Cerpen Ramadhan – Hari 30 – Selesai

cr30

 

“Seorang lelaki haruslah menyelesaikan apa yang telah ia mulai.”

 

Kamu mungkin tidak akan pernah menemukan kalimat tersebut dimanapun selain di sini, karena memang kalimat tersebut adalah prinsip yang aku tanamkan kepada diriku sendiri. Sebagai seorang lelaki, ketika kamu memutuskan untuk memulai sesuatu, maka kamu juga harus berani untuk menyelesaikan sesuatu itu. Dengan segala konsekuensi, apapun yang terjadi, kamu harus berani menyelesaikannya.

 

Begitupun dengan #cerpenramadhan ini. Bulan ramadhan segera berakhir, artinya kumpulan cerita yang aku tulis juga harus segera diakhiri. Namun, bagaimana mengakhirinya?

 

Entah perasaan apa yang dialami oleh J.K Rowling ketika ia harus mengakhiri cerita mengenai petualangan si penyihir dan fantasi Hogwarts. Atau, yang dirasakan Masashi Kishimoto setelah mengakhiri cerita Naruto. Begitupun yang aku rasakan, ketika cerita mengenai Yusuf, Sari, Nia, Sasha, atau siapapun itu, harus diakhiri.

 

Memang, cara termudah dalam mengakhiri sebuah cerita adalah dengan membunuh tokoh-tokohnya. Dengan demikian, tidak akan ada lagi cerita lanjutannya. Ya, si tokoh sudah mati. Lalu, mau apa?

 

Tapi aku rasa itu terlalu egois. Seorang penulis yang mengakhiri cerita dengan membunuh tokohnya, adalah penulis yang egois.

 

Jika memang membunuh tokoh dalam cerita adalah hal yang egois, lalu mengapa bukan si penulis saja yang mati terbunuh? Bukankah dengan demikian, cerita pun juga akan berakhir?

 

“Seorang lelaki haruslah menyelesaikan apa yang telah ia mulai.”

 

Kalimat itu terngiang kembali. Dan entah bisikan apa yang merasuki, aku bergegas meninggalkan laptopku dan berjalan menuju jendela apartemenku. Aku membuka jendela, melangkah menuju balkon, dan berdiri tegak menghadap ke langit biru dihadapanku.

 

Aku telah memulai hidup ini, mungkin ini saatnya bagiku untuk menyelesaikannya. Tanpa aba-aba aku meloncat dari balkon. Tubuhku terjatuh, tertarik gravitasi bumi dari lantai dua puluh tiga. Dalam waktu sepersekian detik itu, aku tidak merasakan apa-apa. Yang kurasakan hanyalah satu: bahagia.

 

Depok, 5 Juli 2016, 20:07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s