Why I Uninstall My Path

Path

 

Postingan di atas yang gue tulis hari Jumat, 19 Agustus 2016 sekaligus mengakhiri karir dunia per-Path-an gue yang hanya berlangsung sekitar 3 tahun. Pertanyaannya, kenapa?

Sekarang ini dengan teknologi yang semakin maju, dunia seakan berada dalam genggaman. Lebih tepatnya, di dalam sebuah smartphone yang biasa kita genggam. Segala jenis informasi ada di sana, mulai dari hasil pertandingan sepakbola semalem, kasus racun maut Jessica yang ga kelar-kelar, ketegasan Duterte memberantas gembong narkoba, konspirasi bumi datar, sampai yang simpel-simpel semacam pesan martabak via layanan delivery.

Begitupun dengan social media, termasuk aplikasi chat dan sejenisnya. Mulai dari Facebook, Path, Instagram, Stellar dll, sampai ke Whatsapp, Line, Telegram, apapun itu namanya. Sehingga, melihat orang menggenggam smartphone kapanpun dan dimanapun sepertinya adalah hal yang biasa. Ya, sepertinya.

Tentu banyak orang yang diuntungkan dengan keberadaan alat ajaib tersebut. Gue termasuk salah satu diantaranya. Dan lu juga jelas termasuk sekian banyak dari mereka yang memperoleh manfaatnya.

Tapi tetep aja, pada akhirnya gue harus meng-uninstall salah satu social media yang gue lumayan eksis di dalamnya. Sekali lagi pertanyaannya: kenapa?

Smartphone emang memberi banyak kemudahan, tapi tetap aja perlu dibuat batasan. Kemudahan ini membuat kita lupa akan batasan antara dunia nyata dengan dunia maya; antara senyum tulus dengan emoticon senyum yang diketik dengan wajah datar; atau antara frekuensi dua hati yang saling terikat dengan frekuensi dua sinyal yang saling terhubung.

Chatting via aplikasi memang menyenangkan, tapi satu-satunya nilai tambah aplikasi chat dibandingkan obrolan tatap muka langsung adalah tidak terbatasnya jarak. Social media juga menyenangkan, tapi satu-satunya nilai tambah adalah kita bisa tau keadaan seseorang tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun untuk bertanya kepadanya. Cukup dengan stalking timelinenya, semua cerita sehari-hari terpapar di sana.

Apakah ini bagus? Ya bagi sebagian orang, tidak bagi sebagian orang yang lain.

Dengan adanya aplikasi chat dan social media tersebut, ada beberapa hal yang berubah. Buat gue, beberapa hal itu diantaranya:

  1. Facebook yang komplit membuat gue ”mengulik” kehidupan seseorang tanpa sadar sebenarnya perlu ga bagi gue untuk tau akan kehidupan seseorang tersebut. In other words: wasting time dan not worth value.
  2. Twitter yang membatasi jumlah karakter membuat gue lebih banyak cerita secuil-cuil di twitter instead of menulis sebuah gagasan komprehensif di blog like I used to do.
  3. Path yang intim membuat gue bisa tau keseharian seseorang tanpa perlu bertanya. Sehingga ketika ketemu sama orangnya langsung di dunia nyata, ga ada lagi obrolan atau pertanyaan tentang kabar masing-masing. Toh buat apa, kan semuanya udah bisa dilihat di lini masa.
  4. Instagram: perpaduan dari Facebook dan Path dalam wujud yang lebih “elegan”.
  5. Whatsapp dan aplikasi chat lainnya, khususnya kalo di-invite dalam sebuah grup besar, membuat gue ikutan mendengarkan hal-hal yang seharusnya juga ga perlu untuk gue dengarkan. Dan notifikasinya sering men-distract perhatian jadi ga fokus ke suatu hal, sementara di sisi lain penasaran mau baca apa isi pesannya. Jadi kaya facebook: wasting time dan not worth value.

Pernah ada masa ketika gue dan bini gue berniat bahwa setiap hari Sabtu dan Minggu handphone harus off demi menyisihkan SELURUH waktu (SELURUH, bukan suma sebagian apalagi secuil) yang kita punya untuk main sama anak-anak. Tapi karena tuntutan profesi dan dinamika global, sampai detik ini niat tersebut masih tetap sebatas niat.

Jadilah yang bisa gue lakukan hanyalah menyicil niat itu ke dalam bagian-bagian kecil: menyimpan handphone di lemari dan hanya diakses ketika anak-anak lagi pada bobo; leave dari beberapa group whatsapp dan uninstall Line, BBM dan sejenisnya; serta yang terbaru adalah uninstall Path.

Kenapa Path? Kenapa bukan yang lain, atau kenapa yang lainnya ga sekalian?

