WorkLifeBalance

Berangkat dari postingan di salah satu group whatsapp berupa gambar sebagaimana ditampilkan di bawah ini…

WorkLifeBalance

…obrolan berlanjut mengenai permasalahan work-life balance alias keseimbangan anatara kerja dan hidup. Dan sepintas kemudian terpikir di benak gue untuk mengomentari mengenai istilah work-life balance ini. Tulisan ini dibuat tanpa dasar akademis apapun, tanpa berdiri di bahu raksasa manapun, melainkan sebatas kepikiran gitu aja. Jadi kalo validitasnya diragukan ya silahkan, sah-sah aja kok uhehe…

Mengomentari terhadap istilah work-life balance, disinI muncul dikotomi antara 2 hal: yaitu “kerja” di satu kutub dan “kehidupan” di kutub yang lain, dimana kalo lu lagi kerja maka seakan-akan lu ga punya kehidupan (karena semua sumber daya yang dimiliki oleh tubuh lu akan dieksploitasi untuk kepentingan pekerjaan), sementara sebaliknya kalo lu lagi menjalanai kehidupan lu maka seakan-akan lu ga boleh diganggu gugat sama urusan pekerjaan. Apakah benar demikian?

Menurut gue pribadi dikotomi ini muncul karena 1 hal: istilah “kerja” selalu diidentikkan dengan apa yang namanya datang ke kantor atau tempat kerja, kemudian kita harus berada di tempat kerja itu dalam jangka waktu tertentu, umumnya mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore dengan 1 jam istirahat didalamnya. Berikutnya karena dalam 1 hari ada 24 jam, maka masih ada sisa 15 jam yang bisa digunakan untuk menjalani kehidupan di luar istilah “kerja” itu tadi. Anggaplah di kota-kota besar, seseorang perlu waktu 2 jam untuk persiapan berangkat kerja (mulai dari mandi, sarapan, perjalanan menuju tempat kerja dll), kemudian 2 jam untuk perjalanan pulang kembali ke rumah dan beres-beres sepulang kerja, total ada 4 jam waktu tambahan untuk “kerja”, sehingga hanya ada sisa 11 jam untuk menjalani kehidupan. Anggaplah kita tidur 7 jam sehari, berarti bersihnya hanya ada 4 jam perhari untuk menjalani kehidupan. Belum lagi kalau ternyata kita ada lembur atau ga bisa pulang tenggo dari kantor, angka 4 jam ini tentunya akan terkikis lagi menjadi lebih sedikit, dan kalau mau ditingkatkan jumlahnya tentu jam untuk tidur harus dikurangi.

Selanjutnya dari sisi waktu, dengan segala asumsi diatas artinya seseorang harus segera bersiap untuk berangkat kerja mulai dari pukul 6 pagi dan baru beres dari kepenatan kerja jam 7 malam. Karena umumnya jam hidup masyarakat umum hanya sampai jam 10 malam, artinya dalam 1 hari seseorang hanya memiliki kehidupan antara jam 7 sampai jam 10 malam. Sekali lagi, itu hanya jika bisa pulang tenggo. Kalaupun harus pulang lebih telat dan jam kehidupannya mau digeser, missal dari jam 9 sampai jam 12 malam, justru malah semakin sulit karena jam segitu sudah melewati waktu jam hidup masyarakat, alias orang-orang banya yang sudah berkemas untuk beranjak ke tempat tidur.

Dengan segala pemahaman diatas, makanya muncul istilah work-life balance, bahwa aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan akan sangat menyita segala sumber daya yang dimiliki manusia (waktu, energi, panca indra tubuh, emosi, fokus dan konsentrasi, dll) untuk ditujukan hanya kepada pekerjaannya saja. Untuk kehidupan terpaksa terabaikan. Meskipun mungkin banyak yang segera menjalani life persis setelah work nya, semisal makan malem sambil kongkow-kongkow atau nonton bareng sepulang kerja. Dan kalo mau benar-benar menjalani sisi life nya hanya bisa dilakukan di hari Sabtu dan Minggu, yang mengakibatkan banyaknya handphone yang sengaja dimatikan di hari itu supaya ga ada gangguan dari urusan pekerjaan.

