Ojekzone (3): Persetan Dengan Jok Motor

Aku lupa kapan terakhir kali aku berpacaran. Aku juga lupa kapan terakhir kali aku punya pacar. Bahkan seingatku, dari sejak aku dilahirkan dari rahim ibuku, belum pernah sekalipun aku memiliki pacar.

 

Bagiku, berpacaran atau menjalin hubungan dengan perempuan bukanlah hal yang penting. Aku tidak tahu apa esensi dari berpacaran. Aku juga tidak tahu apa nikmatnya pacaran. Aku bingung dengan mereka yang menghabiskan sebagian besar harinya dengan berpacaran. Apa untungnya? Yang mereka lakukan adalah sebuah kesia-siaan; hanya membuang waktu melakukan hal yang tidak berguna, pikirku.

 

Bukan berarti aku lelaki yang tidak normal. Ya, aku normal. Aku bisa membedakan mana perempuan cantik dan mana perempuan yang buruk rupa kurang cantik. Dan aku juga sering melakukan kebiasaan yang umum dilakukan para lelaki jomblo lainnya, kalau kamu tahu apa yang aku maksud. Banyak juga teman-temanku yang mencoba menjodohkanku dengan beberapa perempuan. Tapi sekali lagi, aku masih belum bisa menemukan substansi dari sebuah hubungan antara lelaki dan perempuan dalam wujud pacaran. Untuk apa?

 

Dibanding pacaran, aku lebih menikmati bermain gitar. Jari-jemariku dapat dengan lincah melakukan fingering di atas senar gitar. Aku menikmati setiap alunan yang keluar dari dawai gitarku. Dan kamu tahu, aku dapat mencapai klimaks hanya dengan memainkan nada dengan urutan dan tempo tertentu.

 

Selain bermain gitar, aku juga suka membasmi monster-monster di dunia maya. Ya, kamu benar jika yang kamu maksud adalah game online. Aku bisa duduk manis di depan komputer selama berjam-jam hanya untuk menumpas para monster jahat. Ada kenikmatan sendiri yang kurasakan. Aku merasa bagaikan orgasme ketika jagoanku mampu mengalahkan bos tersulit di setiap tingkatan.

 

Dua hal tersebut sudah cukup bagiku untuk membuang jauh keinginan untuk berpacaran. Yang aku butuhkan hanyalah gitar, komputer dan jaringan internet. Ketika aku memiliki ketiganya, maka lengkap sudah separuh agamaku.

 

***

 

Semuanya berubah ketika perempuan itu datang dan bekerja di kantor ini. Dia satu bagian denganku; sama-sama bertanggung jawab mencari calon karyawan untuk di-akusisi menjadi karyawan di perusahaan ini. Awalnya aku sama sekali tidak peduli dengan kehadirannya sampai tiba-tiba berita menyedihkan itu datang, berita yang bagaikan cerita dongeng pengantar tidur.

 

Lelakinya dijodohkan oleh orang tuanya, dan akan segera melangsungkan pernikahannya. Perjodohan, ternyata juga ada di dunia nyata, dan dia adalah korbannya. Semenjak kejadian itu, aku melihat gurat murung di wajahnya. Aku memang tidak tahu apa yang dia rasakan, lebih tepatnya aku tidak mau tahu dan tidak peduli apa yang dia rasakan. Tapi aku hanya tidak bisa melihat ada wajah murung di sekitarku. Jadi mau tidak mau, aku selalu berusaha menyempatkan diri untuk menghiburnya, di tengah alunan gitar maupun diantara monster-monster dunia maya yang aku tumpas.

 

Sejujurnya ada perasaan yang mengganggu ketika setiap malam aku melihatnya berboncengan naik motor dengan salah seorang rekan kerjaku. Setiap malam, lelaki itu selalu mengantarnya pulang menuju stasiun. Tempat tinggalku memang dekat kantor, dan ya, aku tidak punya motor. Jadi setiap malam aku hanya bisa menggerutu melihat ia naik motor berduaan dengan lelaki itu. Mungkin, inilah yang dinamakan cemburu.

