Melawan [Hoax] Fitnah

Sebagai seorang yang cenderung introvert, apatis, sinis dan agak sarkastis, gue termasuk salah seorang yang bersikap “masa bodoh” terhadap apa-apa yang terjadi di dunia maya. Sekalipun gue bekerja di salah satu industri digital, tapi hal itu ga berarti membuat gue melek dengan dunia digital. Kecuali Digital Monster a.k.a Digimon yang jadi idola para anak lelaki termasuk gue di masa muda, dunia maya dan dunia digital saat ini ga begitu menarik buat gue ikuti.

 

Segala hal yang terjadi dan populer di dunia maya, gue sama sekali tutup mata. Gue ga kenal siapa itu Bayu Skak atau Ria Riciz sampe mereka mampir ke kantor gue. Gue ga peduli apa yang mau dilakuin sama Awkarin, Anya Geraldine, Young Lex, atau para anak muda kreatif-tapi-ga-jelas lainnya. Gue juga bodo amat mau ada demam PPAP, Om Telolet Om, Mannequine Challenge, atau apalah itu namanya.

 

Termasuk juga dengan berita-berita yang beredar di dunia maya. Memang, katanya dengan internet maka segala informasi bisa kita cari. Mulai dari stalking kehidupan mantan sampai ke konspirasi bumi datar. Mulai dari informasi tentang kehebatan ASI sampai gosip artis terkini. Semua informasi terpampang di dunia maya. Katanya.

 

Begitupun dengan banyaknya kejadian yang terjadi sekitar setahun belakangan, banyak media dan portal informasi yang mulai bertebaran. Mulai dari blog pribadi sampai situs resmi. Mulai dari yang menyanjung dan memuji hingga yang memfitnah dan mencaci maki. Tapi sekali lagi, gue tetap pada ke-apatis-an gue: bodo amat dengan apa yang terjadi di dunia maya.

 

Yang paling sering muncul adalah berita-berita yang -sebut saja- ga jelas. Dibombardir dengan judul yang menarik dan kontroversial, tapi isinya ga jelas maknanya. Ada yang isi beritanya sebenarnya cuma satu-dua kalimat, tapi supaya trafficnya tinggi terus dipanjang-panjangin jadi belasan paragraf, dengan page yang dibuat berbeda-beda. Ada yang beritanya sebenarnya cuma itu-itu aja, tapi diposting beberapa kali dengan judul yang berbeda-beda. Yang lebih parah adalah yang beritanya diragukan keabsahannya, tapi diposting dengan judul yang cetar membahana.

 

Dengan segala ke-awam-an (atau lebih tepatnya ke-masa bodoh-an) gue terhadap dunia digital, gue menyebut situs-situs tersebut sebagai situs “murahan”. Murah karena menggunakan cara-cara murahan demi meningkatkan traffic. Kualitas? Ah itu nomor sekian. Validitas? Apalagi itu, bodo amat itu mah. Yang penting traffic rame, iklan kenceng, terus duit masuk deh. UUD. Ujung-Ujungnya Duit.

 

Sekali lagi, bodo amat dengan itu semua. Mau ada berita apa di dunia maya, bodo amat. Mau nama situsnya pake nama yang “seakan meyakinkan”, bodo amat. Sayang aja kalo mau buang-buang energi hanya untuk membuktikan validitas isi berita itu. Juga, termasuk buang-buang energi walau hanya sekedar mampir ke situs-situs itu dan membaca apa yang tertulis di dalamnya. Bagimu duniamu, bagiku duniaku. Kalo ditanya kenapa gue ga begitu tertarik dengan dunia maya, jawabannya sederhana: karena dunia nyata jelas jauh lebih menarik.

 

Sampai pada akhirnya, para portal informasi ga jelas itu mulai membuktikan ke-tidak-jelasan-nya. Ada suatu kejadia dimana secara serampangan mereka memelintir, memfitnah, dan mempublikasikan tuduhan yang tidak berdasar terhadap suatu hal yang gue tau betul kebenarannya seperti apa. Awalnya gue ga pernah peduli dengan validitas isi berita mereka. Tapi dengan kejadian tersebut, semakin membuktikan bahwa situs-situs murahan itu memang benar-benar murahan. Murah.

 

Yang terjadi adalah, mereka hanya mengambil sepotong dari keseluruhan bagian. Kemudian dari yang sepotong itu, mereka taburkan dengan bumbu-bumbu beracun dan dikaitkan dengan isu-isu populer yang sedang berkembang. Kemudian tanpa pernah mengkonfirmasi atau mengklarifikasi sediktpun, dengan pongahnya mereka langsung mempublikasikan itu semua di situs-situs murahan mereka. Yang langsung diikuti oleh para situs murahan lainnya. Tanpa butuh waktu lama, sesuatu yang lebih kejam dari pembunuhan telah terjadi: fitnah tersebar dimana-mana.

 

Segalanya menjadi viral: fitnah itu tersebar luas. Sekali lagi, entah apa tujuannya. Mungkin seperti yang kita semua duga: yang penting traffic rame, iklan kenceng, terus duit masuk deh. UUD. Ujung-Ujungnya Duit. Duit yang diperoleh dari fitnah. Duit yang diperoleh dari cara yang dzalim.

 

Pada akhirnya, pihak yang terkena fitnah terkait harus bekerja keras melapor kepada pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan kepada si para pelaku fitnah, karena kenyatannya tidak seperti yang diberitakan. Juga melakukan konfirmasi dan klarifikasi dengan cara yang halus dan sopan untuk meminimalisir fitnah yang sudah terlanjur tersebar. Tak lupa, juga membuka silaturahmi dengan para penebar fitnah.

 

Akhirnya, para penebar fitnah mengerti, dan beberapa mengklarifikasi serta meminta maaf. Tapi kita semua kan tau, paku yang telah menancap di tembok, ketika pakunya telah diambil, temboknya akan tetap berlubang. Begitupun fitnah yang telah tersebar.

 

Kejadian ini bukan berarti akan membuat gue menjadi “lebih tertarik” dengan dunia maya. Ga ada yang berubah: silahkan situs-situs/akun-akun ga jelas itu bercuap-cuap dengan congornya, gue tetap hanya akan memposting foto-foto hasil jepretan gue di sosial media. Silahkan para portal informasi itu menyebar berita seenak jidatnya, gue tetap hanya akan bertanya kepada ahlinya jika membutuhkan suatu fatwa.

 

Sebagai seorang yang masih memiliki hati nurani walaupun hanya seberat dzarrah, gue hanya tertarik akan satu hal: bahwa fitnah tersebar dimana-mana. Bahwa dunia maya, khususnya para situs-situs murahan itu, menjadi penyebar fitnah yang utama. Dimana hal ini memberikan sebuah pekerjaan rumah yang teramat besar: bahwa kita bukan sekadar melawan hoax, melainkan melawan fitnah.

 

Bojonegoro, 17 Januari 2017, 14:16

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s