IntisariBuku: Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh – Joe Navarro

Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh – Joe Navarro

Cara Cepat Membaca

 

Keterangan buku:

 

Penulis                 : Joe Navarro

Judul                     : Cara Cepat Membaca Bahasa Tubuh (What Every Body is Saying)

Penerbit              : Change Creative

Tahun terbit       : 2014

Tebal                     : 353 halaman

 

Komunikasi nonverbal sering dikatakan sebagai perilaku nonverbal atau bahasa tubuh. Ini adalah cara untuk menyampaikan informasi, seperti kata-kata. Namun, “kata-kata” tersebut disampaikan melalui ekspresi wajah, gerakan tubuh, sentuhan, gerakan fisik, postur, dan bahkan intonasi dan volume suara seseorang (bukan isi pembocaraan). Sekitar 60-65 persen komunikasi antarpribadi sesungguhnya terdiri dari perilaku nonverbal.

 

Komunikasi nonverbal dapat membuka pikiran, perasaan, dan niat seseorang yang sebenarnya. Perilaku nonverbal memberi tahu kita tentang apa yang berada di pikiran seseorang. Karena orang tak selalu menyadari apa yang ia komunikasikan secara nonverbal, bahasa tubuh kerap kali lebih jujur daripada pernyataan verbal seseorang, yang dirancang secara sadar untuk mencapai tujuan sang pembicara. Hal yang menarik tentang perilaku nonverbal adalah kemampuannya untuk diterapkan secara universal. Ilmu ini bekerja dimana ada interaksi manusia. Bahasa nonverbal sangat relevan di situasi apapun, karena faktanya sulit bagi kita untuk berinteraksi secara efektif tanpa menggunakan isyarat nonverbal.

Perlu dipahami bahwa otak mengontrol semua perilaku, baik yang disadari maupun tidak disadari. Pemahaman ini menjadi tonggak untuk memahami komunikasi nonverbal. Dalam studi komunikasi nonverbal, otak limbic adalah tempat aksi berlangsung, karena ini adalah bagian dari otak yang bereaksi secara reflex dan instran secara langsung, tanpa pemikiran terlebih dahulu. Karena alasan itu, otak limbic memberikan respons yang jujur terhadap informasi yang masuk dari lingkungan sekitar kita. Respon ini berupa perilaku yang dapat diamati dan dipahami karena terwujud di kaki, torso, lengan, tangan dan wajah.

 

Jika diminta untuk menebak bagian tubuh mana yang paling jujur atau bagian yang paling mungkin menunjukkan niat seseorang, sehingga menjadi lokasi utama untuk mencari sinyal nonverbal yang merefleksikan pikiran seseorang secara akurat, mungkin sebagian besar orang akan kaget bahwa jawabannya adalah kaki. Ya, kaki dan tungkai, adalah pemenang penghargaan kejujuran. Selama jutaan tahun, kaki telah menjadi “lokomotif” utama untuk manusa: sebagai alat untuk bergerak ,melarikan diri, dan bertahan hidup.

 

Saat membaca Bahasa tubuh, sebagian besar orang melakukan kesalahan dengan mengobservasi mulai dari bagian atas (wajah) lalu turun ke bawah, walaupun wajah adalah bagian tubuh yang paling sering digunakan untuk berbohong dan menutupi perasaan yang sebenarnya. Yang lebih buruk, si pewawancara mempersulit upaya untuk membaca level kejujuran dengan membiarkan orang yang diwawancara menutupi kakinya di balik meja. Kita cenderung berbohong dengan wajah karena itulah yang diajarkan kepada kita sejak kecil: lingkungan mengajari kita untuk menutupi, berbohong dan menipu denan wajah demi menjaga keharmonisan. Tak heran bila kemudian kita melakukannya dengan baik. Sehingga jika ingin memaknai perilaku dengan akurat, perhatikan bagian kaki, bukan bagian wajah.

 

Seperti kaki dan tungkai, perilaku yang diasosiaikan dengan torso (pinggang, dada dan pundak) juga mencerminkan perasaan yang “dirasakan” oleh otak limbic. Ini dikarenakan torso menjadi “rumah” bagi banyak organ internal seperti hati, paru-paru, jantung, dan organ pencernaan. Dalam situasi yang berbahaya, otak memimpin seluruh bagian tubuh untuk menjaga organ penting ini baik dengan cara yang tak terlihat ataupun cara-cara yang sangat jelas.

