan Lambe Turah), jangan heran kalo setiap detik kehidupan kita pun akhirnya jauh dari keberkahan.

 

Dan, jangan lupa untuk senantiasa bersedekah. Sedekah itu menolak bala. Jadi kalo kamu mau hidup kamu dijauhkan dari bencana, malapetaka dan hal-hal yang buruk, gih coba deh perbanyak sedekah. Ga perlu bingung mau sedekah ke siapa, kasih aja ke orang yang biasa kamu lihat dan kamu temui sehari-hari.

 

Ketiga, yah namanya juga media sosial. Lu ga mungkin kan posting hal-hal yang buruk terkait diri lu di media sosial? Kecuali lu adalah golongan alay-galauers yang doyan posting keluh kesah di media sosial, pasti isi media sosial lu cuma hal-hal yang “mencitrakan” nilai-nilai positif lu aja. Gue ga bohong, begitupun gue. Banyak hal-hal negatif yang gue alamin atau gue lakuin, dan jelas itu bukan konten yang bagus untuk media sosial (kecuali kalo lu fakir followers sehingga dengan gampangnya memposting berita-berita dan hal-halnegatif). In short, media sosial itu menyilaukan; karena yang terjadi di dunia nyata jelas ga semuanya bisa dilihat melalui dunia maya.

 

Itu kiranya beberapa hal yang bisa gue bagi disini. Tulisan ini sendiri gue tulis pada saat gue menikmati peran sebagai diri sendiri, di tulis di kantor (karena gue lagi nginep) pada pukul 01.55 dini hari, berteman laptop, secangkir Energen, dan buku Segenggam Iman Anak Kita karya M. Fauzil Adhim. Semoga apa yang ditulis disini bisa bermanfaat, dan semoga kita semua sama-sama diberikan keberkahan menjalani setiap detik dan setiap peran di dalam kehidupan kita.

 

Jakarta, 17 Februari 2017, 01:56

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s