Ketika Kematian Begitu Dekat

Senin, 9 Januari 2017 di Bandara Internasional Minangkabau, waktu menunjukkan pukul 7 malam. Gue melangkahkan kaki menuju pesawat yang akan membawa gue ke Jakarta. Duduk di tempat favorit gue yaitu di deket pintu darurat (soalnya kakinya lega), karena ga bisa tidur akhirnya gue menghabiskan +- 2 jam perjalanan di atas pesawat untuk baca buku karangan Toshinori Kato berjudul Otak Ideal.

 

Sekitar 2 jam pesawat mengudara, akhirnya cabin crew memberikan pengumuman bahwa pesawat akan segera mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Waktu menunjukkan pukul 21.03 dan tidak ada perbedaan waktu antara Padang dan Jakarta. Gitu katanya. Lampu kabin dimatikan dan gue meletakkan buku Otak Ideal ke laci bangku, menunggu detik-detik pendaratan pesawat.

 

Pesawat mulai terbang rendah, ditandai dengan telinga gue yang selalu sakit setiap kali naik pesawat khususnya pas pesawat menurunkan ketinggiannya dan siap-siap untuk mendarat. Kapal-kapal yang biasa bermuara di Teluk Jakarta sudah mulai terlihat, tinggal menunggu waktu sampai pesawat membuka roda dan mendarat di landas pacu bandara.

 

Tapi ketika ketinggian pesawat sudah cukup rendah dan Pak Pilot sudah berancang-ancang untuk mendarat, tiba-tiba pesawat menabrak sekumpulan awan. Bukan awan biasa, tapi awan gelap yang disertai petir kencang. Mungkin Jakarta sedang dihantam badai, sebagaimana Gubernurnya yang juga sedang dihajar sana-sini (eh?). Saking gelapnya, gue yang duduk di sisi jendela pintu darurat pun sampe ga bisa melihat bagian sayap pesawat. Cuma lampu kelap-kelipnya yang keliatan samar-samar. Dan sesekali ada cahaya kilat yang menggelegar. Gelap banget dah pokoknya, mirip-mirip sama Yudha Keling. Dan pesawat berguncang kesana-kesini. Ga begitu keras sih guncangannya, tapi itu kan yang kita rasain di dalam pesawat. Mungkin kenyataannya pesawat udah terombang-ambing di dalam awan sejauh belasan meter.

 

Melihat kondisi yang ga memungkinkan, Pak Pilot menaikkan kembali ketinggian pesawat. Terasa dari kondisi pesawat yang berubah haluan. Ga mendadak sih, tapi selaku orang yang udah puluhan (bahkan mungkin ratusan. Thanks to Pabrik Karet yang membuat gue pernah setiap minggu harus dinas ke luar Pulau Jawa) kali naik pesawat dari dan ke Soekarno-Hatta, kerasa aja kalo moncong pesawat mulai naik lagi untuk menghindari kumpulan awan gelap. Ga jadi deh kita mendarat.

 

Pesawat berputar-putar selama beberapa waktu di langit Jakarta, mengambil ancang-ancang untuk kembali mendarat. Setelah beberapa waktu, akhirnya pesawat menemukan rutenya untuk mencoba mendarat kembali. Pak Pilot mulai menurunkan ketinggian pesawat dan sekali lagi, kapal-kapal yang berlayar di Teluk Jakarta kembali terlihat.

 

Semua seakan berjalan mulus hingga tiba-tiba awan gelap yang dulu hinggap lambat laun mulai terungkap… Eh itu mah lagunya Iwan Fals ya. Maksudnya awan gelap bercampur petir yang tadi menghadang, kali ini pun demikian. Pesawat mulai bergoncang kesana-kemari. Tapi ga seperti sebelumnya dimana Pak Pilot menaikkan ketinggian pesawat, kali ini gue merasa Pak Pilot mencoba untuk menembus awan ini. Terdengar bunyi mesin pesawat semakin keras, pertanda Pak Pilot lagi berakselerasi menembus kepekatan awan.

 

Entah berapa lama pesawat berjalan melintasi awan, mungkin cuma sebentar, tapi terasa lama banget bagi gue dan ratusan penumpang lainnya di pesawat ini. Akhirnya perlahan awan gelap sudah mulai hilang. Ketinggian pesawat sudah cukup rendah, dan ketika gue melihat ke arah luar jendela…

 

…WHAT??? LANDAS PACUNYA ADA DI SEBELAH SANA…!!!

