Kurang Sedekah

 

Mungkin ada di antara lu yang merasa atau pernah mengalami kejadian kaya gini: ga ada angin, ga ada ujan, tiba-tiba kena musibah yang mengharuskan untuk mengeluarkan “biaya ekstra”. Bentuknya bisa macem-macem: bisa karena kena penyakit terus harus ke dokter atau beli obat, bisa kehilangan sesuatu (KTP, SIM, dompet dll), bisa karena ada sesuatu yang rusak (handphone, baju sobek, jam rusak, dll), atau apapun, yang intinya membutuhkan biaya ekstra. Entah biaya dalam arti sebenarnya, maupun biaya dari kesempatan yang terbuang, rencana yang berantakan, maupun usaha tambahan yang diperlukan.

 

Gue sering mengalami hal-hal macem gitu. Mulai dari accident di jalan raya sehingga spion mobil rusak dan harus ganti baru sampe sekitar 1.5 jutaan, SIM hilang dan harus bikin baru (which is costly di biaya bikin SIM dan the worst: opportunity lost karena harus ngantri berjam-jam), bracket behel tiba-tiba copot dan harus balik lagi ke dokter gigi, dan lain sebagainya.

 

Akibat itu semua, banyak pengeluaran tak terduga yang mau ga mau harus dikeluarkan. Banyak jam yang harus dikerahkan, dan banyak energi yang harus disaluran. Disaat seharusnya kita bisa melakukan hal lain yang lebih produkti, somehow semuanya terkuras untuk menyelesaikan hal-hal macem gitu.

Pertanyaannya, kenapa itu bisa terjadi? Takdir, ya itu memang salah satu jawabannya. Manusia memang ga bisa menolak takdir, tapi kan manusia sendiri juga ga pernah tau takdir macem apa yang akan menghampirinya. Jadi, manusia punya pilihan untuk memilih takdir kaya gimana yang akan menimpanya.

 

Jadi, sekali lagi, kenapa itu semua bisa terjadi? Well, beberapa kasus memang “sudah waktunya” untuk terjadi. Semisal handphone rusak: kalo pake Blackberry udah 4 tahun lebih dan akhirnya rusak, ya umurnya memang tinggal segitu. Atau kalo harus ganti ban karena udah aus setelah dipake lebih dari 5 tahun, ya memang udah waktunya. Tapi kalo baru beli Nokia 3 bulan terus jebol, atau harus ganti ban padahal baru 2 tahun karena udah keseringan bocor, ya mungkin itu bukan kasus yang “sudah waktunya terjadi”. Mungkin, kita lupa akan satu hal. Apa itu?

 

Satu hal sederhana yang bisa menolak bala tapi banyak orang lupa: sedekah. Mungkin kita terlalu pelit untuk bersedekah sehingga Allah “mencolek” kita dengan berbagai kejadian tadi. Kalo lagi ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba dompet ilang entah kemana, mungkin Allah lagi menegur kita supaya rezeki itu jangan melulu disimpan di dompet dan dihabiskan di perut, tapi juga harus dibagi kepada sesama.

 

Dan buat gue, itu sering kejadian. Seperti ketika gue lagi nyetir mau muter balik eh tiba-tiba ditabrak sama vespa bodong yang mengakibatkan 2 panel di pintu kanan mobil gue hancur dan si penumpang vespa bodong itu kakinya sobek dan harus dijahit, mengakibatkan keluar biaya +- 2 juta untuk servis mobil dan +1 1 juta untuk bayar jahitan plus energi untuk ngurus itu semua. Bisa jadi Allah sedang mengingatkan gue bahwa waktu itu, di bulan itu belom ada sedekah yang gue keluarin. Atau ketika tiba-tiba SIM A gue raib dari dompet dan ga jelas rimbanya, padahal ga pernah ada yang buka dompet gue selain gue sendiri. Mungkin Allah sedang menegur gue karena waktu itu gue terlalu asik dengan diri sendiri dan lupa berbagi rezeki sama lingkungan sekitar.

 

Ga cuma dari lupa sedekah, tapi juga bisa dari adanya rezeki yang ga halal yang kita ambil. Mungkin, suatu waktu kita pernah dalam kondisi lapar dan melihat ada (misal) roti nganggur langsung kita sikat. Padahal ga pake izin dulu sama yang punya roti. Oke, mungkin roti itu cuma seharga +- rp 5.000,-, tapi sekali lagi bukan masalah nominalnya, tapi kehalalannya. Abis itu, perut kita kenyang. Eh tiba-tiba keesokan harinya kemeja kita yang harganya +- rp 50.000,- (beli di ITC) bolong dimakan tikus dan ga bisa dipake lagi. Pernah ngalamin hal serupa?

 

Itu baru contoh kecil mengambil rezeki yang ga halal, berupa roti. Gimana kalo yang diambil bukan cuma roti? Dan setelah mengambil sekian banyak rezeki yang ga halal, kita masih aja protes dan mengeluh karena sering dapat musibah?

 

Kembali lagi, sedekah memang memiliki fungsi untuk menolak bala, selain juga untuk menebarkan rasa cinta. Selagi mampu, selagi masih ada rezeki yang bisa dibagi, somehow ga pernah ada salahnya untuk membagi itu semua kepada lingkungan sekitar kita. Sedekah itu bukan matematika sederhana: ga perlu mikir-mikir berapa persen sedekah yang kita keluarin dibanding rezeki yang kita terima. Langsung aja cuss bersedekah, Insya Allah balasannya bakal berlipat ganda kok. Kalo selama ini udah banyak bersedekah tapi merasa masih gitu-gitu aja juga ga perlu khawatir: balasannya kan ga cuma dikasih di dunia, tapi bisa juga di akhirat sana.

 

Dan kalo lu merasa ga memiliki cukup rezeki untuk bersedekah, anggaplah misalnya lu adalah orang paling (mohon maap) miskin di tempat tingal lu sekarang, juga ga perlu khawatir. Ada kok cara lain untuk bersedekah: Berdzikir.

 

Jakarta, 3 Januari 2017, 21:25

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s