AkuInginSekolah

Bangku kayu kelas ini mungkin sudah cukup lapuk bagi kebanyakan orang. Mejanya yang terbuat dari kayu juga sudah keropos dan banyak bolong-bolong di permukaannya. Mungkin sebagian besar orang akan mempermasalahkan hal ini, tapi tidak bagiku. Aku sangat menikmati bangku ini, meja ini, serta seluruh isi ruang kelas ini.

Di bangku ini aku duduk seorang diri untuk menyelesaikan catatanku. Aku mencatat tulisan-tulisan yang ada di papan tulis berwarna hitam yang masih ditulis menggunakan kapur; bukan papan tulis berwarna putih yang sudah dapat dihiasi dengan spidol, apalagi proyektor canggih sebagaimana yang pernah aku lihat di televisi. Bagiku tidak penting bagaimana wujudnya, asal selama ada ilmu yang bisa disampaikan disana, itu sudah lebih dari cukup bagiku.

Di ruang kelas yang seadanya ini, aku tahu aku tidak boleh mengeluh. Aku tahu banyak teman-teman sebayaku yang mendapatkan ilmu lebih banyak dariku, tapi itu bukan alasan bagiku untuk berhenti belajar. Aku senang bersekolah dan aku selalu rindu untuk datang kembali ke sekolah, karena hanya di sekolah aku bisa menimba ilmu dengan sebenar-benarnya, bukan di kehidupan nyata yang penuh dengan tipu daya.

***

Hari ini salah satu teman sekelasku, Zul, izin tidak masuk ke sekolah. Kata Ibu guru, keluarga Zul baru saja tertimpa musibah. Ayah Zul yang bekerja di kebun karet semalam menjadi korban pembegalan ketika dalam perjalanan pulang ke rumah selepas inspeksi kebun di malam hari. Motornya dirampas secara paksa dan lengan kiri beliau sobek terkena sabetan clurit dari pelaku begal.

Akhir-akhir ini peristiwa begal sedang marak terjadi di kampung kami. Sebelumnya, kampung kami memiliki citra sebagai kampung yang aman, tertib dan ramah kepada siapa saja, entah itu penduduk asli maupun pendatang yang sekedar singgah atau berlanjut untuk tinggal disini. Namun pembegalan yang banyak terjadi membuat kampung kami diliputi kecemasan, khususnya bagi para penduduk kampung yang sering bepergian di malam hari, baik itu karena tuntutan pekerjaan atau untuk urusan lainnya.

Di kampung yang dikenal tentram dan damai ini, segala macam tindak kriminal adalah tabu. Kepala kampung tidak tinggal diam atas maraknya kasus pembegalan yang sedang terjadi. Bersama para penduduk kampung, kepala kampung membentuk satuan kerja khusus untuk penangkapan pelaku begal. Tugasnya sederhana: memastikan penduduk aman untuk bepergian di malam hari dengan cara berpatroli di lokasi rawan terjadi pembegalan. Ayahku ditunjuk sebagai ketuanya.

Ayahku sendiri sebenarnya juga termasuk orang yang rawan menjadi korban pembegalan. Beliau bekerja sebagai tenaga kemanan di salah satu pabrik besar yang ada di dekat kampung ini dan beliau berjaga di shift 2, yaitu mulai dari jam 4 sore sampai jam 12 malam, sehingga biasanya beliau baru pulang ke rumah sekitar jam 1 dini hari, dimana jam tersebut adalah jam-jam rawan terjadinya pembegalan. Tapi karena ayahku memiliki kemampuan bela diri yang hebat, ditambah pengalaman beliau sebagai tenaga keamanan, mungkin itu yang menjadi alasan para penduduk kampung memilih ayahku sebagai ketua satuan kerja ini.

Absennya Zul hari ini membuat anggota kelompokku dalam kuis IPA yang diadakan hari ini berkurang 1 orang. Namun karena pelaksanaan kuis ini sudah dijadwalkan jauh-jauh hari oleh Ibu guru, akhirnya aku hanya berdua dengan temanku, Yusuf, harus menghadapi kelompok lawan yang terdiri dari 3 orang. Dengan metode seperti cerdas cermat, akhirnya kelompok ku berhasil mengalahkan kelompok lawan karena aku dan Yusuf selalu mampu mengangkat tangan lebih cepat dari pawa lawan-lawanku.

Sebelum bubar sekolah, Ibu guru mengajak seluruh murid untuk menyisihkan sebagian uang jajan untuk membantu meringkankan beban keluarga Zul. Dengan membawa amplop coklat bekas tempat surat edaran kepala sekolah tadi pagi, Ibu guru berkeliling menghampiri meja kami. Aku merogoh kantong celanaku: ada uang 1000 rupiah yang diberikan ayahku tadi pagi. Tadinya aku mau menggunakan uang ini untuk membeli permen gula sepulang sekolah, tapi aku tahu keluarga Zul mungkin lebih membutuhkannya walaupun aku tahu nilainya tak seberapa. Jadilah uang 1000 rupiah yang ada di kantong celanaku kini berpindah tangan ke amplop coklat yang ada di tangan Ibu guru, yang dibalas dengan senyuman manis oleh beliau.

***

“Ayah pamit dulu ya”, ujar ayahku sore ini ketika beliau hendak berangkat kerja. Beliau kemudian mencium keningku dan kening ibuku, sebelum akhirnya pergi dengan motornya. Kemudian aku segera kembali ke mejaku untuk menyelesaikan PR Bahasa Indonesia yang harus dikumpulkan besok.

