Cerpen Ramadhan – Hari 22 – Maybe Never

cr22

Wasit meniup peluit panjang. Pertandingan 2 x 45 menit telah berakhir setengah jam yang lalu, sementara peluit tadi menandakan bahwa babak perpanjangan selama 2 x 15 menit juga telah berakhir. Artinya, pertandingan harus diselesaikan dengan adu penalti untuk mencari siapa pemenangnya.

Aku menghampiri pelatih untuk berdiskusi mengenai siapa yang akan menjadi penendang, dan bagaimana urutannya. Pelatih memintaku untuk menjadi penendang kelima: berarti aku akan menjadi penendang terakhir di adu penalti kali ini.

Sejenak aku berpikir: tahun lalu, adu penalti sudah berakhir di penendang ke-4 karena dua orang penendang dari team ku gagal menceploskan bola, sementara ke-4 penendang lawan berhasil semuanya. Penendang ke-5, yang harusnya menjadi penentu, malah tidak berkesempatan untuk menendang.

Aku pun mengusulkan kepada pelatih, bagaimana jika aku menjadi penendang pertama saja. Sebagai kapten team, aku harus mengawali adu penalti ini dengan teladan yang baik, supaya penendang berikutnya bisa termotivasi. Pelatih mengangguk setuju dan namaku berada di daftar penendang pertama.

Tibalah waktunya adu peruntungan. Penendang pertama lawan, Arturo Vidal, gagal menceploskan bola. Tendangannya dibaca oleh kiper hebatku, Sergio Romero. Seluruh rekanku melonjak gembira: Romero berhasil mengawali penalti ini dengan keceriaan di wajah kita semua.

Kini tiba giliranku. Kuletakkan bola di titik putih, dan aku melangkah mundur mengambil ancang-ancang sembari menunggu wasit membunyikan peluit tanda aku boleh menendang.

Sudah tiga kali aku menjalani pertandingan final bersama negaraku, dan aku tidak pernah beruntung di semua kesempatan itu. Ini adalah kesempatan yang ke-4 kalinya; entah mengapa aku sedemikian yakin bahwa malam ini aku akan mengangkat piala. Di lapangan ini, persis di titik putih di depan gawang, kaki kiriku akan menuntun rekan-rekanku menuju itu semua.

Peluit telah berbunyi. Aku mengambil langkah maju. Segera kutendang bola sekuat tenaga dengan kaki kiriku. Kiper meloncat ke arah kanan, sementara aku mengarahkan bola ke tengah. Yes, dia tertipu, pikirku dalam hati.

Yang terjadi selanjutnya, aku hampir tak percaya. Bola tendanganku ternyata melambung ke atas gawang. Sorak sorai pendukung tim lawan pecah membahana. Aku tertunduk lesu, menyadari bahwa aku memang tak akan pernah mengangkat piala itu bersama negaraku.

Jakarta, 27 Juni 2016, 20:32

Photo taken by: Mike Stobe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s