Setelah Kematian Begitu Dekat

Rabu, 11 Januari 2017 di Stasiun Gambir, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Gue dan keluarga gue, termasuk orang tua gue dan keluarga kakak gue udah duduk manis di dalem kereta Sembrani yang akan membawa kita ke pedalaman Jawa Timur.

 

Ini pertama kalinya anak gue yang kedua, si Laras, jalan-jalan pake kereta. Kalo anak yang pertama, si Ajeng, dulu udah pernah naik kereta ke Jawa Timur waktu umurnya pas 1 tahun. Juga udah pernah naik pesawat ke Banjarmasin, seminggu setelahnya. Jadilah ini pertama kalinya gue ngajak Ajeng dan Laras naik kereta untuk pulang kampung nengokin buyutnya yang Alhamdulillah sampe detik ini masih diberi umur.

 

Di kereta, kita pesen 8 kursi: orang tua gue berdua; kakak gue sama anak laki-lakinya; bini gue sama Ajeng (kalo Laras masih bisa dipangku), dan gue berdua sama kakak ipar gue. Meskipun realitanya si Ajeng sama anak laki-lakinya kakak gue, sebut saja namanya Aldebaran, suka pindah-pindah kursi: menclok sana-menclok sini.

 

Setelah seharian ngantor dari pagi dan sorenya langsung berangkat ke Gambir, ekspektasinya di kereta ini gue bisa tidur dengan tenang. Since ini udah kesekian puluh kali (bahkan mungkin ratusan kali) gue pergi lintas Jawa naik kereta malam yang jugijagijugijagijug, jadi bukan hal yang susah buat gue tidur di kereta.

 

Itu kan ekspektasinya. Realitanya?

Bocah-bocah pada main di dalem kereta
Bocah-bocah pada main di dalem kereta

Anak gue yang biasa tidur dengan lampu dimatiin, karena di kereta ini lampunya terang banget dan ga mungkin dimatiin, jadilah dia semaleman ga tidur-tidur. Si Laras yang baru berumur 6 bulan emang belom bisa ngapa-ngapain sih, cuma butuh digendong dan diajak ngobrol doang: ngobrol ngomongin isu-isu politk yang lagi hangat (eh?). Sementara si Ajeng yang udah berumur 23 bulan, udah lincah lompat-lompatan kesana-kemari. Meramaikan gerbong yang gue duduki.

 

Waktu udah menunjukkan pukul 11 malam, tapi masih aja ini bocah-bocah pada asik main: teriak-teriak, lari-larian, grasak-grusuk, dan lain sebagainya. Sementara kita-kita yang udah pada berumur matanya udah tinggal 2.367 watt, manut-manut aja ngeladeninnya.

 

Awalnya sempet agak emosi juga sih. Ini udah lewat jam tidur tapi masih aja pada pecicilan. Kalo di rumah, normalnya jam 8-9 mereka udah pada tidur. Tapi ini udah jam 11 lewat. Dan kita juga pada letih karena seharian abis kerja di kantor.

 

Tapi, di balik segala emosi dan keletihan yang menimpa, sejatinya ada satu hal yang patut disyukuri. Bukan cuma satu, tapi banyak sih sebenernya. Apa aja tuh?

 

Dua hari sebelomnya, gue baru aja mengalami near-death experience alias pengalaman mendekati kematian. Well agak lebay sih, tapi gapapa lah ya biar kaya portal berita masa kini yang suka berlebih-lebihan dalam memberi judul. Kalo mau tau near-death experience nya kaya gimana, silahkan bisa mampir baca dulu disini: https://ckinknoazoro.com/2017/01/18/ketika-kematian-begitu-dekat/

 

Selepas dari kejadian itu, sejatinya gue menyadari bahwa Zat Yang Maha Besar itu bisa aja mencabut nyawa kita kapanpun Dia mau. Dia tinggal berkata jadi, maka terjadilah. Namun sebaliknya, Alhamdulillah sampai detik ini gue masih diberi kesempatan untuk bernafas. Kesempatan untuk membuka mata. Kesempatan untuk berpijak di atas bumi. Termasuk, kesempatan untuk berkumpul kembali bersama anak dan istri.

 

Sehingga, ketika malam ini gue masih “dipaksa” untuk meladeni berbagai permintaan anak gue di atas kereta malam yang bergerak menuju Timur ini, seharusnya gue bersyukur. Sama sekali ga ada alasan untuk mengeluh, emosi, atau apalah itu. Cukup bersyukur, udah itu aja. Kenapa bersyukur? Karena artinya gue masih diberi kesempatan untuk bermain-main dengan anak-anak gue. Masih diberi kesempatan untuk meliha canda tawanya. Masih diberi kesempatan sekali lagi untuk menatap matanya dan tertawa bersama.

 

Seketika semuanya menjadi berubah. Letih yang mendera, berubah menjadi perasaan syukur semata. Emosi yang membuncah, berubah menjadi kebahagiaan yang indah. Seberapapun keselnya, jelas ini semua masih lebih membahagiakan, karena masih diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama; bukan untuk dihabiskan sendiri di kungkungan tanah pemakaman, dengan malaikat yang datang menanyakan siapa Tuhan kita.

 

Pada akhirnya, kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi adalah rezeki. Memiliki pasangan yang membahagiakan diri adalah rezeki. Memiliki keturunan yang menyenangkan hati adalah rezeki. Dan menghabiskan waktu bersama mereka semua adalah rezeki. Dengan itu, tidak ada alasan lagi untuk mengeluh, apalagi emosi. Karena hidup ini, hanya satu kali.

 

Bojonegoro, 17 Januari 2017, 20:55

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s