***

Ramai suara para penduduk kampung membangunkan ku dari tidurku. Aku lihat jam dinding di kamar, waktu menunjukkan pukul 01.15 dini hari. Aku segera keluar rumah, mengikuti orang-orang yang sedang berjalan menuju satu arah. “Ada begal tertangkap!” ujar salah seorang dari mereka.

Aku melihat orang-orang berkerumun, berteriak-teriak dengan penuh emosi. Di tengah-tengah kerumunan ada kepala kampung dan dihadapannya ada 2 orang lelaki berjaket hitam masih mengenakan helm full face, namun kedua tangan mereka telah terikat kuat oleh tali tambang. Para penduduk kampung mengelilingi 2 orang yang ternyata adalah pelaku begal yang baru saja tertangkap malam ini.

“Bakar! Pelaku kriminal tidak pantas hidup!” teriak salah satu penduduk kampung yang emosi. Kepala kampung mencoba menenangkan para penduduk yang sudah mulai kehilangan kesabaran. “Kita serahkan pelaku begal ini kepada aparat dan biarkan mereka memproses sesuai hukum yang berlaku!” ujar kepala kampung yang akhirnya disetujui oleh para penduduk, meskipun terlihat ada beberapa yang kecewa dan ingin segera menyelesaikannya di tempat saat ini juga.

Kepala kampung melangkah mendekati kedua pelaku tersebut. Ia mendatangi pelaku pertama dan membuka helmnya. Dari balik helm itu ada wajah berusia cukup tua, dengan banyak bekas codetan di dahinya dan kumis serta janggut tebal yang sepertinya sudah lama tak terurus. Beberapa penduduk kampung mengenalinya sebagai warga kampung sebelah yang memang sudah lama tidak ada kabarnya. Terakhir mereka mengetahuinya bahwa lelaki ini telah bekerja di kota, namun tidak ada seorangpun yang tahu ia bekerja sebagai apa.

Kepala kampung mendekati pelaku yang kedua dan mulai membuka helmnya. Dan wajah yang muncul dari balik helm itu membuatku ternganga.

Ayahku.

Itu wajah ayahku.

Ternyata salah satu pelaku begal yang selama ini meresahkan penduduk kampung adalah ayahku!

Semua orang berteriak setelah mengetahui bahwa pelaku pembegalan tersebut adalah ayahku. Mereka mencibir, menghina, mencemooh. Aku melihat ibuku di sisi lain kerumunan berteriak histeris setelah melihat wajah di balik helm itu, yang langsung ditenangkan oleh ibu kepala kampung. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, yang kuingat hanyalah gelap.

***

Sejak kejadian itu, kehidupan keluargaku berubah. Ayahku kini mendekam di penjara. Ternyata beliau sudah lama di PHK dari pekerjaanya sebagai tenaga keamanan di pabrik, namun beliau berhasil menutupi itu dari kami semua. Pabrik tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan besar-besaran sebagai bagian dari program efisiensi dan ayahku termasuk salah seorang yang terkena dampaknya. Sebagai gantinya di malam hari dia bersama 4 orang rekannya yang juga mantan karyawan di pabrik tempat beliau dulu bekerja, mencari nafkah dengan membegal para pengendara motor.

Keluargaku kini dikucilkan dari lingkungan kampung. Ya, di kampungku memang tindakan kriminal dianggap sebagai sesuatu yang tabu. Karena itu, kini ibuku mulai dijauhi oleh para penduduk kampung disini. Setiap kali ibu pergi untuk berbelanja, tatapan mata mencibir adalah pemandangan yang biasa ibu nikmati di sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan aku: kepala kampung melarang aku untuk bersekolah di satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di kampung ini. Anak tukang begal tidak pantas berada satu ruang kelas dengan anak-anak lainnya, begitu kata mereka.

Aku tahu, Ibu guruku yang baik hati tidak sampai tega untuk mengeluarkan aku dari sekolah. Sebagai seorang guru, tentu beliau mengingkan semua muridnya mendapatkan kesempatan belajar yang sama. Tapi karena tekanan dari para penduduk kampung dan setelah mendapatkan teguran dari kepala sekolah, apa daya Ibu guru pun tak berdaya memperjuangkan hak ku untuk memperoleh pendidikan sebagimana anak-anak lainnya.

Aku tidak menaruh dendam kepada ayahku. Aku juga tidak menaruh dendam kepada warga kampungku. Aku hanya merindukan bangku sekolah, itu saja. Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa bertukar pikiran dengan teman sekelasku terkait PR dan tugas-tugas yang diberikan Ibu guru; aku merindukan saat-saat dimana aku bisa menjawab semua pertanyaan yang dilempar oleh Ibu guru di sela-sela pengajaran; dan aku merindukan saat-saat dimana Ibu guru memberikan lembar hasil ulanganku yang tertera nilai 90 di atasnya, yang langsung aku berikan kepada ibuku sepulang sekolah dan ia membalasnya dengan sebuah senyuman dan pelukan hangat.

***

Aku masih duduk seorang diri di bangku kelas untuk menyelesaikan catatanku; hanya seorang diri. Guru dan murid-murid yang lain, tidak ada seorangpun yang ada di ruang kelas ini. Bukan, mereka bukannya sudah pulang terlebih dahulu. Tapi mereka tahu bahwa hari ini adalah hari Minggu. Iya, hari ini adalah hari Minggu sehingga mereka tidak datang ke sekolah. Tapi aku tetap datang di hari Minggu ini, karena hanya di hari Minggu ini aku berkesempatan untuk duduk kembali mencicipi bangku kelas ini. Kalau di hari biasa, tentu mereka akan mengusirku karena mereka tahu aku sudah bukan lagi murid di sekolah ini.

Depok, 31 Maret, 22:29

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s