Namun apakah work vs life memang dua hal yang harus di-dikotomi-kan?

Sebelom masuk kesana, gue mau cerita pengalaman pribadi gue dulu bahwa di usia gue yang ke-26 tahun ini gue udah sempet mengalami 4 tempat kerja yang berbeda-beda. Disini akan gue coba mengkomparasikan work-life balance antara satu tempat kerja dengan tempat kerja lainnya, dari sudut pandang gue sendiri.

1. Perusahaan logistik

Tempat kerja pertama adalah perusahaan logistik yang berlokasi di Cakung, pinggiran Jakarta. Jam kerja normal 8-5 hari Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu Libur. Di perusahaan logistik ini karena lokasinya di pinggiran Jakarta dan arahnya berlawanan dengan orang-orang yang mau kerja ke pusat kota, ditambah lagi aksesnya persis di pinggir jalan tol, perjalanan rumah-kantor di jam padat yang gue perlukan untuk sampe kesini cukup 1 jam doang. Jadi waktu bersihnya gue menjalani “work” mulai dari jam 6 pagi sampe jam 6 sore dan sisanya free. Buat gue disini work-life balance nya masih sangat terjaga, dibuktikan dengan ketika itu gue merasa masih punya banyak waktu luang yang akhirnya gue putuskan untuk dihabiskan dengan melanjutkan studi S2, atau untuk berolahraga (futsal, renang, main PS), atau untuk nyari gebetan yang pada nolak semua. Pfffttt…

2. Pabrik gula rafinasi

Tempat kerja kedua adalah pabrik gula rafinasi. Kantor pusatnya di deket Sarinah, pusat kota Jakarta, sementara pabriknya ada yang di Cilegon, Marunda dan Medan (gue tulis urutannya sesuai pabrik mana yang paling sering gue datengin). Jam kerja kantor pusat adalah jam setengah 9 pagi sampe jam 5 sore di hari Senin-Jumat dan setiap Sabtu harus masuk tiap 2 minggu sekali di jam setengah 9 pagi sampe jam 1 siang. Sementara kalo kantor di pabrik jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore di hari Senin-Jumat dan setiap Sabtu selalu masuk jam 8 pagi sampe jam 1 siang.

Karena lokasinya di pusat kota, waktu tempuh ke kantor ini cukup menyita waktu. 6 bulan pertama kerja gue pulang-pergi naik kereta, dimana waktu bersihnya gue menjalani “work” adalah mulai dari 6 pagi sampai jam setengah 8 malem. Tapi karena lu tau sendiri kondisi kepadatan kereta di Jakarta kaya gimana, ditambah lagi kalo lu udah masuk ke transportasi umum maka lu harus tetep stay di dalamnya sampe ke tempat tujuan (karena kalo mau turun terus naik lagi bakalan diminta untuk bayar lagi), yang gue dapet adalah energi dan emosi gue terkuras seketika. Berikutnya gue mengakali dengan membawa mobil sendiri. Dan karena jalanan ibukota macetnya luar biasa di jam kerja, akhirnya gue menemukan bahwa pola terbaik adalah dengan berangkat dari rumah jam 5 pagi (dimana artinya gue harus bangun mulai dari jam 4 pagi) dan baru jalan lagi dari kantor nungguin jalanan sepi sekitar jam 9 malam (artinya gue nyampe rumah sekitar jam 11), sehingga waktu bersih gue menjalani “work” adalah mulai dari jam 4 pagi sampe jam 11 malem. 19 jam sehari. Pfffttt…

Disini gue sangat ga seimbang antara work-life balance. Namun dua hal yang menjadi keuntungan gue disini adalah: (1) waktu itu gue lagi nyusun thesis, sehingga setiap malem gue selalu menghabiskan waktu di kantor untuk nyusun thesis sampe kantor bener-bener udah sepi, baru gue pulang. (2) lokasi yang di pusat kota memungkinkan gue untuk mengakses tempat-tempat rekreasi atau ketemu sama temen-temen gue yang kerja di sekitaran situ juga. Tapi untuk yang kasus harus masuk kerja di hari Sabtu, udah lah gue ga mau banyak komentar.

