DasepAhmadi

DasepAhmadi

Sejak kelahiran si buah hati, ditambah sejak bekerja di perusahaan e-commerce yang menerapkan sistem flexible working hours, sekarang setiap pagi gue selalu punya waktu untuk main-main dulu sama si bocil, juga waktu untuk baca koran. Pagi ini gue lagi asik mangku bocil sambil nyuapin biskuit ke mulutnya dia, sembari membaca koran Tempo di meja makan. Baru masuk halaman 2, mata gue terperanjat melihat salah satu berita yang terletak di pojok kanan bawah.

“Pembuat Mobil Listrik Divonis 7 Tahun Bui”

Ya, beberapa tahun yang lalu ketika Dahlan Iskan masih menjabat sebagai salah satu pejabat tinggi negara, sempat muncul pemberitaan mengenai mobil rakitan anak bangsa. Terlihat membanggakan, karena negara ini yang selama ini cuma bisa mengimpor mobil-mobil dari Asia Timur, Eropa dan Amerika, akhirnya punya harapan untuk memiliki mobil ciptaan sendiri. Lebih membanggakan lagi karena mobil ini digadang-gadang bertenaga listrik, selangkah lebih maju dari mobil pada umumnya yang masih menggunakan bahan bakar berbasis minyak bumi.

Pemberitaan itu menghilang begitu saja, dan belakangan ini tiba-tiba muncul berita bahwa si Dasep Ahmadi, sang pelopor mobil listrik, dijatuhi hukuman penjara karena tuduhan merugikan negara sebesar rp 28,99 miliar.

Ya, gue mengakui bahwa gue adalah orang yang ga mengerti hukum dan perundang-undangan. Gue juga ga ngerti secara teknis cara merakit dan membuat sebuah mobil itu gimana prosesnya. Dan gue juga ga tau seperti apa kesepakatan antara Dahlan Iskan, Dasep Ahmadi dan BUMN-BUMN pemberi sponsor di waktu itu. Jadi disini gue hanya mencoba melihat dari sudut pandang masyarakat awam aja.

Pada dasarnya sebuah riset dan penelitian itu membutuhkan biaya yang sangat amat tidak sedikit. Untuk sebuah riset yang mungkin hasilnya belum terlihat jelas, biayanya bisa sangat besar. Apalagi untuk riest yang hasilnya sampai real dan terlihat jelas: butuh waktu yang tentunya lebih lama dan biaya yang juga jauh lebih besar.

Di Indonesia sendiri dunia riset dan penelitian gue rasa bukanlah hal utama yang jadi perhatian. Dengan sudut pandang pragmatis, pemerintah dan para pelaku bisnis lebih cenderung memperhatikan hal-hal yang bisa segera jadi untuk dieksekusi serta langsung diperoleh Break Event Pointnya dalam waktu dekat. Sementara hal-hal yang sifatnya penelitian dan pengembangan cenderung dikesampingkan karena makan biaya yang besar, ditambah Break Event Pointnya belum tentu diperoleh dalam waktu dekat.

Hal ini membuat riset dan penelitian menjadi prioritas nomor sekian. Mungkin kita masih tetap menjumpai para peneliti, tapi mereka adalah orang-orang yang meneliti karena passion, bukan karena kebutuhan ekonomi. Kalau mereka butuh ekonomi, tentu mereka sudah berada di ranah bisnis, bukan di peneliti. Sehingga meskipun kondisinya ala kadarnya, mereka tetap meneliti dan terus meneliti.

Sejatinya para pelaku bisnis dan pemerintah perlu mendukung para peneliti, karena pada akhirnya mereka jugalah yang akan menggunakan produk atau jasa yang dihasilkan dari para peneliti. Tapi sekali lagi, demi kepentingan pasar dan terbawa oleh pola pikir pragmatis, penelitian untuk jangka panjang mah nomor sekian. Yang penting produk laku dipasar.

