SelamatHariRaya

Malam ini adalah malam 1 Syawal 1436 Hijriah, malam dimana umat Islam baru saja menunaikan ibadah puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh dan akan dilanjutkan dengan melaksanakan sholat Iedul Fitri di keesokan paginya. Gema takbir berkumandang dimana-mana, mengiringi rembulan di sepanjang malam. Sesekali terdengar bunyi petasan “TAR-TER-TOR” yang Sugali anggap senapan, tiada rasa ketakutan punya ilmu kebal senapan semakin lupa daratan~~~

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, handphone gue yang tahun ini telah terupdate dalam bentuk smartphone menerima banyak notifikasi ucapan selamat lebaran dan selamat hari raya. Dari berbagai social media dan messenger entah itu whatsapp, blackberry maupun path; dari yang bahasanya dibuat seromantis mungkin sampai yang bahasanya simple dan tanpa basa-basil dari yang menggunakan ucapan kontroversi semacam “minal aidin wal faidzin” maupun yang disunnahkan semacam “taqabalallahu minna wa minkum”; ataupun dari teman dan kerabat dekat sampai ke orang yang gue ga kenal dan sekedar broadcast.

Ini memang bukan kali pertama gue menerima ucapan selamat hari raya hanya dari pesan-pesan via smartphone. Kalau kita lihat perkembangannya, dulu pernah kita mengalami masa-masa dimana ucapan selamat hari raya hanya dapat disampaikan ketika kita bertemu langsung dengan orang yang bersangkutan. Untuk orang yang posisinya agak jauh dan ga bisa kita temui, kita bisa memanfaatkan fasilitas pos untuk mengirim kartu ucapan selamat lebaran yang biasanya disertai dengan parsel atau barang oleh-oleh, ataupun memanfaatkan fasilitas telepon untuk yang statusnya aku disini dan kau disana hanya berjumpa via suara namun ku selalu menunggu saat kita akan berjumpa~~~

Seiring perkembangan jaman, fasilitas untuk menyampaikan ucapan selamat hari raya juga semakin berkembang. Dengan adanya teknologi “Short Massage Service” alias “Layanan Pijat Singkat” yang biasa kita temui di tempat-tempat semacam Delta, My Place atau Galaxy… …Eh mohon map salah focus. Maksud gue “Short Message Service” alias “Layanan Pesan Singkat” yang ketika itu tarifnya masih rp 350,- untuk sekali kirim maksimal 160 karakter (bisa lebih murah kalo ke sesame provider atau pake provider yang tarifnya per karakter), ini memudahkan kita dari menelepon orang dan berbicara satu-persatu mengulang ucapan selamat yang sama, menjadi pesan teks yang cukup kita ketik sekali kemudian kita kirim ke orang-orang yang ada di contact phonebook kita. Mengirimnya pun biasanya pilih-pilih: kalau kita akrab akan kita kirim (bahkan biasanya gebetan adalah orang yang pertama kali kita kirim), sementara kalau orangnya ga begitu akrab maka kita akan mikir-mikir dulu buat kirim ucapan. Maklum tarif sms masih mahal. Atau baru dikirim kalau orang itu kirim ke kita duluan. Hal yang sering terjadi adalah kita seringkali mendapatkan kata-kata ucapan yang sama persis dari orang yang berbeda, karena sekedar copy paste dan diforward saja. Bahkan seringkali ucapan yang sudah kita buat se-romantis mungkin eh ujung-ujungnya kembali lagi ke kita, entah dapat dari mana dan si ucapan ini udah melanglang buana ke handphone siapa aja.

Berikutnya dunia www dan dot com semakin menggila, diikuti dengan Facebook yang didahului sebelumnya oleh Friendster, ucapan selamat hari raya menjadi beralih ke depan layar komputer. Meskipun sms masih banyak digunakan, beberapa orang yang ingin menghemat biaya lebih memilih untuk dating ke warnet, memposting gambar atau tulisan selamat hari raya dan men-tag rekan-rekannya di postingannya itu. Alhasil notifikasi Facebook penuh dengan ucapan selamat hari raya. Kalau friendlistnya ada banyak sementara jumlah tag dalam 1 postingannya ga mencukupi, biasanya diposting ulang gambar atau tulisan yang serupa dan di tag ke teman-temannya yang lain.

Kemudian handphone yang sebelumnya hanya berfungsi untuk telepon dan mengirim pesan mulai memasuki dunia baru dengan adanya media komunikasi melalui messenger. Kalau di Indonesia yang booming itu Blackberry. Semua orang mulai keranjingan Blackberry, bahkan sampai ada kiasan bahwa kalau mau jadi anak gaul itu harus punya 3B: Blackberry, Behel dan Baygon. Ummm yang ketiga mungkin bukan Baygon tapi entah apalah itu bisa Black Mentol (rokok), Botak (rambutnya) atau Bitch (kelakuannya). Dengan adanya Blackberry Messenger alias BBM yang memiliki keuntungan yaitu cukup berlangganan paketnya secara bulanan (orang miskin pake paket 25ribu yang cuma bisa BBM-an, orang kaya pake paket 100ribu yang bisa BBM-an dan internetan, orang gila pake paket 200ribu yang bisa ngapain aja gue juga ga tau), maka tarif BBM ke sesama pengguna Blackberry adalah gratis. Ini lebih memudahkan lagi karena orang ga perlu capek-capek ke warnet buat posting status di Facebook maupun sms yang tarifnya udah turun ke rp 150,00 per sms. Jadilah notifikasi BBM penuh dengan ucapan selamat hari raya: mulai dari yang sekedar broadcast maupun yang rajin mengirim personal satu persatu, ditandai dari warna fontnya yaitu hitam atau ungu.

