Kucing

Gue baru aja pulang dari kantor. Setelah memarkir mobil di garasi dan menutup pager, gue beranjak masuk ke dalem rumah. Di teras rumah, dimana disitu gue menempatkan 3 biji kursi dan 1 ekor meja sebagai ruang tamu, terlihat ada seekor kucing lagi bobo-bobo lucu di atas meja yang dilapisi dengan semacem taplak. Melihat kehadiran gue, si kucing bangun sekilas dan menguap. Gue elus-elus kepala si kucing dan selanjutnya gue masuk ke dalam rumah, meninggalkan si kucing di teras sendirian.

Lain waktu, ketika di malam hari gue hendak menggembok pager rumah, di pojokan deket ban mobil gue gue ngeliat ada seekor emak kucing beserta 3 ekor anaknya yang lagi nenen. Si emak kucing tampak kelelahan, sementara si anak-anak kucing lagi asik ndusel-ndusel ke tetek emaknya. Ga banyak yang bisa gue lakukan, selain menggembok pager dan segera kembali masuk ke dalam rumah, membiarkan si emak kucing ini menyusui anak-anaknya.

Lain waktu lagi, selepas gue pulang dari kantor dan memarkir mobil di rumah, gue ngeliat ada seekor kucing lagi ngosrek-ngosrek tempat sampah di depan rumah gue. Entah apa yang dia cari, mungkin sesuap nasi untuk mengisi perutnya. Gue teringat akan bekal makan sore gue berupa roti tawar yang masih ada sisa beberapa tangkap. Gue panggil si kucing dan gue sodorkan roti itu ke dia. Dia diem aja, ga langsung makan roti yang gue kasih itu. Gue taro aja roti itu di jalanan dan gue tinggalkan si kucing beserta rotinya, berharap semoga si kucing pada akhirnya akan menikmati roti itu.

Bukan gue doang, mungkin lu semua punya cerita serupa: cerita tentang kucing liar yang berkeliaran di sekeliling rumah lu. Ada beberapa perbedaan pendapat di kalangan manusia terkait kucing liar yang eksis di rumahnya: ada golongan manusia yang tanpa tedeng aling-aling langsung mengusir si kucing dengan alasan bulunya bisa bikin rabies, suka buang air sembarangan, atau berisik kalo lagi ngeong-ngeong. Ada juga golongan manusia yang woles-woles aja terhadap si kucing. Dan meskipun sebagian besar manusia berada di golongan pertama, gue sendiri mendefinisikan gue ke dalam golongan yang kedua.

Entah kenapa, dari kecil gue emang udah demen sama kucing. Selain karena tetangga gue ada yang melihara kucing, buat gue sendiri kucing emang makhluk yang lucu-manis-imut dan menggemaskan, layaknya gue sendiri. Ditambah pas dulu jaman gue kecil di sekitar awal tahun 1990-an itu ada komik tentang kucing yang judulnya “Si Cerdik Michael”, kalo lu-lu pada inget.

Terlepas dari gue suka kucing atau gimana, menurut gue, kucing selaku salah satu makhluk ciptaan Tuhan juga punya hak yang sama untuk hidup. Mereka punya hak yang sama untuk merdeka, untuk bebas berpendapat, dan untuk berkembang biak. Dengan cara mereka sendiri tentunya, bukan dengan cara manusia.

Gue masih inget ketika dulu gue kecil, sering ada anak kucing yang masih kecil banget geletakan di jalan. Entah dia dibuang oleh emaknya, atau dia sengaja dipisahkan oleh golongan orang-orang yang ga suka dengan kucing, yaitu dengan cara memisahkan dia dengan emaknya dan dibuang ke tempat yang jauh. Apapun alasannya, si anak kucing tetep punya hak untuk hidup. Jadilah dulu gue sama temen-temen gue sering bawa pulang si anak kucing terlantar ini. Bukan ke rumah gue tentunya, karena emak gue ga suka kucing, tapi ke rumah temen-temen gue. Kemudian dengan properti seadanya semacam kardus bekas atau kotak pizza bekas, kita buat rumah-rumahan untuk si kucing. Kita lapisin tisu dan kapas supaya dia bisa tidur. Kemudian kita kasih air putih atau cemilan seadanya buat si kucing makan. Ya semacamnya lah, mungkin lu juga pernah punya pengalaman yang sama.