Kalo ke pabrik Cilegon lebih dahsyat. Untuk sampe disana jam 8 pagi, jam berangkatnya sih sama, jam 5 pagi. Tapi kalo pulang dari sana jam 4 sore, karena perjalanan kerumah ngelewatin rute-rute pait, biasanya baru sampe rumah sekitar jam 9 malem. Gue ngakalinnya dengan cara nginep di mess pabrik dan jam setengah 5 pagi baru berangkat dari Cilegon ke Jakarta. Berikutnya untuk pabrik Marunda, karena lokasinya searah sama tempat kerja gue yang pertama di Cakung dan udah apal jalannya, polanya mirip sama kaya waktu kerja di Cakung. Jadi gue sangat seneng kalo diminta ke pabrik Marunda karena work-life balance nya lebih seimbang. Sementara kalo ke Medan mah tinggal ngikutin jadwal orang yang disana aja, khususnya jadwal kulinernya.

3. Pabrik karet

Tempat kerja kedua adalah pabrik karet. Kantor pusatnya di Lingkar Mega Kuningan, pusat kota Jakarta, sementara pabriknya ada 15 biji: 12 di Sumatera dan 3 di Kalimantan (yang tiap bulan harus selalu gue kelilingin). Jam kerja kantor pusat adalah jam 8 pagi sampe jam 5 sore di hari Senin-Jumat dan setiap Sabtu adalah LIBURRR..!!! Sementara kalo kantor di pabrik jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore di hari Senin-Jumat dan setiap Sabtu selalu masuk jam 8 pagi sampe jam 1 siang, tapi buat gue ga begitu ngaruh karena di setiap pabrik ada mess yang nempel persis d pabrik, sehingga mau bolak-balik pabrik-mess tinggal loncat aja.

Mirip kaya di pabrik gula, disini waktu bersih gue untuk “work” adalah mulai dari jam 4 pagi sampe jam setengah 8 malem kalo pulang tenggo. Tapi karena pulang tenggo malah melelahkan karena pas di jam macet, biasanya gue baru jalan dari kantor sekitar jam setengah 9 malem dan sampe rumah jam 10 malem. Untungnya disini karena letaknya strategis, sembari menunggu jam setengah 9 malem biasanya gue manfaatin untuk futsal, jogging, jalan-jalan ke mall terdekat, atau main PS. Work-life balance disini masih lebih baik dibanding waktu di pabrik gula, meskipun belum sebaik waktu di perusahaan logistik. Tapi kalo pas lagi ke pabrik, jelas isinya work semua karena pabriknya mayoritas berada di pedalaman (yang paling jauh adalah 9 jam perjalanan darat dari bandara terdekat) dan mess nya nempel sama pabrik, jadi kalo udah ke pabrik emang ya udah ke pabrik aja. Kalo mau hiburan ya harus bisa cari hiburan yang melayani diri sendiri alias self-service (eh?). Kecuali kalo pas dapet pabrik yang di kota kaya di Medan, Jambi atau Pontianak, masih bisa lah jalan-jalan cari rekreasi semisal panti pijat, spa atau karaoke gitu deh.

4. Perusahaan e-commerce

Tempat kerja gue yang terakhir sampe tulisan ini ditulis adalah perusahaan e-commerce yang mengelola sebuah situs online tempat orang berjual-beli. Kantornya di antara Kemang dan Pejaten, Jakarta Selatan. Dan disini gue menemukan hal yang jauh berbeda dibandingkan dengan 3 tempat kerja sebelomnya.

