Siswa Titipan

 

Bulan Agustus seharusnya menjadi bulan yang penuh dengan semangat perjuangan. Di bulan ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Di bulan ini, bendera merah putih yang biasanya hanya disimpan di dalam lemari, dapat dilihat berkibar dimana-mana. Orang tua, remaja, sampai anak-anak, semua berkumpul merayakan kemerdekaan. Tapi entah mengapa selalu saja ada pihak-pihak berotak udang yang mencederai semangat perjuangan.

 

Kalo lu eksis baca berita, khususnya seputar dunia pendidikan di kota Depok, tentu udah sering lihat berita seputar siswa titipan di sekolah-sekolah yang ada di Depok. Mulai dari Kepala Sekolah yang ga berdaya sekolahnya dimasukin siswa titipan, Wakil Walikota yang mengamini-tanpa-mampu-menindaklanjuti maraknya siswa titipan, maupun para pejabat busuk yang dengan sadar dan sengaja “menitipkan” orang-orang pilihannya untuk dimasukkan ke dalam sekolah-sekolah tertentu yang disertai dengan berbagai ancaman jika titipannya ga dihiraukan. Tak lupa juga para pecundang yang berupaya menyuap oknum supaya orang-orang pilihannya juga bisa dimasukkan ke sekolah tertentu, meskipun tidak semuanya berhasil; dilihat dari pengakuan mereka yang mengaku sudah menyetor sekian juta tapi anaknya tetap saja belum bisa bersekolah disana.

 

Apa yang salah dengan mereka? Gue rasa lu semua tau jawabannya. Sekolah sebagai institusi pendidikan yang seharusnya bisa membangun generasi masa depan bangsa, malah dirusak oleh mereka kutu kupret yang berpikiran sempit.

 

Kan kita semua tau, teko hanya akan mengeluarkan apapun yang diisi di dalamnya. Kita juga tau, segala sesuatu yang sumbernya ga halal akan mengeluarkan hasil yang jauh dari keberkahan.

 

Kalo anak sekolah aja “dititipkan” untuk bisa masuk ke sekolah tertentu, padahal secara kualifikasi harusnya ga layak, mau jadi apa bangsa ini? Masuk sekolahnya aja dari cara yang ga halal, terus berharap setelah lulus bisa ngasih hasil yang berkah dan bermanfaat bagi semua orang? Inputnya aja udah busuk, gimana nanti outputnya?

 

Entah apa yang ada di dalam isi kepala para pejabat tai kucing itu: minta kuota di sekolah-sekolah tertentu supaya “orang-orang pilihan” mereka bisa merasakan pendidikan di sekolah itu. Dalihnya sih, kuota itu akan dikasih ke orang-orang yang “ga punya akses” untuk mengenyam pendidikan. Realitanya? Ya udah pada tau lah ya…

 

Kalopun memang kuota itu mau dikasih ke mereka yang “ga punya akses”, tentu tetap harus di tes dulu kelayakannya sesuai sekolah yang dituju. Kalo memang ga memenuhi standar, kenapa harus dipaksakan?

 

Si Wakil Walikota juga hanya bisa meng-amin-i bahwa realita itu terjadi, tapi tetep aja ga berani ngasih solusi. Tiap kali diminta konfirmasi, ia hanya bisa membenarkan. Tanpa berani turun tangan menuntas kedzaliman. Sampai akhirnya lembaga ombudsman yang bergerak memperjuangkan kebenaran.

 

Udah lah, udah banyak bajingan di negara ini. Jangan ditambah jumlahnya, apalagi meracuni para penerus bangsa maupun institusi pendidikan yang ada. Karena Depok itu identik dengan Kota Pendidikan, jangan sampai berubah jadi Kota Siswa Titipan.

 

Depok, 24 Agustus 2016, 21:59

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s