 

Bandara Internasional Soekarno-Hatta emang punya 2 landas pacu, tapi bukan itu yang gue maksud. Landas pacu yang harusnya menjadi tempat pesawat gue mendarat, ternyata bergeser puluhan meter di sebelah kanan pesawat gue (karena gue duduknya di sisi jendela sebelah kanan). Sebenernya bukan landasannya yang bergeser, tapi pesawatnya yang bergeser dari posisinya karena terhempas awan. Sementara ketinggian pesawat udah cukup rendah, se-rendah Raditya Dika. Akhirnya Pak Pilot berupaya sekuat tenaga menerbangkan kembali pesawat, dan dari dalam pesawat gue bisa melihat pesawat ini terbang persis diatas Terminal dan Peron Penumpang.

 

Pesawat kembali mengudara, menembus kembali awan gelap. Samar-samar dibalik suara mesin pesawat dan kilatan petir, gue mendengar suara-suara penumpang yang mulai berdzikir. Segala jenis dzikir keluar dari mulut penumpang. Ada beberapa juga yang terdengar berdoa. Untung aja gue ga denger ada penumpang yang bikin pengakuan dosa, semisal dia mohon ampun karena telah bersetubuh dengan kambing tetangga, atau mohon ampun karena pernah coli pake pertamax, dan sebagainya.

 

Situasi terasa mencekam. Semua film horor dan thriller yang pernah gue tonton mendadak menjadi ga ada apa-apanya. Mau itu Rumah Dara, Paranormal Activity, The Ring, Fifty Shades of Grey, Original Sin maupun Basic Instinct, lewat semua. Pesawat berputar-putar di angkasa, kali ini cukup lama. Dan entah kenapa sepanjang itu juga yang ditemui hanya awan gelap bercampur cahaya petir. Sehingga yang muncul di kepala gue malah film-film seputar kecelakaan pesawat macem Flight-nya Denzel Washington atau Con Air-nya Nicolas Cage, atau American Pie. Loh kok American Pie?

 

Pada saat itu, di kepala gue hanya ada 3 kemungkinan:

 

  1. Dalam kondisi gelap dan pesawat berputar-putar seperti ini, maka pesawat gue akan menabrak atau ditabrak pesawat lain. Terlebih ini di atas Bandara Internasional Soekarno-Hatta dimana pesawat yang menunggu antrian mendarat juga suka berputar-putar di atas pesawat. Hal ini nyaris kejadian (bukan nyaris sih, tapi gue nya aja yang parno duluan) ketika tiba-tiba di sisi kanan agak atas dikit dari pesawat gue muncul kelap-kelip cahaya dari pesawat lain. Awalnya gue kira si pesawat ini terbang mengarah ke pesawat gue, tapi setelah gue perhatiin dengan saksama ternyata dia berjalan beriringan sejajar dengan pesawat gue. Mungkin mereka juga mengalami masalah yang sama: kesulitan untuk mendarat.

 

  1. Dalam kondisi pesawat berputar-putar dalam waktu lama seperti ini, maka pesawat akan kehabisan bahan bakar dan kita semua akan terjun bebas: entah itu di Laut Jawa atau di Pedalaman Baduy. Hal ini juga nyaris kejadian (sekali lagi bukan nyaris, tapi gue udah parno duluan) ketika tiba-tiba setelah awan gelapnya menghilang, dari jendela gue meliihat pesawat udah berada ga begitu jauh dari permukaan air laut! Setelah dag dig dug der selama beberapa saat, ternyata setelah gue lliat lagi itu bukan permukaan air laut melainkan tetesan air hujan yang bergerak di kaca jendela. Jadi sebenarnya yang basah itu jendelanya, tapi karena gelap dan berangin, jadi seakan-akan air hujan itu bergerak dan mencerminkan air laut berada ga jauh di bawah kita.

 

 

  1. Pada akhirnya pesawat harus mendarat di bandara terdekat, entah itu di Bandung, di Lampung, atau di Citayem. Sebagaimana yang sering kejadian waktu masih kerja di Pabrik Karet dimana kalo gue mau ke Jambi sementara disana lagi banyak asap sisa kebakaran hutan, maka pesawat bakal didaratkan secara paksa di Palembang atau di Batam.

