CerpenRamadhan – Hari 18 – Di Ujung Trotoar #2

  Aku berjalan kaki seorang diri menyusuri trotoar. Bukan seorang diri lebih tepatnya, melainkan berdua bersama tongkat kayu penyangga yang telah menemaniku sejak lahir; tongkat kayu yang juga menjad senjataku dalam mencari nafkah.   Setiap malam, kami para pemuda jalanan -begitu kami menamakan diri- selalu berkumpul di sekitar pintu masuk Gelora Bung Karno. Beratapkan langit…

CerpenRamadhan – Hari 17 – #cerpenramadhan

  Di bulan Ramadhan kali ini aku mempunya hobi baru. Ya, selepas shalat tarawih berjamaah di masjid dekat rumah, aku selalu menyempatkan diri untuk menggenggam smartphone, membuka media sosial dan membaca lini masa yang terpampang di sana.   Memangnya, apa yang menarik?   Di bulan Ramadhan ini salah seorang temanku, sebut saja Arya, selalu memposting…

CerpenRamadhan – Hari 16 – Lemah

  Sudah lebih dari 30 menit aku memandangi layar handphone. Mataku terpaku lama melihat nama Harining Mardjuki, dengan pikiranku yang jauh melayang. Haruskah wanita ini yang aku bawa ke acara pernikahan Sari?   10 menit berikutnya berlalu begitu saja. Dan akhirnya aku telah memutuskan: tidak. Aku tidak akan pergi dengannya.   Aku melempar handphoneku ke…

CerpenRamadhan – Hari 15 – Di Ujung Trotoar

  Nia melangkah gontai menyusuri jalan. Ia berjalan kaki di sepanjang trotoar untuk meninggalkan FX: mencoba meninggalkan bayangan tentang apa yang baru saja terjadi.   Malam ini, entah bagaimana ceritanya, Nia tidak ingat atau mungkin memang tidak mau mengingat apa yang baru saja terjadi. Ketika ia dan Mugi sedang berbincang santai, tiba-tiba Misan datang menghampiri…