 

Seluruh orang di ruang kerja ini juga gemar mengompori mereka berdua. Berawal dari berduaan di jok motor, selanjutnya akan berlanjut berduaan di tempat lain, begitu celoteh mereka. Tidak bisa bohong, jujur aku mulai membara. Sebelumnya tidak pernah aku merasa berharap kepada seorang perempuan, dan aku tidak ingin harapanku ini hanya sebatas angan-angan. Menaklukkan monster di dunia maya saja aku bisa, masa hanya sekedar menaklukkan bidadari dari cengkraman lelaki lain aku tidak bisa?

 

Ah ternyata akhirnya aku pun dibutakan oleh cinta.

 

***

 

Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku bukan orang yang hanya sekedar berharap dan membiarkan semua harapan sebatas di dalam angan-angan. Beberapa hari lalu akhirnya -untuk pertama kali di dalam hidup- aku menyampaikan perasaanku kepada seorang perempuan. Ya, perempuan itu. Dan kamu tahu jawabannya? Pertanyaan yang mudah, karena jelas dia menerima! Di usia 23 tahun, akhirnya perdana aku memiliki seorang pacar!

 

Yang terjadi selanjutnya sudah kuduga. Lelaki itu, lelaki yang setia mengantarmu setiap malam, menjadi bahan bully-an orang seruangan. Ojekzone, begitu kata mereka. Karena di atas jok motor dia hanya bisa mengantarmu tapi tidak pernah bisa memilikimu. Akulah lelaki yang akhirnya memilikimu; memiliki setiap inci dari tubuhmu.

 

Begitupun denganku. Walaupun aku tahu maksud mereka hanya sekedar gurauan, tapi mereka menuduhku seorang lelaki yang makan teman. Mereka menganggap aku merebutmu dari lelaki itu. Well… Jujur kukatakan, persetan dengan itu semua. Persetan dengan jok motor itu! Persetan dengan persahabatan! Aku ingin memilikimu dan aku tidak ingin ada lelaki lain selain diriku yang memilikimu. Kalau akhirnya lelaki itu bukan menjadi pilihanmu, itu salah dia. Seutuhnya salah dia. Karena dia terlalu pengecut untuk mendatangimu; untuk menyatakan perasaannya kepadamu. Akulah sang lelaki yang akhirnya melakukan itu.

 

Akulah, sang pemenang.

 

***

 

1 bulan sudah berlalu. Kamu sedang dalam perjalanan pulang, dan seperti biasa aku mengizinkanmu untuk menumpang lelaki itu menuju stasiun. Ya, aku masih memiliki logika. Aku memang tidak punya motor, dan dia punya. Dan akan lebih murah meriah jika kamu membonceng padanya daripada menggunakan ojek atau aku meminjam motor seseorang untuk mengantarmu. Jadilah malam ini aku duduk manis di depan komputer menumpas monster-monster jahat, sembari menunggu kabar darimu jika sudah sampai di rumah.

 

Malam telah semakin larut, tapi pesanku kepadamu masih juga belum kamu balas. Biasanya kamu selalu mengabariku ketika sudah naik kereta, atau ketika sudah tiba di rumah. Tapi sudah 2 jam sejak kamu meninggalkan kantor ini dan kamu belum juga memberi kabar padaku. Aku mengirimu pesan sekali lagi dan sembari menunggu balasan darimu aku kembali memberantas monster-monster di dunia maya.

 

Tak lama, handphoneku berdering, dengan namamu tertulis di layar. Aku mengangkatnya, sembari berfantasi dengan suara indahmu. Tapi ternyata di ujung sana bukanlah suaramu, melainkan suara seorang lelaki entah siapa. Dan dia mengabarkanku bahwa pemilik handphone ini, yaitu kamu, saat ini sedang dirawat di Rumah Sakit Daerah dalam kondisi kritis karena baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas.

 

Depok, 26 Oktober 2016, 23:33

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s