SeminarMakroEkonomi

Gue baru aja mengikuti seminar makro ekonomi yang diadakan oleh perusahaan tempat gue bekerja. Seminar ini memberikan gambaran mengenai prediksi kondisi perekonomian Indonesia di tahun 2015, sebagai landasan bagi perusahaan dalam merumuskan strateginya. Hasil dari ikut seminar makro ekonomi ini, selain menambah wawasan terhadap kondisi perekonomian ternyata juga membuat gue jadi geregetan, kaya lagunya Sherina. Kenapa geregetan? Yuk kita tekan tutsnya dan mainkan…!!!

Pertama, terkait subsidi energi, dalam hal ini adalah listrik dan BBM. Dari data yang dipaparkan disampaikan bahwa subsidi energi untuk tahun 2014 sebesar 350 triliun rupiah, dengan komposisi 103 triliun rupiah untuk listrik dan 247 triliun rupiah untuk BBM. Apakah angka tersebut besar atau kecil? Relatif sih, silahkan bandingin aja dengan dua data berikut ini: APBN RI di tahun 2014 sebesar 1800 triliun rupiah, sementara biaya untuk menyelenggarakan piala dunia 2014 di Brazil yang lalu, termasuk biaya pembangunan dan renovasi 12 stadion, menghabiskan biaya sebesar 170 triliun rupiah.

Kenapa geregetan? Karena ternyata subsidi BBM ini salah sasaran! Dari paparan tersebut, dikatakan bahwa misalkan kelas ekonomi di masyarakat kita bagi ke dalam 5 golongan berdasarkan dari yang paling miskin ke yang paling kaya. Maka distribusi pengguna subsidi tersebut adalah sebagai berikut:

Bahan Bakar Gol. 1 (miskin) Gol. 2 Gol. 3 Gol. 4 Gol. 5 (kaya)
Bensin 3% 6% 10% 19% 61%
Minyak tanah 19% 20% 21% 20% 21%
Diesel 7% 12% 16% 23% 42%
LPG 4% 8% 13% 21% 54%

Kecuali minyak tanah, mayoritas subsidi dinikmati oleh golongan ekonomi menengah ke atas! Dan itu menyedot sekitar 247 triliun rupiah APBN Negara, yang jika saja subsidi ini dicabut atau dikurangi maka dana nya bisa digunakan oleh Indonesia untuk menyelenggarakan Piala Dunia!

Kedua, terkait kejayaan masa lalu bahwa Indonesia adalah salah satu negara pengekspor minyak terbesar di dunia. Jaman dulu, kita sering diceritakan bahwa Indonesia adalah negara yang kaya minyak dan tergabung dalam OPEC. Faktanya, kini Indonesia sudah bukan lagi negara kaya minyak, sudah bukan lagi negara OPEC, bahkan sudah tidak termasuk ke dalam daftar negara pengekspor minyak terbesar di dunia.

Siapa negara yang memiliki cadangan minyak terbanyak saat ini? Jawabannya adalah Venezuela dengan 298 miliar barel, diikuti dengan Arab Saudi dengan 268 miliar barel dan Kanada dengan 173 miliar barel, sementara Indonesia cuma 4 miliar barel. Siapa negara produsen minyak terbesar saat ini? Dari total produksi dunia 84 juta barel per hari, contributor terbesar adalah Arab Saudi dengan 13,1%, diikuti Rusia dengan 12,6% dan Amerika Serikat dengan 9,3%. Indonesia? 1% pun ga sampai, atau lebih tepatnya 800 ribu barel per hari. Sementara dulu di masa jaya-jayanya Indonesia sempat memproduksi sampai 1,6 juta barel per hari. Sedangkan saat ini konsumsi minyak Indonesia adalah 1,4 juta barel per hari, sehingga setiap harinya kira-kira Indonesia perlu mengimpor minyak sebesar 600 ribu barel.

Lupakan semua cerita masa lalu bahwa Indonesia adalah negara kaya minyak, lupakan. Kini Indonesia adalah salah satu negara pengimpor minyak. Sudah minyaknya impor, kemudian diberikan subsidi bagi rakyatnya, eh subsidinya malah salah sasaran. Harga BBM dalam negeri menjadi kelewat murah dibanding negara tetangga, sehingga ga heran kalau di daerah perbatasan banyak BBM yang diselundupkan untuk dijual ke negara-negara tetangga.