 

Sekali lagi, entah berapa lama pesawat berputar-putar di udara setelah percobaan mendara yang kedua kalinya tadi gagal. Gema asma Allah membahana di kabin pesawat. Situasi benar-benar menegangkan, lebih menegangkan dibanding saat gue harus berbicara satu lawan satu sama Bapaknya bini gue waktu dulu mau ngelamar. Juga lebih menegangkan daripada bini gue yang biasa bikin gue tegang. Eh?

 

Pada saat itu, yang bisa gue lakukan hanya berpasrah kepada Zat Yang Maha Berkehendak. Dia yang berkehendak membuat cuaca. Dia juga yang berkehendak untuk mendaratkan pesawat, entah dengan mulus atau dengan tubrukan. Dan malam ini Dia “menitipkan” nyawa seluruh penumpang pesawat ini di tangan Pak Pilot dan asistennya.

 

*OOT dikit. Kalo mau baca sekilas terkait “menitipkan” nyawa di tangan pengemudi, silahkan bisa baca disini ya https://ckinknoazoro.com/2016/01/04/30haribercerita-hari-4-supir/

 

Seandainya itu terjadi, dan umur seekor C-Kink sudah harus berakhir di angka 28, maka ya udah terjadilah. Tabungan pahala gue mungkin ga banyak, tapi yang jelas tabungan dosa gue udah teramat banyak. Dan pada saat itu, segala macam harta benda bahkan tahta dan jabatan yang gue punya sama sekali ga bisa menolong. Mau bertobat atau beribadah pun juga sudah telat. Dalam detik-detik yang menentukan, satu-satunya yang saat itu bisa gue lakukan adalah sama dengan penumpang lainnya: berdzikir. Semoga ada remah-remah pahala yang bisa gue raih dari sekian detik yang tersisa ini. Juga, semoga ada secuil dosa yang terhapus walau hanya seberat biji dzarrah.

 

Yang terbayang di kepala gue saat itu cuma wajah bini gue. Dih, giliran mau mati aja baru inget istri uhehe… Juga wajah anak gue dua-duanya. Jika memang gue ga ditakdirkan untuk melihat anak gue tumbuh dan berkembang, ya udah. Jika memang keberangkatan gue ke Padang 4 hari sebelumnya adalah hari terakhir dimana gue meilhat senyuman bini gue, ya udah. Juga wajah kedua orang tua gue, yang ternyata harus gue dahului. Dan wajah sodara-sodara serta kerabat-kerabat yang sudah “beristirahat” lebih dulu, bahwa pada akhirnya gue akan segera menyusul mereka.

 

Gue ga sendirian di pesawat itu. Persis di sebelah kiri, ada sohib gue di kantor, sebut saja namanya Hamdan (hampir mirip nama sebenarnya), yang dikenal sebagai Om-Om Cabul di kantor. Juga ada 4 orang lainnya yang duduknya terpisah. Tapi seandainya semua itu terjadi, gue agak ga rela gitu kalo wajah terakhir yang gue liat sebelom berjumpa malaikat maut adalah wajah si Hamdan ini. Apalagi kalo jasad kita berdua ditemukan sedang berpelukan. Hiii… Emang akika cowo apaan bow?

 

Pada akhirnya, apapun yang terjadi, insya Allah gue sudah siap. Jiwa ini adalah milik Allah, dan semuanya akan kembali kepada Allah. Mungkin Allah hendak mengabulkan doa gue yang sudah seringkali gue panjatkan sedari dulu dan baru beberapa hari terakhir gue posting di Facebook, yang bunyinya begini:

Mungkin, cita-cita ini akan segera terkabul
Mungkin, cita-cita ini akan segera terkabul

 

Setelah dihantui pikiran kesana-kemari, akhirnya pesawat mulai mengambil ancang-ancang lagi dan mulai menurunkan ketinggiannya. Kapal-kapal yang berlayar di atas Teluk Jakarta kembai terlihat. Setelah cukup rendah, si awan gelap kembali menghampiri. Kali ini Pak Pilot tetap berupaya menembus pekatnya awan sembari mempertahankan posisi. Pesawat bergoncang menembus awan, dan setelah sekian lama akhirnya awan itu hilang dan menampilkan lampu malam gemerlap kota Jakarta.

