DCHLessonLearned

Sebelom ngebaca tulisan ini, gue saranin lu pada ngebaca tulisan-tulisan gue sebelomnya yang berjudul “DCH” dari seri 1 sampe seri 4. Gue harap untuk selanjutnya ga akan ada lagi tulisan-tulisan seputar DCH sehingga disini gue akan mengakhirinya dengan sebuah lesson learned a.k.a pembelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita tersebut.

Pertama-tama gue mengakui bahwa si C ini adalah seekor manusia yang telat dewasa. Bukan telat puber atau telat mimpi basah, apalagi telat datang bulan, tetapi kematangan sosialnya agak terlambat. Sebelom usia 18 tahun atau sebelom dia dicemplungkan untuk kuliah dan hidup mandiri di Jogja, kehidupannya hanya berkutat antara buku pelajaran di sekolah, video game strategi perang-perangan di komputer, atau ngulik bassnya lagu-lagu Jepang. Pinter sih, tapi minim interaksi dengan manusia. Terbukti dari hasil psikotesnya selama 3 tahun berturut-turut yang menyatakan bahwa biarpun si C ini rajin, disiplin, tekun, cermat dan teliti, namun kematangan sosial dan kepercayaan dirinya amat sangat rendah. Jadi ketika harus berhadapan sama orang lain, apalagi lawan jenis, ya jangan berharap banyak lah sama makhluk macem si C ini.

Yang kedua, if you want something, go and get it. Don’t just sitting there like a bunch of sh*t. Sederhananya, kalo kita ke restoran dan mau pesen makanan, pasti kita ngomong ke pelayannya kan, menyebutkan menu apa yang mau kita pilih. Begitupun dalam kehidupan dan relationshit: kalo mau kenalan sama orang, ya lu ngomong sama orang itu. Say hello, kenalan, basa-basi atau apa lah. If you just doing nothing, well hello… Gimana lu mau kenalan sama dia? Berharap dia duluan yang ngedatengin lu? Oh please don’t make me laugh…

Yang ketiga, penyesalan selalu datang belakangan. Kalo datangnya duluan itu namanya pendaftaran, sementara kalo ga datang-datang itu namanya ketinggalan. Si C hanya bisa menyesal ga pernah memanfaatkan masa-masa dimana mereka duduk bersebelahan, masa-masa dimana D masih mau menyapa, masa-masa dimana mereka masih bisa saling bertatap muka, dan sebagainya. Kini semua hanya tinggal cerita lama yang semakin diingat semakin meyayat luka.

Yang keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Eh itu mah teks Pancasila ya… Maksud gue, yang keempat perbanyaklah berpuasa, dan yang kelima dzikir malam perpanjanglah. Dih itu mah lirik lagu Tombo Ati nya si Opik. Opik-Kumis.

Gue ulang lagi deh. Yang keempat, di masa depan nanti kita akan menyesali hal-hal yang tidak pernah kita lakukan instead of menyesali hal-hal yang pernah kita lakukan di masa muda. Kenapa dulu gue ga begini ya? Kenapa gue dulu ga begitu ya? Ah coba gue ngelakuin ini dari dulu! Dan lain sebagainya.

Mumpung lu masih muda, masih sehat dan bertenaga, just do everything what you wanna do, yang masih dalam koridor tentunya. Karena di masa tua nanti lu akan lebih bangga kalo cerita gini ke anak lu:

Papa dulu jaman muda suka manjat pohon rambutan tetangga sebelah, sekalian sambil ngintipin pembantu sebelah lagi mandi.”

“Ih papa macem apa ini… Pembantunya mulus ya Pah?”

“Ga kok, berbulu. Kan pembantunya cowok…”

“…………………..”

Daripada seperti ini:

“Papa dulu jaman muda udah namatin Vandal Hearts 2 lebih dari 10x, sampe papa apal bonus endingnya kaya gimana. Dulu level hero papa udah sampe 99 dan HP sama MP nya udah diatas 2000. BP papa juga masih sisa 65000.”

“………………………”

“Cuaca cerah ya Nak…”

Apakah kini C meratapi dan mengutuki apa yang terjadi di masa lalu? Bisa ya, bisa ga. Tapi yang terpenting adalah bahwa Allah maha mengetahui apa-apa yang manusia ga ketahui. Mungkin ada hikmah yang Dia sampaikan dari kejadian masa lalu yang mengantarkan kita semua menjadi seperti kita di hari ini. Bahwa masa lalu adalah pembelajaran, ya itu benar. Dan bukan manusia namanya kalo selalu terjebak di kesalahan yang sama; kalo ga bisa mengambil pelajaran dan membuat perbaikan untuk ke depannya.

Namun pada akhirnya C tetap bersyukur atas apa yang telah dia alami. Justru hal-hal seperti itulah yang membuat hidupnya lebih berwarna. Dan kini bukan saatnya lagi untuk malu, gengsi atau sembunyi dari masa lalu, tetapi inilah waktunya untuk menertawakan masa lalu.

“Seseorang telah mencapai tingkat kedewasaan yang lebih tinggi ketika dia tidak lagi menutup diri dari masa lalunya, melainkan ketika dia berani untuk menertawakan masa lalunya bersama orang-orang disekitarnya.”

Dan terakhir, being a loser is not an option. Being a champion is a must. Apa yang lu mau, lu harus mengusahakannya dengan tangan lu sendiri untuk mendapatkannya. Ikhtiar selalu disebut lebih awal dari tawakkal, karena lu emang perlu berusaha dulu. Setelah lu merasa usaha lu udah maksimal semaksimal-maksimalnya, biarkan ketetapan Allah yang menjawabnya. Jangan hanya duduk manis di pojokan dan berharap semua bakal datengin lu dengan sendirinya.

“If you don’t pick it, nobody will pick it up to you. Otherwise someone will pick it up for him/herself. So, just go out and f*cking get it.”

Jujuhan,15 Oktober 2014, 17:57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s