Banci#2

Indonesia lagi rame dengan isu berikut ini: Pemilihan Kepala Daerah a.k.a Pilkada kini ga akan lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan akan dipilih via Dewan Perwakilan Rakyat Daerah a.k.a DPRD, kembali seperti jaman dulu lagi. Keputusan ini baru saja disahkan oleh para dewan -yang katanya “terhormat”- dalam sidang di Senayan sana. Disini gue ga akan mengomentari pergantian dari Pilkada langsung ke Pilkada ga langsung ini, melainkan terkait apa yang terjadi di dalam sidang tersebut.

Pertama-tama, jujur gue ga ngikutin secara keseluruhan atau bahkan sebagian kecil dari sidang tersebut. Bukan karena gue ga punya waktu karena harus kerja di pabrik, bukan. Melainkan karena nonton sidang ginian pun ga ada gunanya dan ga ada nilai tambah yang bisa kamu terima. Kenapa? Ya udah pada tau lah ya, Senayan kan adalah Taman Kanak-Kanak terbesar dan termegah di Indonesia. Mulai dari anggota dewan yang kalo sidang jarang dateng dan suka titip absen, tidur, mainan gadget buka video bokep, maupun tingkah laku ketika menyampaikan pendapat, interupsi, sampai gontok-gontokan. Kebun binatang…

Kedua, jujur gue bukan seorang ahli ilmu pemerintahan atau semacamnya. Gue cuma rakyat jelata yang awam tata cara menjalankan fungsi legislatif, sehingga apapun yang gue tulis disini mohon jangan didakwa ke dalam undang-undang yang katanya bisa mempidanakan orang yang sedang mencoba menyuarakan pendapatnya. Entah apa itu namanya, gue ga ngerti lah. Anggap aja ini adalah obrolan ringan di warung kopi atau di angkringan yang kemudian gue abadikan dalam bentuk tulisan.

Balik lagi ke jalannya sidang. Di pagi hari ketika gue nonton televisi di salah satu hotel di Jambi karena gue lagi dinas luar, ada berita bahwa kemaren DPR telah mengesahkan undang-undang bahwa Pilkada akan dilangsungkan via DPRD, ga lagi langsung dipilih rakyat. Sekitar 200-an anggota memilih setuju pilkada via DPRD, 100-an anggota memilih pilkada langsung, dan ada 1 fraksi banci yang memilih untuk walk out a.k.a WO. Ya, banci. Ini yang akan jadi bahasan kita.

Sekali lagi Karena gue ga ngikutin jalannya sidang, gue ga tau gimana ceritanya si fraksi banci ini akhirnya WO dan keluar ruangan. Sempet denger sekilas sih karena mereka mengajukan opsi ketiga dan akhirnya ditolak, terus pada cabut deh. Se-mutung inikah para anggota dewan –yang katanya “terhormat”- ini sehingga harus kabur dari jalannya siding?

Opini gue pribadi, gue rasa kaburnya si fraksi banci ini adalah salah satu indikator dari karakteristik pemimpin puncaknya yang cenderung pengecut dan main aman sendiri. Kita inget pas di pemilu presiden tahun 2014 ini. Ada partai-partai yang dengan tegas memilih berkoalisi dengan si nomor 1, ada partai-partai yang dengan tegas memilih berkoalisi dengan si nomor 2, nah sementara si partai banci ini sampai jalannya pemilu sama sekali ga mengambil sikap. Ga ikut nomor 1, ga ikut nomor 2. Intinya, main aman. Banci, ga berani ngambil keputusan.

Kemudian terkait kelakuan pemimpinnya yang punya kuasa besar di Negara ini, tapi ga berani ngambil keputusan apa-apa dan hanya bisa berkata, “Saya prihatin.” Hanya bisa memberi instruksi, tapi ga berani mengeksekusi. Ketika subsidi BBM udah di ujung tanduk dan harus dicabut sebagian demi menyelamatkan negara secara jangka panjang, maka demi alasan citra dan popularitas si banci ini memilih untuk menolak melakukannya dan menyerahkan PR ini ke pemimpin berikutnya, hanya karena takut kebijakannya di-cap ga populis.

Lalu terkait WO di sidang ini, jelas, dia main aman. Di satu sisi kalo dia ikut yang mendukung Pilkada via DPRD, dia bakal punya banyak koalisi di dewan tapi dimusuhi rakyat karena ga populis. Di sisi lain kalo dia tetap setuju Pilkada langsung, jelas posisinya di dewan ga bakal aman karena akan banyak oposisinya. Jadi yang paling aman ya WO aja deh, seakan-akan lepas tangan dan berkata “lah gue kan ga ikutan sidang, jadi gue ga bertanggung jawab terhadap hasilnya nanti!”

Padahal nih ya, padahal, sejatinya anggota dewan itu kan –sesuai namanya- adalah perwakilan rakyat. Mereka duduk di kursi itu untuk mewakili suara rakyat. Kalo mereka malah kabur dan ga ikut andil ngasih suara, bukankah artinya mereka mengkhianati kepercayaan rakyat yang udah memilih mereka? Mungkin, sekali lagi mungkin, para simpatisan mereka masih pengen Pilkada langsung. Tapi karena banci dan mau main aman sendiri, jadilah mereka memilih WO aja, demi menyelamatkan kepentingan segelintir orang-orang disana.

Apa jadinya kalo rakyat di negara ini diwakili oleh orang-orang pengecut seperti itu? Ngakunya sih mewakili suara rakyat. Ngakunya. Tapi kalo ga berani bersuara dan malah kabur mau main aman, apa iya yang kaya gini masih bisa dianggap mewakili?

Di malam harinya iseng-iseng buka berita, si ketua partai fraksi pengecut ini bersuara bahwa dia ga setuju dengan keputusan partainya untuk WO. Katanya sih akan mencari dalang dibalik pengusul WO ini. Ah, sekali lagi gue ga tau, apakah dia emang tulus berkata demikian atau sekali lagi, hanya mencari sensasi untuk menjaga citra dan popularitasnya supaya tetap dianggap dekat dengan rakyat?

Ya, inilah salah satu potret dari Indonesia. Gue harap lu bisa bertahan, tanpa gue tau entah sampe kapan.

Jambi, 26 September 2014, 21:18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s