MasihAdaOrangBaik

Siang menjelang sore di bandara Supadio, Pontianak. Gue bergegas untuk check in di counter maskapai singa udara. Seperti biasa, gue selalu minta kursi di deket pintu darurat,, demi mengakomodir kaki gue yang panjangnya diatas rata-rata. Kaki gue aja panjangnya diatas rata-rata, apalagi anu gue ya… Tangan gue, maksudnya.

Namun karena siang itu gue datang ke bandaranya udah agak telat, udah mepet sama jam boarding, apa daya kursi pintu darurat ga gue dapat. Jadilah gue minta kursi yang nempel jendela, terserah di baris mana aja. Tapi kalo bisa sih di nomor D, E atau F. Kenapa? Karena posisi duduk D, E dan F berada di sebelah kanan pesawat, sementara belahan rok nya si pramugari ada di sebelah kiri. Jadi, ya… Lu tau lah yang gue maksud hahaha…

Akhirnya dapetlah gue di barisan agak belakang, kira-kira 3 baris dari belakang, kursi F yang mepet jendela. Untuk mempersingkat cerita, penumpang dipersilahkan masuk ke pesawat dan karena gue sigap menangkap peluang serta jalan gue cepet, gue termasuk golongan orang-orang yang pertama kali masuk ke pesawat. Duduklah gue di kursi. Dan ga lama kemudian orang sederetan gue yang duduk di D dan E juga pada berdatangan. Orang yang duduk di kursi D kita sebut saja si Pak D, dan yang di kursi E kita sebut saja si Pak E.

Sembari asik menikmati pramugari yang berlalu lalang membantu para penumpang, tiba-tiba terdengar keributan. Bukan keributan sih sebenernya, tapi ada kejadian begini: ada seorang perempuan yang berusia 25 sampai 30 tahunan sedang menggendong anaknya yang kira-kira berusia 2 sampai 4 tahunan. Si perempuan ini, kita sebut saja Cik Mey (bukan nama sebenarnya) dan anak perempuannya, kita sebut saja Cik Yen (juga bukan nama sebenarnya) datang mengadu ke pramugari di kabin belakang. Aduannya adalah: Cik Mey dan Cik Yen di tiketnya mendapatkan tempat duduk yang terpisah satu sama lain, padahal si Cik Mey maunya harus sebelahan sama Cik Yen mengingat usia Cik Yen yang masih sangat kecil. Nah tapi orang-orang yang duduknya di sebelah Cik Mey dan Cik Yen ini sama sekali ga ada yang mau mengalah untuk tukeran kursi. Jadilah si Cik Mey mengadu ke pramugari.

Pramugari pun mendatangi kursi tempat Cik Mey dan Cik Yen berada, lalu memohon kepada orang-orang yang duduk disitu (yang kesemuanya adalah laki-laki, lebih tepatnya bapak-bapak) untuk ada yang bersedia menukar kursinya karena si Cik Mey dan Cik Yen ini harus bersebelahan. Tapi you know what, ga ada satupun orang itu yang mau mengalah. Merasa usahanya sia-sia, pramugari pun menyuruh Cik Mey dan Cik Yen menepi sejenak ke belakang, menunggu para penumpang lainnya duduk di kursi masing-masing sembari berharap akan ada kursi kosong tersisa yang bisa mereka tempati berdua.

Keributan ini terdengan sampe ke kursi di barisan gue, karena kursi nya si Cik Mey sama Cik Yen kira-kira cuma 5 sampe 7 baris di depan gue. Bapak-bapak yang duduk di sebelah gue, di kursi E alias Pak E, bertanya ada masalah apa. Lalu si Cik Mey menjelaskan kejadian yang dialaminya. Tanpa ba-bi-bu dan tanpa banyak cingcong, si Pak E lalu mengajak orang yang duduk di kursi D a.k.a Pak D (yang notabene mereka juga ga saling kenal) untuk mengalah memberikan kursi mereka kepada Cik Mey dan Cik Yen, sementara mereka berpindah menempati kursi aslinya si Cik Mey dan Cik Yen.

Melihat hal tersebut, Cik Mey dengan segala kesederhanaannya mengucapkan terima kasih banyak kepada Pak E dan Pak D. Akhirnya Pak E dan Pak D beranjak dari kursinya dan duduk di kursi aslinya Cik Mey dan Cik Yen, sementara Cik Mey dan Cik Yen kini duduk persis di sebelah gue, bukan di pangkuan gue. Gue sendiri tetep duduk manis di kursi F, memandangi segala kejadian ini. Lebih tepatnya, memandangi sang pramugari.