 

Pesawat semakin terbang rendah, dan gue bisa melihat jalan perimeter bandara di luar jendela. Pesawat terbang lebih rendah lagi, dan gue ga menemukan ada landas pacu di sisi kanan pesawat. Akhirnya dengan segenap doa dan upaya serta dilakukan dalam waktoe dan tempo jang sesingkat-singkatnja, pesawat mendarat dengan selamat di atas landas pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Takbir dan Puji Syukur menggema di dalam pesawat, bersamaan dengan dinyalakannya lampu kabin. Dan gue pun bertukar senyum dengan Hamdan: senyum menggoda disertai kedipan nakal dan lidah yang menjulur-julur. Slruuuppp…

 

Persis setelah pesawat taxi dan mulai merapat ke garbarata, gue menyalakan smartphone XiaoMi yang dibeli 1 tahun lalu di Bukalapak pas ada Harbolnas tahun 2015 dengan diskon 12% + 12%, dimana gue cuma perlu bayar sekitar 1.3 juta rupiah dari harga aslinya yang sekitaran 1.9 juta rupiah (ehem numpang promosi dikit). Waktu menunjukkan pukul 22:10. Artinya sudah 1 jam sejak cabin crew mengumumkan informasi pendaratan pesawat, dan selama itu pula pesawat berputar-putar di langit Jakarta, mencoba mendarat dan baru berhasil setelah percobaan yang ketiga.

 

Alhamdulillah para penumpang akhirnya bisa keluar pesawat dengan selamat tanpa kekurangan apapun, bahkan malah ketambahan spirit keimanan dan ketakwaan berlebih, karena selama 1 jam terakhir tak henti-hentinya menyebut asma Allah. Sejatinya gue mau mengucapkan terima kasih kepada Pak Pilot dan asistennya yang telah membawa kita dengan selamat, tapi ternyata mereka berdua tetap duduk manis di dalam kokpit, dan hanya para pramugari yang menyambut kita di pintu keluar. Supaya niatnya ga tertukar (antara mau titip terima kasih via pramugari, atau hanya sekedar menggoda si pramugari), akhirnya gue keluar pesawat tanpa mengucapkan sepatah kata kepada pramugari. Tanpa sepatah kata apapun, selain secarik kertas berisi nama dan nomer telpon gue: but here’s my number so call my baby! Ups… Giliran udah selamat aja, lupa lagi kan sama istri!

 

Memang, dalam kondisi seperti ini, nyawa kita sedang “dititipkan” oleh Zat Yang Maha Berkehendak kepada Pak Pilot. Sekali lagi untuk tau cerita lebih detailnya, silahkan bisa klik disini ya  https://ckinknoazoro.com/2016/01/04/30haribercerita-hari-4-supir/

 

Sesampainya di lorong kedatangan, hal pertama yang gue lakukan adalah membuka whatsapp dan memberi kabar ke bini gue kalo gue udah mendarat dengan selamat. Yang dia lakukan selanjutnya adalah mengirim foto anak-anak gue yang ternyata masih belom pada tidur, membuat gue ingin buru-buru pulang ke rumah. Tapi perjalanan masih panjang, karena masih ada jarak antara Cengkareng-Depok yang harus ditempuh.

Anak-anak gue yang masih belom pada tidur
Anak-anak gue yang masih belom pada tidur

 

Singkat cerita, setelah mengambil bagasi, menunggu taksi dan perjalanan pulang ke rumah, akhirnya gue tiba di rumah disambut dengan senyuman manis dari bini gue. Senyuman yang Alhamdulillah masih diberikan kesempatan untuk gue lihat. Senyuman yang hanya bisa gue bayangkan ketika detik-detik kematian datang menghadang.

 

Masuk ke kamar, ternyata kedua anak gue udah pada tidur. Sekali lagi, gue pandangi wajah mereka satu-persatu. Betapa luar biasa nikmat yang diberikan ini, dimana gue masih bisa berkesempatan untuk bertemu mereka lagi.

 

Dan melihat anak gue tidur, gue pun melirik nakal ke arah bini gue. Setelah 4 hari terpisah jarak, maka mumpung anak-anak pada tidur, malam ini gue dan bini gue melakukan apa yang biasa kita lakukan. Ya, kita berdua… …tidur dengan nyenyak sampe pagi. Jangan harap lu berpikir bakal ada adegan begituan, karena malam ini bini gue lagi flek. Uhehe…

 

Bojonegoro, 14 Januari 2017, 14:42

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s