Heroes

Aku berdiri mematung memandangi dua orang terbaring penuh darah di hadapanku, Motor yang mereka tunggangi tergeletak bagai barang rongsokan tak jauh dari tempatku berdiri.Bagian depan mobil Soluna hadiah dari ayahku atas keberhasilanku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri favorit sedikit penyok, hanya lampunya saja yang hancur dan pecah berantakan. Sementara orang-orang mulai datang menghampiri dan mengelilingi diriku.

Aku tidak ingat apa-apa.Yang aku tahu hanyalah bahwa setelah itu tanganku telah terikat dengan rantai borgol dan aku dibawa naik ke kendaraan dengan bak terbuka oleh petugas berseragam coklat. Ramai suara orang-orang berteriak, namun aku tidak dapat mendengar dengan jelas teriakan mereka: apakah mereka meneriakkan kemenangan ataukah kebencian. Perlahan kesadaranku menghilang dan yang kulihat selanjutnya hanyalah gelap.

***

Malam itu aku baru saja menghadiri acara farewell party rekan kerjaku yang harus resign dikarenakania memperoleh tantangan baru di tempat lain. Kami menghabiskan malam dengan makan besar dilanjutkan dengan karaokean dan sharing session mengenai kesan pesan rekanku itu selama bekerja di tempat kerjaku. Aku memacu Soluna keluar parkirankantor, diiringi oleh suara radio favoritku yang memutar lagu-lagu populer masa kini.

Jalanan malan mini sudah agak sepi, mengingat waktu pun telah menunjukkan pukul 00.30. Setelah menempuh perjalanan dari kantor selama sekitar 30 menit, sampailah aku di pintu gerbang kota tempat aku tinggal; sebuah kota yang kini dikenal oleh masyarakat luas atas kejadian pembegalan yang marak terjadi akhir-akhir ini. Ya, “Kota Begal”, begitu mereka menyebutnya. Entah sejak kapana istilah itu mulai tersebar luas, yang jelas penyebutan itu membuat masyarakat menjadi tidak nyaman lagi jika harus melintasi kota ini seorang diri, khususnya di jam-jam rawan di malam hari.

Aku pernah memiliki cerita buruk mengenai pembegalan, jauh sebelum kota ini terkenal dengan sebutan Kota Begal. Ketika itu aku masih berusia sangat muda, bersama kedua orangtuaku kami menjenguk salah seorang paman di rumah sakit. Kondisinya sangat mengenaskan: tangan kanannya putus dan bahu kirinya sobek dengan luka yang menganga. Pamanku, yang biasa kami panggil dengan sebutan Om Ed, baru saja menjadi korban kebengisan para pembegal.

Ketika itu Om Ed sedang dalam perjalanan pulang dari kantor setelah bekerja di shift malam, dimana waktu menunjukkan sekitar pukul 01.00. Di tengah perjalanan motornya dipepet oleh 2 motor dari sisi kanan dan kiri, masing-masing motor terdiri dari 2 orang. Orang di motor kiri yang duduk di belakang tiba-tiba mengeluarkan clurit dan langsung mengayunkannya ke arah Om Ed mengenai bahu kirinya, sehingga ia jatuh tersungkur bersama motornya. Dalam posisi terjatuh, salah seorang dari mereka kemudian turun dari motornya untuk dengan cepat mengambil motor Om Ed dan segera menungganginya. Om Ed mencoba menahan dengan memegangi motor tersebut dengan tangan kanannya, namun nahas, pelaku kembali mengayunkan cluritnya ke tangan Om Ed supaya terlepas dari motor tersebut. Akhirnya pelaku berhasil membawa kabur motor Om Ed, meninggalkan Om Ed terkapar sendirian di pinggir jalan.

Sejak saat itu, karena keterbatasan fisiknya kemudian Om Ed dipindahtugaskan dari pekerjaannya, dengan penghasilan yang lebih kecil tentunya. Motor yang jadi kendaraan satu-satunya untuk Om Ed mengantar anak-anaknya sekolah kini sudah tidak ada. Bahkan dengan kondisinya yang seperti itu, banyak tetangga Om Ed yang malah mencibirnya karena ia memilih untuk mempertahankan motornya. Sebaiknya diserahkan saja motornya, tak perlu coba melawan, begitu kata tetangga.

Dentuman lagu berjudul Heroes dari Alesso feat Tove Lo yang mengalun dari radio Soluna menyadarkanku dari lamunanku akan Om Ed. Entah mengapa meskipun aku bukan seorang yang gemar bergelut dengan dunia malam, namun aku selalu suka mendengar bagian interlude dari lagu ini; seakan-akan membuat semangatku membara dan membuatku berdendang mengikuti alunannya.

Aku masih sekitar 15 menit perjalanan lagi untuk sampai ke rumah.Anak dan istriku pasti telah tidur, kecuali kalau anakku yang baru berusia 2 bulan sedang merengek-rengek dengan tangisannya; entah karena popoknya basah atau karena kehausan. Belum selesai lamunanku akan kelucuan anakku yang masih bayi, aku melihat pemandangan yang ganji tak jauh di depanku.