Ada salah satu momen ketika gue ngekos di Jogja, pagi hari sepulang kuliah tiba-tiba persis di depan pintu kamar kosan gue ada seekor anak kucing yang masih kecil banget. Sebelah matanya gue liat selalu tertutup: entah karena dia emang buta atau karena dia masih sedemikian kecilnya hingga matanya belom terbuka semua. Langsung gue ajak si kucing masuk ke kamar dan gue kasih cemilan seadanya yang ada di kamar gue. Agak siangan ketika gue ngantuk dan mau tidur siang, si kucing ini gue ajak ke kasur dan ikutan tidur di leher gue. Gue ga peduli apakah si kucing ini bakalan kencing atau boker atau gimana, yang gue tau adalah bahwa anak kucing, sebagaimana anak manusia di umur-umur segitu butuh kehangatan, dan salah satu caranya adalah dengan mendekatkannya ke dalam dekapan emaknya. Karena ga keliatan emaknya dimana ya gue aja yang ngedekap si kucing, sambil bobo siang bareng. Di sore hari ketika gue harus berangkat ke kampus untuk kuliah lagi, ga mungkin si kucing gue kunci sendirian di dalem kosan. Akhirnya gue taro dia di depan pintu kamar dan dengan berat hati gue berangkat ke kampus meninggalkan si kucing sendirian. Malemnya sepulang dari kampus, si kucing udah menghilang entah kemana dan ga kedengeran lagi kabarnya sampai detik ini.

Apapun alasannya, kucing juga punya hak untuk hidup. Ketika ada kucing numpang tidur di teras rumah kita, ya biarkanlah dia beristirahat disana. Tempat tinggal manusia dan kucing memang berbeda, tapi apa salahnya mengizinkan seekor kucing untuk menginap di rumah kita? Dia juga punya hak untuk tidur dan beristirahat, supaya di esok hari dia bisa kembali berburu mangsa dan meneruskan keturunannya.

Ketika ada emak kucing yang sedang nenenin anak-anaknya, bukankah ini adalah sebuah pelajaran bagi kita umat manusia? Disaat kita sok-sokan ngasih susu formula buat bayi-bayi kita, si emak kucing dengan segala kesusah-payahannya tetap memberikan nenen untuk bayi-bayinya. Bukan karena si kucing ga punya susu formula, bukan, melainkan karena ASI itulah salah satu bukti cinta seekor emak kepada anak-anaknya, bahkan bagi kucing sekalipun. Ketika ada kucing ngosrek-ngosrek tempat sampah, mungkin dia sedang ingin mengisi perutnya yang kelaparan. Entah sudah berapa lama dia ga dapet makan, tapi kita manusia yang dibekali akal dan pikiran untuk mengolah bahan makanan menjadi suatu masakan siap saji ada baiknya untuk membagi rezeki kita kepada si kucing, terlepas dari suka/ga sukanya si kucing dengan makanan yang kita kasih itu.

Anyway, inti dari tulisan ini adalah, bukan wewenang manusia untuk berlaku kasar kepada si kucing. Betapa sombongnya manusia yang mengusir kucing yang numpang tidur di teras rumahnya. Betapa sombongnya manusia yang suka berlaku kasar kepada kucing, semisal menimpuknya dengan batu, mengikat kakinya, atau yang paling buruk: menutup kepalanya dengan kantong plastik sehingga si kucing ga bisa melakukan apa-apa selain mengeong-ngeong sembari berjalan mundur, berharap si kantong plastik bakalan lepas dengan sendirinya. Whatever you said, kucing adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang juga punya hak untuk hidup di dunia ini, di tanah yang sama-sama kita pijak ini, di bawah langit yang sama-sama kita pandangi ini.

Kucing juga bisa berbicara, kucing juga bisa berdoa, kucing juga bisa berdzikir. Sekalipun yang didengar oleh telinga manusia hanyalah suara meong-meong, namun setiap meong itu memiliki makna. Kita ga tau mana meong yang berupa ucapan terima kasih dari si kucing kepada kita. Kita juga ga tau mana meong yang berupa doa si kucing kepada kita. Jangan terkejut jika suatu hari nanti, entah itu di dunia atau di akhirat, doa-doa si kucing akan dikabulkan dan kita akan diberikan kemudahan dan rezeki dari arah yang tidak kita sadari, yang semuanya berasal dari hal kecil: dari keikhlasan kita untuk menolong seekor kucing.

Depok, 21 September 2014, 20:58

One Comment Add yours

  1. Pingback: Kucing #2 | C-Kink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s