 

Lengan juga kerap kali tak dihiraukan dalam pengamatan Bahasa tubuh. Padahal untuk mencari tanda kenyamanan, ketidaknyamanan, kepercayaan diri, atau tanda lain yang menunjukkan perasaan, lengan merupakan penunjuk emosi yang baik. Mereka juga bergerak efisien serta memberikan respon pertama yang tangguh saat menghadapi ancaman, terutama saat digunakan bersama tungkai bawah. Karena lengan didesain untuk membantu kita menjaga kelangsungan hidup, mereka juga dapat berfungsi untuk menunjukkan perasaan atau niat kita yang sebenarnya.

 

Diantasa semua spesies, tangan manusia itu unik karena tak hanya dapat dilihat dari apa yang dapat mereka lakukan namun juga dari cara mereka berkomunikasi. Tangan manusia sangat ekspresif: mereka dapat memegang, menggaruk, menusuk, menonjok, merasakan, mendeteksi, mengevaluasi, menahan, dan membentuk dunia di sekitar kita. Karena tangan kita dapat melakukan gerakan yang sangat halus, mereka merefleksikan isi pikiran kita yang sangat “halus”. Pemahaman tentang perilaku tangan penting untuk memahami isyarat perilaku nonverbal karena pasti tak ada hal yang dilakukan oleh tangan yang tidak diatur oleh otak, baik secara sadar maupun tak sadar.

 

Saat berbicara tentang emosi, wajah kita adalah kanvas bagi pikiran kita. Apa yang kita rasakan dikomunikasikan dengan saat indah melalui sebuah senyuman, kerutan di kening, ataupun gabungan dari keduanya. Lebih dari apapun, ekspresi wajah kita berfungsi sebagai bahasa universal atau bahasa lintas budaya. Bahasa internasional ini berfungsi sebagai cara berkomunikasi yang praktis sejak manusia hidup serta memfasilitasi pengertian di antara orang yeng berbicara dengan bahasa yang berbeda. Saat mengamati orang lain, kita dapat segera mengenali ketika seseorang terlihat kaget, tertarik, bosan, pusing, gugup, tertekan, dan lain sebagainya.

 

Walaupun wajah kita cukup jujur menunjukkan apa yang kita rasakan, wajah tak selalu menunjukkan perasaan kita yang sebenarnya. Ini karena kita dapat -pada level tertentu- mengontrol ekspresi wajah dan, dengan demikian, membuat ekspresi palsu. Dari kecil kita telah diajarkan untuk menjaga ekspresi demi menjaga keharmonisan, sehingga kita telah cukup terlatik untuk menyembunyiakn perasaan kita yang sebenarnya dari wajah, walaupun kadang-kadang terlihat juga. Namun demikian ekspresi wajah masih dapat memberikan informasi yang mendalam tentang perasaan dan pikiran seseorang, hanya saja kita harus berhati-hati karena sinyal ini dapat dipalsukan. Sehingga bukti terbaik dapat kita simpulkan dari sejumlah perilaku, termasuk isyarat wajah dan seluruh anggota tubuh yang membatasi atau saling melengkapi.

 

Meskipun kita telah mengenal banyak perilaku nonverbal, namun ada satu tipe perilaku manusia yang sulit untuk dibaca, yaitu ketidak jujuran. Mungkin banyak orang mengira bahwa sebagai agen FBI yang kerap disebut sebagai detektor kebohongan manusia, ketidakjujuran dapat dikenali dengan relatif mudah. Faktanya, kita sangat sulit mendeteksi kebohongan, bahkan jauh lebih sulit dari membaca perilaku manusia dengan akurat. Banyak buku yang telah menulis subjek ini dan membuatnya seakan-akan ini adalah hal yang yang mudah dilakukan.

 

Sebagai seorang perwira penegak hukum yang telah berpengalaman pun, mengenali ketidakjujuran tidaklah mudah. Sangat banyak penyidik yang menyalahartikan perilaku nonverbal, yaitu salah membaca respon terhadap stress atau tidak nyaman sebagai tanda kebohongan. Rasa tidak nyaman dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk rasa antipasti dengan orang yang diajak berdiskusi, lokasi dimana perbincangan dilakukan, atau rasa gugup dalam proses wawancara. Hanya lewat pertanyaan, pengamatan dan penegasan lebih lanjut, kita dapat menentukan keabsahan informasi yang kita miliki. Tak ada cara menghalangi orang berbohong, namun setidaknya kita dapat berhati-hati saat mereka berusaha membohongi kita.

 

Depok, 31 Mei 2016, 07:36

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s