Ketiga, terkait pendidikan. Dari sisi mobilitas pelajar, baik siswa maupun mahasiswa, Indonesia ga ada apa-apanya. Sumpah ga ada apa-apanya. Dari sekitar 230 jutaan penduduk Indonesia, pelajar nya yang bersekolah di luar negeri hanya ada sekitar 34 ribu orang. Untuk ukuran dunia, atau bahkan asia, angka ini bener-bener ga ada apa-apanya. Coba bandingkan dengan Singapura yang penduduknya lebih sedikit daripada penduduk Jakarta tetapi ada 20 ribuan pelajar nya yang bersekolah di luar negeri. Atau Malaysia, yang penduduknya juga lebih sedikit dari Indonesia tapi ada 54 ribuan pelajarnya di luar negeri. Bahkan untuk jumlah pelajar Malaysia ini masuk ke dalam 10 besar negara dengan mobilitas pelajar tertinggi di dunia (dari sisi jumlah pelajar, bukan rasio jumlah pelajar terhadap total penduduk). Ga heran kan kalau sekarang Malaysia jauh lebih maju daripada Indonesia?

Ada cerita menarik terkait pelajar Singapura. Si pembicara seminar bercerita, suatu ketika di Singapura dia naik taksi. Di taksi dia disapa oleh supir taksinya, ditanya dari mana, sibuk apa, dsb. Si supir taksi kemudian bercerita bahwa dia ingin anaknya menjadi seorang dokter gigi. Si pembicara yang agak kepo bertanya, sekarang si anak sedang dimana. Si supir taksi menjawab bahwa si anak sedang menempuh pendidikan dokter gigi di salah satu universitas terkemuka London. Si pembicara (yang dalam hari agak takjub karena masa iya anak supir taksi bisa kuliah di luar negeri) lanjut bertanya gimana ceritanya kok si anak bisa kuliah di sana, dan si supir menjawab bahwa anaknya mendapatkan beasiswa dari pemerintah Singapura.

Di kemudian hari si pembicara naik taksi lain dan seperti biasa diajak ngobrol sama si supir taksi. Ketika tau bahwa si pembicara dari Indonesia, si supir taksi bercerita bahwa anaknya baru saja menikah di Bali dengan perempuan Indonesia. Si pembicara yang emang kepo bertanya lah emangnya mereka berdua bisa ketemuan dimana, apa di Singapura, di Bali, di Jakarta atau dimana. Kemudian si supir taksi menjawab bahwa mereka bertemu ketika sama-sama sedang menempuh studi di salah satu universitas terkemuka di New York, dan sekali lagi dia bisa kesana karena beasiswa dari pemerintah Singapura.

Jadi kalo lu ngerasa udah sedemikian tajirnya hingga mampu menyekolahkan anak lu ke luar negeri, sejatinya lu ga jauh beda kok sama supir taksi di Singapura. Pfffttt…

Intinya adalah, pemerintah Singapura memberi kemudahan bagi warganya untuk menimba ilmu di luar negeri. Bukan untuk gengsi-gengsian, melainkan untuk meningkatkan daya saing kompetitif bangsa. Dari pembicaraan, mereka sadar bahwa Singapura ga punya sumber daya alam apa-apa, cuma punya sumber daya manusia yang jumlahnya pun masih kalah sama penduduk Jakarta. Untuk itulah mereka sebisa mungkin memberikan akses yang mudah supaya para penduduknya bisa bersaing secara kompetitif dengan penduduk dari negara lain. Sementara Indonesa? Oh please jangan buat gue tertawa…

Demikian kiranya sedikit hal yang bisa gue sampaikan terkait seminar makro ekonomi yang gue ikutin. Apa insightnya, ya silahkan lu semua bisa mengambil hikmah nya masing-masing. Satu hal yang pasti adalah jujur pada akhirnya gue semakin geregetan melihat kondisi negara ini. Udah negara sedemikian ngenesnya, ditambah lagi para pemimpinnya berlaku seenak udelnya sendiri.

Pada akhirnya, kita emang ga bisa memilih di negara mana kita dilahirkan. Tapi kita masih punya kesempatan untuk memilih di negara mana kita akan tinggal dan di negara mana anak kita akan kita lahirkan. Kalo lu ingin tinggal di negara lain, itu ga salah. Atau lu mau tetap disini untuk membangun negara ini, itu juga ga salah. Yang salah adalah kalo setelah ini lu hanya bisa diam dan mengutuk keadaan sekitar tanpa mau berbuat apapun untuk memperbaiki hidup lu, masa depan lu dan semua yang akan lu wariskan untuk keturunan lu kelak.

Depok, 13 September 2014, 07:57

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s