Hari ini smartphone sudah semakin canggih. Dunia www dan dot com semakin maju. Social media dan messenger juga semakin berkembang. Sekarang sudah semakin banyak media yang dapat dimanfaatkan untuk mengirim ucapan selamat hari raya. Dan contact yang ada di smartphone maupun social media kita pun sudah sangat beragam: mulai dari orang yang dekat dengan kita, orang yang kenal tapi masih tetap menjaga komunikasi, maupun orang yang pernah kenal dan namanya hanya numpang nampang di phonebook kita, ataupun orang yang kita ga kenal tapi entah darimana dia bisa dapet contact kita.

Itulah yang terjadi malam ini. Gue membuka smartphone gue dan mendapati sekian banyak notifikasi dari berbagai media yang ada. Namun ada 1 hal yang gue rasakan ketika satu persatu gue mulai membuka dan membaca pesan-pesan itu.

Kosong.

Ya, kosong.

Sekali lagi, kosong.

Bukan isi pesannya yang kosong, melainkan esensi dan substansi yang dibawakan oleh pesan-pesan itu. Kosong. Seakan tanpa makna, tidak memiliki emosi dan hampa tanpa jiwa.
Gue nggak tau apakah lu merasakan hal yang serupa, tapi inilah yang gue rasakan sehingga menimbulkan keresahan untuk gue menulis tulisan ini. Memang, jumlah ucapan yang masuk jauuuuuhhh lebih banyak dibandingkan masa-masa ketika teknologi belum maju seperti saat ini. Tapi entah mengapa, semuanya terasa datar dan tanpa makna.

Dari semua notifikasi itu, ada salah satu grup messenger yang berisi orang-orang yang senang berjuang dan berbagi, yang mengirimkan broadcast pesan seputar Sunnah dan adab-adab apa saja yang hendaknya kita lakukan pada hari raya seperti ini. Salah satunya adalah seputar ucapan selamat, yang akan gue tulis ulang lagi disini:

“Termasuk adab pada hari Ied adalah saling memberikan ucapan selamt yang baik satu sama lain, apapun redaksinya. Seperti ungkapan taqabalallahu minna wa minkum, Idun Mubarak, atau yang semisalnya dalam berbagai bentuk redaksi yang dibolehkan.

Dari Jubari bin Nafir, dia berkata, ‘Para sahabat Rasulullah saw apabila berjumpa pada hari Ied, mereka satu sama lain saling mengucapkan taqabalallahu minna wa minka.’ Ibnu Hajar berkata sanadnya hasan (Fathul Bari, 2/446).

Pemberian ucapan selamat sudah dikenal di kalangan para sahabat, karenanya para ulama memberikan keringanan dalam hal ini, seperti Imam Ahmad dan lainnya. Terdapat riwayat yang menunjukkan disyariatkannya ucapan selamat pada momen-momen tertentu dan juga tindakan para sahabat yang memberikan ucapan selamat ketika mendapatkan sesuatu yang membagaikana, seperti diterimanya taubat seseorang oleh Allah swt terhadap suatu perkara, lalu mereka berdiri untuk memberikan ucapan selamat karena itu. Adapula riwayat lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa ucapan selamat termasuk kemuliaan akhlak dan fenomena sosial yang baik di kalangan kaum muslimin. Paling tidak dalam masalah ini adalah Anda membalas ucapa seseorang yang memberikan ucapan selamat kepada Anda, atau Anda diam apabila dia diam (tidak memberikan ucapan selamat), sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad, ‘Jika seseorang memberikan ucapan selamat kepadaku, maka akan aku jawab. Kalau tidak, aku tidak memulainya.”

Disini gue ga punya wewenang dan kompetensi untuk menafsirkan riwayat ini. Gue juga ga punya wewenang dan kompetensi untuk mengomentari apa yang ada di hati dan pikiran setiap orang yang mengirimkan ucapan selamat hari raya. Yang ingin gue sampaikan adalah bahwa entah mengapa semua pesan-pesan tersebut di mat ague terasa kosong. Sekali lagi, kosong. Karena social media, messenger dan semacamnya memang bisa membuat kita tau banyak hal tapi tidak mengerti apapun. Dan ia juga bisa membuat kita tau banyak orang tapi tidak mengenal seorangpun.

Akhir kata, Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1436 Hijirah. Taqabalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Semoga ibadah kita di bulan Ramadhan diterima, kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah Ramadhan ini, dan kita diberikan kesempatan untuk bertemu lagi di Ramadhan berikutnya.

Depok, 17 Juli 2015, 00:46

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s