***

Sekitar pukul 7 pagi, sue sama bini gue lagi sarapan soto ayam di tempat jajanan depan Taman Makam Pahlawan Kalibata. Jam segitu kita udah sarapan jauh dari rumah dikarenakan pagi itu gue harus mengantar mobil Terios gue ke rekan kerja gue di apartemen Pancoran Riverside dikarenakan dia mau menyewa mobil gue untuk dipake acara kantor outbound di Lembang.

Selagi asik makan yang lokasinya di semacam tempat parker, kira-kira +-15 meter dari jalan, di jalanan situ gue melihat ada seorang pemulung sedang menarik gerobaknya dengan kondisi muatan yang cukup overload. Dia telihat agak kesulitan menarik gerobaknya di jalanan yang mengarah dari pertigaan TMP menuju stasiun Kalibata yang agak menanjak. Sekuat tenaga dia tarik gerobak itu, dan gerobak berjalan dengan pelan.

Di tengah-tengah kesulitannya menarik gerobaknya, tiba-tiba salah seorang satpam yang sedang berjaga di instansi di deket situ segera menghampiri dari arah belakang dan membantu mendorong gerobaknya si pemulung. Karena ukuran gerobak yang agak besar, kalo dilihat dari depan si satpam ini sebenernya posisinya agak tersembunyi. Dan karena si satpam langsung bantu mendorong tanpa ngomong apa-apa ke si pemulung, maka gue asumsikan si pemulung ga tau kalo si satpam ini ikutan bantu dorong (meskipun gue berasumsi lagi bahwa dia pasti ngerasa ada yang bantu, karena tarikan gerobaknya yang terasa lebih enteng).

Lumayan lama si satpam ini ngebantu dorongin gerobaknya si pemulung. Sampai akhirnya jalanan dirasa udah agak datar dan ga nanjak lagi, akhirnya si satpam melepaskan tangannya dari gerobak si pemulung dan bergegas kembali ke pos jaga nya. Si pemulung tetap melanjutkan perjalanannya tanpa menoleh sedikitpun, mungkin karena dia memang sudah lelah. Dan gue juga tetap melanjutkan menyantap soto ayam yang ada di hadapan gue.

***

Masih ada orang baik. Sebagaimana judul tulisan ini yang terinspirasi dari 2 cerita di atas, ya, memang masih ada orang baik di dunia ini, lebih tepatnya di sekitar kita. Orang-orang yang “kurang baik” (kalo “orang jahat” kok kesannya antagonis dan villain banget ya) memang pasti ada, seperti para penumpang di sekitar kursinya Cik Mey dan CIk Yen yang ga mau mengalah di cerita pertama (atau bahkan si petugas check in yang menempatkan Cik Mey dan Cik Yen di kursi yang berbeda, padahal mereka ibu dan anak kecil. Kecuali kalo emang mereka check in nya telat sehingga hanya kebagian kursi sisa), atau orang-orang lainnnya yang berlalu lalang dan berpapasan dengan si pemulung tapi enggan memberikan tenaganya untuk membantu mendorong gerobak si pemulung, orang-orang kaya gitu pasti ada. Tapi, sekali lagi, orang baik pun juga pasti ada. Atau “masih” ada, kalo lu ngerasa bahwa kehadirannya kini udah jarang ditemui.

Gue ga akan cerita panjang lebar lagi karena gue tau sejak kecil mata pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, atau mungkin PMP a.k.a Pendidikan Moral Pancasila kalo zaman lu beda sama zaman gue) telah mengajarkan kita hal-hal sedemikian. Tapi dengan dunia yang semakin berkembang ke arah individualis nan hedonis ini, nilai-nilai itu seakan-akan sudah musnah dan menjadi barang yang langka. Kalo memang lingkungan kita ga memberikan nilai-nilai seperti itu, kita patut mengevaluasi diri apakah jangan-jangan diri kita pun udah ga lagi punya nilai-nilai kaya gitu. Tapi kalo lingkungan kita masih menonjolkan nilai-nilai saling menolong, saling memberi, saling berbagi dan sebagainya, maka patutlah kita bersyukur bahwa kita ditempatkan di lingkungan yang seperti itu.

Pada akhirnya, sekali lagi, di dunia ini masih ada orang baik. Masih ada. Entah itu di sekitar kita, atau di belahan dunia sebelah manapun, atau di pedalaman manapun, atau bahkan di Bekasi yang jauhnya kebangetan sekalipun, pasti ada orang-orang yang masih memiliki nilai-nilai di dalam dirinya. Dan yang terpenting, bukankah lebih baik jika kita menanamkan kepada diri kita sendiri untuk menjadi pribadi yang selalu berbuat baik kepada segala sesuatu di sekitar kita? Tak perlu menunggu orang lain berbuat baik, tapi jika kita mampu berbuat baik, maka lakukanlah semampu kita.

Muara Bungo, 13 Oktober 2014, 23:44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s