Pertama, fleksibilitas jam kerja. Disini jam kerjanya adalah suka-suka asalkan selama 8 jam sehari (plus 1 jam istirahat) terpenuhi, atau 40 jam seminggu untuk 5 hari kerja. Jadi bisa aja kita dateng jam 6 pagi dan pulang jam 3 sore. Atau dateng jam 11 siang dan pulang jam 8 malem. Yang jelas jam buka kantor adalah dari jam 6 pagi sampe jam 11 malem, jadi kita bebas menghabiskan 9 jam di kantor diantara waktu-waktu itu. Atau bisa nabung jam: kalo hari ini udah ngantor selama 11 jam, besok ngantor 5 jam aja ga masalah asalkan 40 jam seminggu terpenuhi. Bahkan yang lebih cihuy, kita juga diizinkan dengan alasan tertentu kalo mau kerja dari rumah (istilahnya “remote”) tanpa harus memotong hak cuti.

Karena jam kerja disini fleksibel, gue bisa mengatur waktu sesuka hati untuk menghindar dari kemacetan jam sibuk yang ga berguna. Misal kalo udah tau jalanan antara jam 6 sampe jam 9 pagi itu bakalan macet, tentu gue ga bakalan berangkat jam segitu. Pulangnya juga, ga bakalan gue pulang di antara jam 4 sampe jam 6 sore yang lagi padet-padetnya. Efeknya adalah perjalanan rumah-kantor yang gue perlukan cukup 1 jam aja, kalo beruntung bisa cuma setengah jam doang. Sehingga waktu bersih gue untuk “work” adalah hanya 11 jam aja. Aktivitas mandi dan sarapan ga gue masukin disini karena seringkali gue udah mandi dan sarapan dari jam 7 pagi tapi baru berangkat ngantor jam 11 siang.

Kedua, di tempat kerja sebelom-sebelomnya akses internet adalah sangat terbatas. Kita ga bisa buka social media macem twitter, facebook, bahkan youtube juga diblokir, karena penggunaan internet lebih ditujukan untuk kepentingan email dan searching hal yang berkaitan dengan pekerjaan. Kalo buka situs di jam kerja, emang ga bakal ada yang negor tapi pasti orang-orang pada memandang dengan tatapan menusuk tajam. Nah kalo di perusahaan e-commerce ini beda. Justru disini akses internet dibuka seluas-luasnya karena memang di situlah bisnis perusahaan ini bermain. Malah kita sering diminta untuk memantau obrolan-obrolan yang terjadi di dunia maya seputar bisnis yang dimasuki perusahaan.

Berikutnya, di kantor disediakan Xbox yang dapat dinikmati oleh siapapun dan kapanpun. Jadi kalo lagi suntuk kerja, tinggal cari lawan terus main Xbox. Sementara gue sendiri lebih memilih untuk main Counter Strike rame-rame sama rekan kerja gue. Jadi disela-sela kesuntukan kerja, kita bisa refreshing dulu main video game. Dan hal itu sangat lumrah disini.

Pada akhirnya gue memberikan kesimpulan sementara bahwa sejauh ini tempat kerja yang terakhir inilah yang paling memberikan keseimbangan “work” vs “life”. Kalo gue lagi mau belanja bulanan atau jalan-jalan dulu sama keluarga, gue bisa melakukannya di pagi hari dan baru ngantor di siang harinya tanpa harus kehilangan jam kerja atau mengajukan surat izin. Kemudian kalo lagi pengen main FIFA, gue bisa melakukannya di tempat kerja dan di jam kerja, tanpa harus menunggu jam kerja beres dan nyari rental PS terdekat. Sehingga istilah “work” vs “life” seakan-akan melebur menjadi “work and life”, karena kita diberikan fleksibilitas yang sangat tinggi, yang penting amanah dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.