Ketika ada orang yang mencoba meneliti, bahkan sampai merakit mobil listrik, tentu ini adalah suatu hal yang perlu diapresiasi. Banyak orang meragukan kemampuan engineering negara ini. Orang yang bilang gitu pasti ga pernah tau kalo para pemuda bangsa ini udah sering ikutan kompetisi robot, kompetisi mobil hemat bahan bakar, kompetisi software engineering, dan kompetisi lainnya yang berskala internasional. Bahkan beberapa sampai ada yang menjadi juara.

Mobil listrik? Ciptaan anak bangsa? Tentunya hal ini perlu didukung. Tapi pemerintah dan pelaku bisnis mana mau melirik ke sini: butuh biaya besar, udah gitu hasilnya ga bisa diperoleh dalam waktu dekat. Jadi ketika Dasep Ahmadi berinisiasi untuk membuat mobil listrik, seharusnya ini adalah suatu hal yang sangat amat perlu didukung.

Tapi apa yang terjadi? Segala jerih payahnya dan segala passionya di dunia penelitian harus dihancurkan dengan vonis hukuman penjara. Entah gimana detail kasusnya, yang jelas dia dianggap merugikan negara sebesar rp 28,99 miliar.

Tentu hal ini adalah preseden yang buruk. Amat sangat buruk. Peneliti di Indonesia itu hidupnya pas-pasan: penghasilan segitu-gitu aja. Mau meneliti, ga ada yang dukung. Peralatan dan infrastruktur untuk penelitian juga ga banyak tersedia: semuanya harus siapin sendiri. Eh udah gitu, pake dihukum penjara juga. Kasian amat dah jadi peneliti…

Sebelum bergerak di dunia manajemen strategi seperti hari ini, dulunya gue juga adalah seorang engineer. Nuclear engineer lebih tepatnya. Tapi cita-cita untuk menjadi seorang ahli nuklir sementara harus tertunda karena alasan yang klasik: di Indonesia ga ada lahan bagi para ahli nuklir. Ummm… …ralat. Bukan ga ada lahan sama sekali: lahannya ada, tapi bukan lahan yang subur. Gersang.

Di semester akhir perkuliahan gue banyak berinteraksi dengan para peneliti di salah satu lembaga yang merupakan lahan bagi para peneliti nuklir di Indonesia. Bukan “salah satu lembaga” sih, mungkin lebih tepatnya “satu-satunya lembaga”. Di lembaga itu gue melakukan tugas akhir, juga banyak ikut training. Tapi selama berbulan-bulan kerja disana dalam rangka penelitian dan training, obrolan yang gue peroleh dari para peneliti disana kecenderungannya mengarah kepada satu kesimpulan yang sama: satu kesimpulan yang kalau diringkas, adalah bunyi salah seorang peneliti yang pernah disampaikan ke gue:

“Dek kamu nanti kalo udah lulus ga usah kerja di sini. Ga sejahtera.”

Itu ucapan yang keluar dari mulut mereka kepada gue yang ketika itu adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang bersiap-siap menyambut dunia kerja!

Dan ucapan itu jugalah yang sampai detik ini masih gue amin-i, yang akhirnya membuat gue beralih ke dunia manajemen strategi seperti saat ini.

Kita kembali lagi ke berita yang gue baca di koran Tempo. Jadi, apakah layak jika Daseh Ahmadi (dan mungkin juga nantinya akan ada para peneliti-peneliti lainnya yang mencoba mewujudkan karyanya) divonis dengan hukuman penjara? Angka rp 28,99 miliar memang bukan angka yang kecil, tapi tentu akan menjadi suatu angka yang kecil jika dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan untuk mensponsori Rio Haryanto berlaga di ajang balap paling bergengsi di dunia. Dan jika nanti di akhir musim Rio Haryanto gagal meraih 1 poin pun, apakah dia juga akan mengalami nasib serupa seperti Dasep Ahmadi?

Depok, 15 Maret 2016, 23:54

*note: Kalo mau ikut bantu dukung petisi untuk membebaskan Dasep Ahmadi, yuk kita tandatangani petisi ini:
https://www.change.org/p/kejaksaan-agung-bebaskanlah-sang-inovator-karna-dia-bukan-koruptor?recruiter=334179291&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=autopublish&utm_term=des-lg-share_petition-no_msg&fb_ref=Default

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s