Ojekzone: Cinta Sebatas Jok Motor

Ojekzone: Cinta Sebatas Jok Motor

 

Sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di ruang kerja ini, cuma kamu satu-satunya perempuan yang mampu membuat mataku tidak berkedip lebih lama. Memang, kamu bukan satu-satunya perempuan di ruangan ini. Tapi sekali lagi, hanya kamu yang mampu menarik perhatianku. Bukan perempuan itu yang hanya doyan berdandan, atau perempuan satu lagi yang sering bertengkar dengan lelakinya, atau perempuan lainnya yang sudah agak berumur dan telah menaklukkan banyak lelaki tapi entah mau dibawa kemana hubungannya.

Aku menjumpaimu dalam keadaan kamu masih sendiri. Bahkan yang aku dengar, kamu sedang berada dalam titik terendah setelah kamu putus dengan lelakimu karena satu alasan konyol: ia dijodohkan oleh orang tuanya. Aku kira cerita perjodohan hanyalah legenda, tapi ternyata itu terjadi di dunia nyata. Dan kamu adalah korbannya.

Guratan wajahmu menyiratkan kesedihan. Aku memang tidak tau pasti apa yang kamu rasakan, tapi aku tau bahwa kamu pasti ingin melawan walaupun berada dalam ketidakberdayaan. Apapun itu, aku hanya ingin kamu tau bahwa aku bersedia untuk hadir menemanimu di dalam kesendirian.

Berawal dari situ, akhirnya perlahan aku mulai bisa mendekatimu. Kita menghabiskan makan siang bersama, saling berbagi cerita. Kita bermain kartu bersama, berbagi tawa. Dan setiap malam aku mengantarmu menuju stasiun, berbagi menikmati dinginnya angin malam.

Rumah kita memang tidak searah. Bahkan, teramat jauh terpisah. Tapi aku tak tau apakah ini adalah sebuah keberuntungan, ataukah Tuhan memang menunjukkan sebuah jalan. Biarpun arah rumah kita berbeda, tapi kamu selalu bepergian menggunakan kereta, dan rute perjalanan pulangku melintasi stasiun yang kamu tuju. Jadilah setiap malam aku mengantarmu ke stasiun dengan motor bututku, berbagi jok bersama.

Ada kalanya aku sudah menyelesaikan pekerjaanku dan bisa pulang lebih awal. Tapi aku memilih untuk tidak melakukannya: aku lebih memilih untuk duduk manis di ruang kerja menunggu sampai kau juga menyelesaikan pekerjaanmu, baru kita pulang bersama. Atau sebaliknya, kamu sudah menyelesaikan pekerjaanmu sementara aku belum. Aku lihat kamu enggan untuk beranjak pulang, dan setelah aku beres dengan pekerjaanku barulah kamu berkemas untuk bisa pulang bersamaku.

Bahkan, di ruangan yang sama ada seorang lelaki yang selalu menawarkan tumpangan kepadamu. Ia membawa mobil dan menawarkan kenyamanan selama perjalanan. Jelas, perempuan anggun sepertimu akan lebih layak jika berkendara dengan mobil, terhindar dari segala kotoran dan debu jalanan yang dapat menodai wajah cantikmu. Tapi ternyata kamu menolaknya; lebih memilih untuk pulang denganku dan motor bututku. Ah, mungkin kamu menolaknya karena lelaki bermobil itu telah beristri dan beranak dua.

Perjalanan dari kantor ke stasiun selalu menjadi saat yang paling menyenangkan selama 1 hari aku bekerja di kantor.  Meskipun aku punya hak untuk bekerja remote, atau untuk tidak masuk kantor ketika sedang tidak enak badan, tapi bagiku itu adalah sebuah kerugian. Tidak masuk kantor berarti aku tidak bisa bertemu kamu. Tidak bertemu kamu berarti aku tidak bisa mengantarmu pulang. Dan tidak mengantarmu pulang berarti tidak ada cerita yang bisa kunikmati malam itu, karena aku sangat merindukan setiap kata yang terucap dari bibir manismu.

Dan jok motor itu, menjadi saksi semua perjalanan kita.

***

2 bulan telah berlalu, dan 2 bulan juga aku telah berbagi jok denganmu. Tapi saat ini aku tak tau apa yang terjadi. Aku masih setia mengantarmu pulang dengan motor bututku, tapi yang aku tidak menduga adalah bahwa ternyata kamu menyambut perasaan lelaki itu! Iya, lelaki yang duduk satu meja denganmu itu ternyata lebih mampu mencuri perhatianmu. Aku tidak tau bagaimana mulanya, yang kusadari hanyalah bahwa belakangan ini kamu sangat dekat dengannya, dan tiba-tiba ia menyatakan perasaannya kepadamu dan kamu menerimanya.

Sebagai seorang lelaki, aku harus tetap tegar. Sebagai seorang lelaki, aku tidak mengizinkan orang lain melihat air mataku mengalir deras, atau orang lain melihat ada lubang yang retak di hatiku. Dan sebagai seorang lelaki, dengan segala kehancuran aku masih mengantarmu pulang menuju stasiun. Setiap malam. Tanpa kamu tau apa yang aku rasakan.

***

1 bulan sudah berlalu sejak kamu dan lelaki itu resmi berhubungan. Dan sudah selama itu pula , sekali lagi kutegaskan, aku masih setia mengantarmu ke stasiun. Lelakimu memang tinggal di dekat kantor, dan dia juga tidak memiliki kendaraan. Biarpun cinta membuat orang lupa segalanya, tapi entah mengapa kalian berdua masih memiliki logika dan realita: lelakimu tidak mengantarmu pulang dan lebih memilih aku untuk mengantarmu, seperti biasa.

Jadilah malam ini, kamu duduk manis di jok belakangku untuk aku antar menuju stasiun. Kamu masih senang bercerita seperti biasa, tapi kali ini aku tidak lagi menikmati setiap kata yang keluar dari bibirmu. Kamu terus mengoceh, tapi aku tidak bisa menangkap apa yang kamu ucapkan. Pikiranku menerawang. Selama ini aku setia mengantarmu pulang, tapi ternyata perasaanmu kepadamu hanya terbatas pada jarak antara kantor dan stasiun. Hanya sebatas pada jok motor. Yah, begitulah…

Kamu terus bercerita tanpa kamu tau aku tidak mempedulikannya. Aku masih melamun di dalam kesendirianku, di dalam sakit hatiku. Dan ketika aku tersadar dari lamunanku, yang kudengar adalah bunyi klakson yang berdengung, bunyi rem yang berdecit dan ada sebuah truk persis dihadapanku sedang melaju cepat ke arahku, bersiap untuk menerkamku.

Depok, 18 Oktober 2016, 08:54

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s