Jawabannya sederhana: Facebook masih bisa dipake untuk berbagi link dan informasi “dalam skala besar”, serta yang lebih penting lagi adalah terintegrasi dengan akun-akun lain kalo mau daftar alias registrasi. Itu kiranya nilai tambah Facebook yang paling berguna buat gue: instead of bikin akun di berbagai situs satu-satu, lebih mudah untuk langsung di-“connect via Facebook” aja. Twitter, juga masih bisa dipake untuk “jualan” via buzzer (meskipun di lingkaran pertemanan gue udah ga se-hits beberapa tahun lalu) juga somehow masih bisa buat registrasi juga kaya Facebook. Instagram, masih bisa dipake buat jualan. Google Plus, gue punya tapi hanya sebatas kewajiban kalo bikin Google aja. Isinya sih kosongan, ga pernah ada update apa-apa.

Sementara Path? Sebagaimana slogannya: “beautiful private sharing”, Path emang terbatas untuk lingkungan dekat karena jumlah pertemanannya sangat dibatasi. Sisi negatifnya, Path kurang kena kalo buat jualan, dan ga bisa terintegrasi kalo mau buat registrasi. Sisi positifnya, segala baik-busuknya keseharian kita cuma diketahui oleh lingkaran terdekat aja.

Tapi, apa bener begitu?

Mungkin masing-masing dari lu punya cerita berbeda, tapi yang pasti, ini adalah cerita gue.

Path, yang “beautiful private sharing” itu, membuat beberapa hal menjadi berubah di diri gue.

  1. Sebagaimana disebut diatas, Path berisi tentang keseharian kita. Lagi ngapain, sama siapa, dimana, disertai foto atau musik kalo perlu. Hampir setiap hari orang pada posing sesuatu di Path, yang artinya gue bisa tau keadaan seseorang tanpa perlu mengucap sepatah kata pun kepadanya. Terus, emangnya kenapa?

Pernah ada suatu waktu dimana gue ketemu sama temen lama yang udah ga pernah lagi ketemu, tapi kita tetep temenan di Path. Dia lumayan aktif posting, jadi gue bisa tau dia ngapain aja sehari-hari. Ketika akhirnya kita ketemu di suatu momen, yang terjadi cuma sebatas “Hai! Halo! Lagi sama siapa?” dan udah berhenti di situ. Buat apa bertanya kabar atau obrolan lainnya, toh lini masa udah menjawab semuanya?

  1. Path buat gue telah berubah fungsi menjadi salah satu ajang untuk sombong-sombongan. Bukan cuma Path sebenarnya, semua social media juga sama. Tapi karena Path lebih “beautiful private sharing”, ga jarang semua postingan yang dilontarkan hanya sekedar untuk mendapatkan love, laugh, like atau apalah namanya. Pamer pencapaian dan keberhasilan. Pamer kondisi dan keadaan. Atau apalah wujudnya, ujung-ujungnya sekedar ingin sombong dan menunjukkan eksistensi diri. Emangnya salah? Tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Tapi kan Path juga memberi banyak keuntungan? Tapi kan Path begini? Tapi kan Path begitu? Tapi kan Path bla bla bla? Well sakarepmu ae wes…

In the end, waktu dan energi yang gue punya lebih tepat kalo ditransformasikan ke dunia nyata. Ke orang-orang di sekitar gue. Ke mereka yang bisa kita lihat tatapan matanya, bisa kita dengar hembusan nafasnya, dan bisa kita rasa frekuensi yang sama di dalam dada. Mungkin cuma gue yang merasa dan berpikir menyimpang kaya gini; mungkin ada di antara lu semua yang bisa membagi waktu antara dunia nyata dengan dunia maya, yang tetap memiliki sejuta bahan untuk diperbincangkan, yang mampu memanfaatkan social media dengan sebaik-baiknya. Tapi ya udah, itu lu. Bukan gue untuk saat ini.

Jadi, selamat tinggal Path. Semoga kita bisa tetap istiqomah menempuh jalan hidup masing-masing.

Depok, 22 Agustus 2016, 10:59

2 Comments Add yours

  1. mendyways says:

    setuju banget nih ka Rendy! aku malah dah ga main FB dari akhir 2011 karena koq banyak dampak negatif ke aku, uninstal path masih belum bisa, disamping karena berbayar, kadang seru juga liat post temen2, tapi sekarang udah mulai mengurangi intensitasnya. kalo WA/Line karena aku emang ga terlalu suka chatting. jadi kadang balasnya pas malem. Yah semoga kita bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat ya kak! makasih buat sharing

    1. ckinknoazoro says:

      hahaha ya begitulah. you’re welcome!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s