Kucing #2

Malem ini sekitar pukul 21.30, gue baru pulang kantor dan baru mendarat di rumah selepas sebelomnya jemput anak dan bini gue di rumah mertua. Ketika gue ngebuka pager rumah, di garasi ada seekor kucing yang kemudian lari kabur menghilang entah kemana setelah melihat gue dateng. Sementara di depan pintu rumah, sekilas gue ngeliat ada seonggok kucing kecil warna item, tapi gue abaikan karena kemudian gue harus balik ke mobil lagi untuk masukin mobil ke dalem garasi.

Setelah mobil masuk garasi, dan bini gue udah turun dari mobil dan masuk ke rumah sembari menggendong anak gue yang baru berumur 3 bulan, bini gue berujar, “ih tadi ada anak kucing mau masuk ke dalem rumah. Masih kecil banget, kasian ngeliatnya! Itu ibunya kemana?”

Secara umum bini gue termasuk manusia yang ga begitu doyan sama kucing. Agak-agak takut dan geli gimana gitu, tapi ga sampe ke tahapan sarkastis bin sadistis binti barbarian yang sampe ngusir kucing sambal nimpuk-nimpuk segala. Tapi kali ini beliau merasa iba ngeliat ada anak kucing teronggok sendirian. Ya, itulah suara hati seorang ibu: ga akan tega melihat ada anak yang berkelana sendirian tanpa asuhan orangtuanya.

“Tadi pas gue buka pager sih ada kucing gede warna putih, tapi terus lari pas gue dateng”, gue menimpali bini gue. Gue ngelanjutin, “tolong siapin kaya mangkok yang agak kecil buat dia minum, sama kalo ada makanan apa gitu.” Bini gue segera menindaklanjuti apa yang gue anjurkan.

Akhirnya dapet lah kita semacem toples kecil yang pinggirannya agak rendah. Toples itu gue isi air putih dari galon, kemudian gue keluar ke teras rumah dan menyorongkan toples berisi air itu ke si anak kucing item. Si anak kucing item mengeong-ngeong lemah, dan gue masih belom jelas apakah si anak kucing ini sebenernya udah bias ngeliat atau belom. Lalu gue pegang bagian belakang leher si anak kucing dan gue angkat untuk dideketin ke toples air minum tadi. Tapi si anak kucing masih aja mengeong-ngeong dan ga nyentuh air minumnya sama sekali.

Ga lama kemudian bini gue nongol sembari membawa roti tawar yang baru banget kita beli pas perjalanan pulang tadi; roti tawar yang biasanya selalu gue bawa untuk bekal ke kantor. Beralaskan tissue, roti tawar tadi gue sobek kecil-kecil, gue taro di tissue dan gue sodorkan ke si anak kucing item. Sekali lagi, si anak kucing item ini tetap bergeming ga mau makan, cuma mengeong-ngeong doang.

Selagi gue nyodorin makanan dan minuman itu ke si kucing, sepintas gue denger ada bunyi kresek-kresek dari meja di teras, tapi gue ga begitu peduliin. Sampe tiba-tiba gue ngeliat laci yang ada di bawah meja itu kok posisinya kebuka sedikit, dan di dalem laci itu ada nyembul punggung kucing dewasa yang warnanya keabu-abuan. Pelan-pelan gue buka laci itu, dan sontak si kucing dewasa abu-abu bangun dan segera kabur meloncat ke sisi seberang. Setelah laci itu gue buka sepenuhnya, ternyata di dalemnya ada lagi 2 ekor anak kucing: yang satu warna abu-abu kaya emaknya, yang satu lagi warna putih. Total ada 3 ekor anak kucing di teras rumah gue malem ini, dengan 1 ekor kucing dewasa warna abu-abu, plus 1 ekor kucing dewasa warna putih yang udah menghilang sejak gue buka pager pas baru banget dateng tadi.

Si kucing dewasa abu-abu, yang gue asumsikan sebagai emaknya, agak takut-takut untuk mendekat ke gue. Selagi gue ngelus-ngelus ketiga anak kucing, si kucing dewasa abu-abu hanya bisa melihat dan menjaga jarak dengan tatapan mata penuh curiga. Kemudian gue menyodorkan secuil remahan roti ke arah kucing dewasa itu, dan dengan berjalan perlahan dia mendekati dan menyorongkan moncongnya ke remahan roti yang gue tawarkan. Happp… Lalu dimakan.

Berikutnya, gue sodorin tissue yang diatasnya ada sobekan roti tawar beserta toples berisi air minum yang tadinya untuk si anak kucing item ke si kucing dewasa abu-abu. Si kucing dewasa ini mendekati sobekan roti tawar dan memakan cuilan-cuilan rotinya. Akhirnya gue meninggalkan si kucing dewasa beserta 3 ekor anak kucingnya di teras depan, karena gue juga masih punya bayi berumur 3 bulan yang juga butuh perhatian.

Besok paginya, selepas bangun tidur gue segera meluncur ke teras rumah untuk mengecek kondisi keluarga kucing tadi. Dan sesampainya di teras, ternyata keluarga kucing tadi udah ga ada. Ya mungkin mereka sudah bermigrasi ke tempat baru yang lebih layak. Namun kemanapun mereka pergi, gue berterima kasih karena mereka telah menjadikan teras rumah gue sebagai tempat persinggahan walaupun hanya sementara.

***

Beberapa waktu sebelomnya, gue pernah nulis postingan mengenai kucing liar yang sering berkeliaran di sekitar kita. Lengkapnya bias klik disini: https://ckinknoazoro.wordpress.com/2014/09/21/kucing/ . Dan ya, tanpa perlu berlama-lama, sekali lagi gue ngingetin diri pribadi dan kita semua bahwa kucing juga merupakan makhluk hidup ciptaan-Nya yang perlu disayangi sebagaimana kita memperlakukan makhluk hidup lainnya.

Jakarta, 13 Mei 2015, 19:32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s