Aku melihat seorang lelaki tua jatuh tertelungkup di trotoar. Punggungnya berdarah! Persis 2 meter di dekatnya, aku melihat 4 orang lelaki berjaket hitam dan helm full face: 2 orang berboncengan berada di atas 1 motor, 1 orang lainnya berada di atas 1 motor, dan 1 orang sedang mengangkat motor yang posisinya terjatuh. Pembegalan! Ini pembegalan dan aku menjadi satu-satunya saksi pembegalan ini! Akhirnya si lelaki berhasil mengangkat motor yang posisinya tadi terjatuh, segera menyalakan mesinnya, dan mereka ber-empat kabur meniggalkan lelaki tua yang baru saja menjadi korban aksi pembegalan mereka.

Aku bisa saja menghentikan Soluna ku untuk turun dan menolong lelaki tua itu, namun entah mengapa bukan hal itu yang ada di pikiranku saat ini. Aku teringat akan pamanku: Om Ed. Aku teringat bagaimana kini dia kurang mendapat tempat di pekerjaannya dan bagaimana dia harus menjalani sisa hidupnya dengan kondisi fisik yang tidak sempurna sebagaimana manusia lainnya. Aku teringat, Om Ed menjadi seperti itu karena para pembegal! Kehidupan Om Ed telah berubah tidak seperti dulu lagi, namun si pembegal masih bisa bebas berkeliaran dengan segala kebengisannya! Sehingga yang ada di pikiranku adalah aku harus menangkap pembegal yang baru saja melintas di depan mataku, meninggalkan lelaki tua tergeletak di pinggir jalan seorang diri.

Sejak kecil aku gemar bermain video game, khususnya game balap mobil seperti Gran Tourismo atau Need for Speed. Sehingga bukan hal yang sulit bagiku ketika aku telah memperoleh SIM dan mengendarai mobil di dunia nyata untuk berlaku layaknya seorang pembalap di video game.Aku memacu Soluna ku sekuat tenaga supaya bisa mengejar para pelaku pembegalan itu. Bagaimanapun caranya, aku harus menangkapnya!

100 kilometer per jam memang bukan hal yang sulit bagi Soluna, apalagi di jalanan yang sepi seperti malam hari ini. Tak perlu waktu lama bagiku untuk mengejar 3 motor pelaku begal itu, namun sepertinya mereka menyadari bahwa ada yang mengejarnya. Mereka pun segera menambah kecepatannya dan sekali lagi, bukan hal sulit bagiku untuk segera menyusulnya.

140 kilometer per jam. Salah satu motor pelaku yang ditumpangi oleh 2 orang kini sudah persis berada di moncong Soluna ku. Aku tekan pedal gas sekali lagi dan BRAAAAKKK…!!! Moncong Soluna ku menyundul motor tersebut, membuatnya jatuh tersungkur dan terseret sejauh belasan meter.

Aku segera menginjak pedal rem dalam-dalam, mencoba menghentikan laju Soluna ku. Melalui kaca spion aku dapat melihat bahwa pelaku yang tadi kutabrak mencoba untuk bangkit kembali dan kabur dengan motornya.Aku memasukkan gigi mundur dan dengan kemampuan menyetirku aku berhasil menabrakkan bemper belakangku untuk membuat mereka terjatuh lagi.

Ada kepuasan tersendiri ketika bemper Soluna ku menghantam motornya. Entah perasaan apa namanya, yang jelas aku merasakan kepuasan yang amat sangat, membuatku ingin melakukannya lagi dan lagi, berkali-kali. Aku melihat kedua pelaku sekali lagi mencoba mengangkat motornya untuk kabur, namun dengan perasaan yang meluap-luap ini sekali lagi aku tabrakkan Soluna ku, membuat motor itu kini ringsek dan aku pastikan motor itu tidak akan dapat digunakan lagi.

Mengetahui motornya sudah sedemikian parah kerusakannya, pelaku mencoba berlari ke arah motor kedua rekannya yang ternyata menunggu agak jauh dan hanya bisa menyaksikan rekannya menjadi bulan-bulanan keganasanku. Aku tidak tinggal diam. Menabrak motor saja aku sudah mengalami kepuasan yang teramat sangat, lalu akan seperti apa rasanya jika yang aku tabrak adalah manusia? Begitu pikirku dalam hati.

Tanpa pikir panjang, aku tekan pedal gas dalam-dalam. Kuarahkan Soluna ku kepada dua orang pelaku yang sedang berlari mendekati rekannya yang telah menunggu di atas motor. Persis sebelum mereka mampu meraih motor rekannya, moncong Soluna ku telah menghantam perut mereka.Dan aku merasa bahagia.Sangat bahagia.

***

Kini aku sudah duduk manis di kantor polisi. Dua orang polisi duduk di hadapanku: salah seorang dari mereka sedang menanyakan bermacam-macam pertanyaan kepadaku, sementara yang seorang lagi sedang mengetik di atas komputernya. Aku tidak dapat mendengar jelas apa yang ia tanyakan, dan aku juga tidak sadar atas jawaban-jawaban yang aku berikan. Yang aku dengar hanyalah lirik lagu Heroes yang terus saja terngiang-ngiang di kepalaku.

“We could be heroes, me and you…”

Depok, 27 Maret 2015, 22:49

4 Comments Add yours

  1. mantep..
    mampir yaa..

    1. ckinknoazoro says:

      yoi gan. situs ente mantep!

  2. krismansyah says:

    Bagus ren alurnya. Coba kirim ke majalah/surat kabar.

    1. ckinknoazoro says:

      boleh. gue coba dulu ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s