Ojekzone (2): Jok Motor Menjadi Saksi

“Apa yang Tuhan tawarkan dari kehidupan ini? Misteri.”*

 

Akhir-akhir ini banyak karyawan baru yang bergabung bekerja di kantor ini. Sebagai perusahaan Start-Up, perusahaan ini memang sedang membutuhkan banyak karyawan. Hampir setiap minggu pasti selalu ada saja karyawan baru. Termasuk 5 orang karyawan baru yang berada 1 divisi denganku. Dan lelaki itu adalah salah satunya.

 

1 minggu pertama, dia duduk malu-malu di pojokan ruangan, di depan laptopnya. Ketika teman seruangan sedang bercanda dan bersenda gurau, dia hanya menatap dari kejauhan. Ketika teman seruangan sedang menertawakan sebuah lelucon, dia hanya duduk manis menatap laptopnya.

 

Namun demikian, setiap malam dia selalu menawarkan tumpangan kepadaku. Rumah kita memang tidak searah, bahkan teramat jauh terpisah. Aku selalu bepergian menggunakan kereta, dan kebetulan rute yang dia lalui melintasi stasiun tempat aku biasa menunggu kereta. Jadilah aku terima tawarannya untuk menumpang dari kantor ke stasiun. Setiap malam. Berboncengan bersama di atas motor bututnya.

 

Aku menganggap semuanya biasa saja. Sampai ketika kabar buruk datang menimpaku: pacarku ternyata harus mengikuti perintah orangtuanya untuk dijodohkan dengan perempuan yang ia sendiri pun belum pernah mengenalnya. Aku kira perjodohan hanya ada di dalam dongeng dan legenda. Tapi ternyata itu terjadi di dunia nyata, dengan aku adalah korbannya.

 

Oke, aku tak ingin menceritakan tentang perjodohan itu disini. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kejadian itu benar-benar menghancuran hidupku. Dan lelaki itu, yang setiap malam menawarkan tumpangan kepadaku, menjadi salah satu pelarianku. Aku tidak berharap apa-apa kepadanya: aku hanya butuh teman bicara di tengah kesedihan yang sedang melanda.

 

Setelah itu, semuanya berubah. Dia bukan lagi lelaki pemalu yang hanya duduk manis di pojok ruangan. Dia kini telah berbaur dengan teman-teman seruangan. Di wajahnya selalu tersungging sebuah senyuman. Dan dia menjalani hari-harinya di kantor ini dengan penuh kebahagiaan.

 

Tapi ada satu yang tidak berubah: jok motor itu. Setiap malam, kita berdua menghabiskan waktu di jok motor itu: sejauh jarak antara kantor dengan stasiun, sedekat jarak dua hati yang saling terikat. Dinginnya hembusan angin malam jelas kita hiraukan, hanya kicauan dari mulutku yang tak bosan-bosannya kau dengarkan.

 

***

 

2 bulan telah berlalu. Kini aku tidak sendiri lagi. Ya, aku telah menerima pernyataan cinta dari seorang lelaki. Lalu apakah kamu tahu, siapa lelaki itu? Jelas, kamu salah besar jika menjawab bahwa lelaki itu adalah lelaki yang setiap malam selalu memberi tumpangan untukku.

 

Di ruangan ini, dia bukan hanya satu-satunya lelaki yang masih sendiri. Ada seseorang yang lebih menarik perhatianku: seorang anak kampung yang lugu, yang gemar bermain gitar sembari menghabiskan waktu bertempur melawan monster-monster di dunia maya. Tampilannya memang cupu, tapi sejujurnya hanya dia yang mampu mencuri perhatianku.

 

Sudah banyak perempuan yang coba didekatkan dengannya, tapi entah mengapa dia selalu cuek saja. Aku tahu, dia bukan lelaki se-cuek itu. Ketika dia menemukan perempuan idamannya, aku tahu dia akan menunjukkan sisi kepribadian yang ramah dan setia. Dan entah apakah ini adalah sebuah pertanda, tapi sisi kepribadian itulah yang dia tunjukkan padaku belakangan ini.

 

Dan ketika dia mengutarakan perasaannya kepadaku, aku bagaikan seorang putri yang dihampiri seorang pangeran berkuda putih: aku tak kuasa untuk menolaknya. Jadilah kini aku resmi tidak sendiri lagi.

 

Namun demikian, di malam hari aku selalu menghabiskan waktu dengan lelaki itu, lelaki yang memberi tumpangan dari kantor ke stasiun. Karena lelakiku tinggal di dekat kantor dan sedang menabung untuk masa depannya, jadilah ia mengizinkanku menerima tawaran tumpangan dari lelaki itu. Lelaki yang kini jarang lagi menyunggingkan senyuman di wajahnya. Lelaki yang hanya bisa menatapku dari atas jok motornya ketika aku beranjak masuk ke dalam stasiun.

 

***

 

1 bulan telah berlalu, dan kini semuanya sudah berubah. Lelaki itu, telah kembali menjadi dirinya yang dulu: duduk seorang diri menatap kosong ke laptop di hadapannya. Tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi kebahagiaan. Seakan-akan hidupnya telah terenggut dari dirinya.

 

Aku bukannya tidak menyadari. Aku menyadari, tapi ya memang inilah yang terjadi. Aku tak tahu seperti apa dia berharap kepadaku, yang pasti jauh lebih besar daripada harapanku kepadanya. Karena aku memang tidak berharap apa-apa kepadanya.

 

Kesedihannya memberiku inspirasi untuk menulis sebuah puisi, sebagaimana kutulis seperti ini:

 

Jadikan aku hanya ilusi malam untukmu//yang tak pernah nyata, tak pernah ada//jadikan aku hanya ilusi malam untukmu//yang bayangannya pun tak pernah nampak//jadikan aku hanya ilusi malam untukmu//yang awalnya mimpi kemudian angan dan akhirnya hanya akan menjadi angin lalu dalam pikiranmu yang sekejap.*

 

Oke, mungkin ini terlihat jahat. Tapi tidak bisa tidak, malam ini akan kusampaikan puisi ini kepadanya, supaya dia tidak lagi berharap apa-apa. Aku ingin dia menjadi lelaki tegar, setegar bunga ilalang yang merindukan angin*. Aku ingin dia mampu bangkit, sebagaimana nama sebuah biskuit.

 

Malam ini, aku kembali duduk di atas jok motornya, menuju stasiun hanya berdua dengannya. Aku mencoba membuka suasana dengan berbagi cerita, tapi aku lihat dia tidak menikmati, apalagi memperhatikan setiap kata yang aku ucapkan. Aku menunggu momen yang tepat untuk datang. Namun sepertinya, momen itu tak akan pernah datang. Karena aku melihat tiba-tiba sebuah truk datang dan menerjang.

 

Jakarta, 24 Oktober 2016, 20:31

 

Note: *featured image, some quotes & poem are credited to https://www.instagram.com/anggitaibey/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s