Stalking

Stalking. Sebuah hobi yang mungkin dilakukan oleh seseorang dikala senggang, atau dikala dia sedang pengen tau a.k.a kepo akan seseorang. Jaman dulu, stalking adalah hal yang amat sangat sulit dilakukan, tapi sekarang dengan perkembangan internet dan social media, stalking menjadi hal yang amat sangat mudah dilakukan. Kecuali, ya, kalau lu atau orang yang lu stalking ga punya jaringan internet dan ga punya gadget untuk mengakses social media, maka mau ga mau lu harus kembali ke cara stalking jaman dulu: bawa teropong kemudian duduk manis di pohon mangga depan rumahnya untuk ngeliat ngapain aja aktifitas dia seharian.

Kini banyak social media yang bisa disalahgunakan untuk aktivitas stalking. Dimulai dari facebook yang komplit memberikan berbagai informasi mulai dari data diri, update status, hobi, foto-foto, siapa aja temennya bahkan sampe notes pun semua ada. Atau twitter yang memberikan update real time dalam 140 karakter, serta path yang memberikan privasi lebih karena jumlah pertemanannya terbatas tapi membuat di pengguna bisa lebih terbuka menampilkan dirinya apa adanya. Bisa juga dengan blog kalo si dia suka nulis, atau instagram kalo si dia suka pamer OOTD (Outfit Of The Day) atau pamer jalan-jalan ke tempat eksotis atau pamer makanan mahal. Komplit lah pokoknya, tinggal pilih mau stalking lewat mana, asal jangan lewat jalan belakang, karena Rasulullah saw melarang kita untuk menggauli istri kita lewat jalan belakang… #eh?

Tapi ternyata eh ternyata, sadar ga sadar sebenernya stalking punya pengaruh buruk loh. Berawal dari rasa ingin tau dan penasaran, biasanya setelah si stalker (orang yang men-stalking) menengok social media nya si stalkee (orang yang di-stalking), maka hasilnya adalah: GALAU. Ya, percaya ga percaya, tapi ga jarang kok orang yang jadi galau abis stalkingin orang. Bahkan mungkin lu termasuk salah satunya. Udah lah ga usah mengelak gitu… Pfffttt…

Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: karena rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau daripada rumput sendiri. Begitupun, istri tetangga selalu terlihat lebih semlohay dibanding istri sendiri (ups…). Intinya adalah, seringkali apa yang dimiliki orang lain selalu terasa lebih “wah” dibanding apa yang kita punya.

Misal kita lagi stalking facebooknya. Kita liat album fotonya. Ternyata album fotonya dipenuhi dengan glamorisisasi dan eksotisisme dari menikmatkan hidupnya keduniaan ini (apa lah ini kok jadi pake bahasa Vicky 29 my age?). Ada fotonya lagi liburan keluar negeri, ada fotonya lagi party dan selebrasi, ada fotonya lagi kongkow sama sohib, ada juga fotonya yang lagi pake bikini guling-gulingan di atas kasur. Eh yang terakhir maap salah buka, ternyata lagi buka JAV…

Atau lagi stalking twitternya. Update status nya selalu seputar memamerkan kebahagiaan duniawi. Ada sih yang lagi galau, tapi biasanya cuma kekesalan emosi semata. Atau mungkin mau stalking instagramnya. Nah kalo dia emang orang yang hobi pamer, siap-siap aja iri hati liat isi instagramnya.

Wajar ga sih kita galau setelah stalking orang? Ya wajar-wajar aja sih, kecuali kalo lu galau nya berlanjut sampe 3 hari 2 malam disertai gejala hidung berair, mata suka kedap-kedip sendiri dan pantat terasa gatal, mungkin itu kamu bukan galau tapi terkena penyakit cacingan. Galau itu wajar kok, asal sesuai pada porsinya dan bisa segera di atasi.

Kenapa bisa galau? Ya itu tadi, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Padalah sebenernya gitu ga sih? Ya ga lah bro…!!!

Di social media, apa-apa yang ditampilkan tentunya hanyalah yang bagus-bagus aja. Pencitraan, kalo pake istilah para politikus masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Semua orang memang punya kebutuhan untuk diapresiasi oleh orang lain, atau bahasa kerennya: gengsi. Gengsi lah kita kalo mau update status tapi kondisi kita lagi busuk-busuknya. Ga ada kan orang update status yang sedih-sedih yang membuat orang lain ingin membully nya? Ya ada sih beberapa, termasuk gue di masa lalu ketika lagi jomblo dan ditolak melulu setiap nembak perempuan pfffttt… Tapi pada umumnya yang di-share di social media adalah momen-momen kebahagiaan: momen-momen dimana kita bisa bilang, “Ini loh gue…!!!”

Jadi kalo lu sering jadi galau setelah stalking social media nya orang, itu wajar. Tapi lu hanya perlu menyadari 1 kalimat ini, yang sering gue ulang dan gue tanamkan di diri gue.

“Setiap orang memiliki rezekinya masing-masing, dan rezeki mereka tidak akan pernah tertukar satu sama lain.”

Yes, setiap orang ada rezekinya masing-masing. Kalo lu iri dan galau ketika stalking orang lain, so what? Itu rezeki dia. Itu nikmat yang dia punya. Mungkin kita sebutnya nikmat, tapi bisa juga kita sebut sebagai cobaan: cobaan dalam bentuk kenikmatan. Kalo dia bersyukur, pasti Allah akan menambah nikmatnya. Sementara kalo dia ingkar, tentu azab Allah sangatlah pedih. Jadi jangan tertipu bahwa semua glamorisasi yang dia pamerkan adalah suatu kenikmatan, bisa jadi itu adalah suatu cobaan.

Di sisi lain, percaya ga percaya, sebenernya lu pun juga seringkali menjadi penyebab galau nya orang lain. Ya, di saat kita stalking social media orang, pasti ada satu atau dua orang yang juga pernah stalking ke social media kita. Mungkin dia secret admirer kita, mungkin dia orang dekat kita yang mau tau kita lebih dalam, mungkin dia teman lama kita yang mau tau kabar kita hari ini gimana, atau mungkin juga dia debt collector yang sedang mencari-cari keberadaan kita. Beneran! Kita hanya perlu percaya bahwa setiap orang itu punya rezekinya masing-masing. Disaat kita iri dengan rezeki orang lain, pasti ada juga orang lain yang iri dengan rezeki yang kita punya. Jadi ga ada guna lah ya kita iri-irian, toh setiap orang udah punya rezekinya masing-masing kan?

Terakhir, percayalah bahwa setiap kita adalah inspirasi bagi orang lain. Mau itu sifatnya positif atau negatif, pasti ada orang yang mendapat pencerahan setelah men-stalking kita. Dan kalo kita stalking orang lain, harapannya energi galau yang keluar karena iri hati tersebut bisa kita manfaatkan menjadi suatu yang positif. Misal, ketika liat orang lain foto-foto di Menara Eiffel, itu bisa menginspirasi kita untuk semakin kerja keras supaya kita bisa foto juga di Menara Eiffel, atau bahkan yang lebih dari itu: di Red District Amsterdam misalnya. Atau ketika abis stalking orang lain, kita bisa kembali mengevaluasi diri sendiri bahwa si dia aja udah punya banyak pencapaian, terus masa hidup kita Cuma gini-gini aja? Atau yang paling simpel, setelah stalking orang lain, minimal kita bisa bikin suatu tulisan: entah itu tulisan yang menginspirasi atau sekedar tulisan curahan hati, sebagaimana yang sedang lu baca saat ini.

Medan, 8 September 2014, 21:44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s