Balik lagi ke definisi istilah “work” alias “kerja” yang selalu diidentikkan dengan datang ke kantor atau tempat kerja, kemudian kita harus berada di tempat kerja itu dalam jangka waktu tertentu, umumnya mulai dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, sebagaimana gue maksud di dalam paragraf awal tulisan ini, definisi seperti inilah yang memunculkan dikotomi antara “work” vs “life”. Padahal dengan pengalaman gue di industri e-commerce, bukan ga mungkin ketika istilah “kerja” di-re-definisi-kan kembali maka yang terjadi bukanlah dikotomi antara “work” vs “life” melainkan sinergi antara “work and life.”

Dengan semakin berkembangnya teknologi, bukan ga mungkin tempat kerja yang biasanya identik dengan kantor di kawasan perkantoran, berubah menjadi dimana aja asalkan kita nyaman untuk membuka laptop dan mengakses internet. Meskipun mungkin akan tetap ada bidang kerja yang tetap membutuhkan ruang dan waktu, tapi bukan tidak mungkin dengan kemajuan teknologi semuanya menjadi berubah. Dulu kalau mau ambil uang atau transfer uang kita harus datang ke bank dengan jam buka tertentu. Sekarang kalau mau ambil uang bisa di ATM yang buka 24 jam, bahkan kalau mau transfer uang bisa darimana saja dengan menggunakan e-banking.

Hari ini, pekerjaan yang sifatnya layanan umum biasanya masih menggunakan pola jam kerja yang sama 8-5. Mungkin dengan berkembangnya teknologi, layanan umum ini bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun, ga harus 8-5 dan di tempat bersangkutan. Mau bayar pajak kendaraan bisa via online dan bukti pajaknya dikirim paket, mau daftar BPJS bisa via online dan kartunya juga dikirim paket, dan sebagainya. Berikutnya tentu angka 8-5 bukan lagi hal yang saklek, karena semua bisa dibuat fleksibel sesuai kebutuhan.

Kalo lu termasuk orang yang bermental pengusaha dan bukan bermental karyawan, justru malah lebih bagus lagi. Banyak kok aktivitas-aktivitas yang bisa menghasilkan uang tanpa harus bekerja sebagaimana definisi “kerja” yang gue sebutkan sebelomnya. Sebagaimana di perusahaan e-commerce tempat gue bekerja, lu bisa dapet duit dengan jualan via online, sebagaimana yang juga banyak dilakukan oleh para ibu-ibu muda jaman sekarang. Kalo doyan jalan-jalan sambil nyari duit, bisa jadi abang Go-Jek atau jadi traveler guide. Dan yang baru gue pelajari, di dunia maya ternyata ada banyak media untuk mencari uang, semisal jadi pemasar atau buzzer untuk suatu produk, jadi market research atau surveyor pasar untuk ngeliat tren dan memberikan insight serta rekomendasi, jadi kontributor dan penulis konten di suatu media, atau upload video bakat di youtube sembari memasarkan ke acara-acara off air.

Pada akhirnya yang ingin gue katakan adalah, antara work-life balance memang harus seimbang, bahkan kalo bisa lebih banyak porsinya untuk life. Kalo lu merasa work-life balance lu sangat jomplang ke work, jelas ada yang salah. Pertama, salah karena kita hidup di dunia ini tuh ga akan lama, dan akan sangat saying rasanya kalo hidup kita hanya dihabisin untuk kerja doang, padahal ada banyak hal lain yang bisa kita lakukan di hidup kita yang singkat ini. Kedua, salah karena kalo kita mau buka mata sebenernya masih banyak dunia kerja di luar sana yang menyediakan work-life balance yang lebih seimbang. Jadi kembali lagi ke ucapan Dr. APJ Abdul Kalam sebagaimana gambar diatas: “Love your job but don’t love your company.”

Depok, 26 Juli 2015, 22:27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s