Sakit

Tulisan ini dibuat ketika gue sedang teronggok lesu dan terkapar nggak berdaya di atas kasur di rumah gue. Ya nggak selebay gitu juga sih, buktinya gue masih bisa ngebuka laptop dan mencet-mencet tuts di keyboard buat ngetik tulisan ini.

Setelah hampir 14 bulan gue bekerja di tempat baru ini, akhirnya hari ini untuk pertama kalinya gue izin nggak masuk kantor dikarenakan sakit. Sebenernya ini bukan pertama kalinya nggak masuk sih, karena sebelomnya sekitaran akhir bulan Maret gue pernah nggak masuk kantor selama beberapa hari dikarenakan harus menjalankan perjalanan panjang ke luar negeri, dan di penghujung bulan Juli gue juga izin nggak masuk kantor 1 hari dikarenakan harus berjibaku di ruang sidang menghadapi serangan dari para dosen penguji thesis. Tapi kalo izin nggak masuk kantor karena sakit, ya baru hari ini.

Apakah itu berarti menandakan bahwa gue nggak pernah sakit? Jawabannya jelas: nggak juga kok. Ada beberapa saat dimana gue emang lagi nggak enak badan, tapi dengan segera gue bisa mengatasinya dengan minum doping. FYI aja nih bro, doping yang gue biasa minum kalo lagi nggak enak badan bisa macem-macem dan tergantung mood. Kadang minum Tolak Angin yang cair atau yang tablet, kadang minum UC 1000, kadang minum Larutan Penyegar cap Kaki Tiga, dan bila ada gejala-gejala khusus semisal diare, batuk atau pilek, gue langsung minum obat yang bersangkutan. Kadang juga pake doping buah-buahan, biasanya emak gue yang cantiknya Subhanallah rajin bikini gue jus tomat. Ataupun kalo ternyata doping dan obat-obatan masih belom mempan, barulah gue mampir ke dokter. Tapi tetep masuk kantor, cuma izin pulang cepet aja. Kalopun setelah ke dokter si dokter menganjurkan untuk istirahat dan nggak usah masuk kantor, karena ketika itu gue seorang diri masih single fighter di bidang kerja yang gue geluti di kantor akhirnya gue memutuskan untuk tetep masuk aja di keesokan harinya, mengingat perusahaan baru ini masih membutuhkan kehadiran makhluk imut macem gue.

Nah kali ini, ternyata penyakit gue nggak bisa disembuhin begitu aja. Jadi ceritanya, gue punya penyakit tahunan yang entah darimana asalnya, tiba-tiba aja datang dan tertanam di dalam lubuk hati gue. Penyakit apakah itu? Yaitu batuk kering tanpa henti, kapanpun dan dimanapun. Jadi nih bro, dalam 1 tahun pasti selalu ada aja masa-masa dimana gue terkena penyakit ini. Penyakitnya adalah gue batuk-batuk, tapi padahal badan gue nggak lemes-lemes amat. Cuma batuk aja. Tapi batuknya nggak ilang-ilang, biarpun udah diobatin pake obat apotek manapun, dipijet pake tukang pijet, atau bahkan dikerok juga. Gue menyebutnya “batuk-yang-tak-berujung”, kaya judul lagunya Glenn Fredly. Atau mau kita sebut “batuk-yang-namanya-tak-boleh-disebut” aja biar kaya di Harry Potter? Apapun itu, kira-kira ada apa gerangan dengan batuk ini?

Dulu-dulunya sih hal ini juga sering kejadian. Tapi batuknya berhasil diobatin pake obat khusus yang gue dapet dari bokap gue. Disebut khusus karena obatnya merupakan racikan herbal dan diperolehnya di suatu daerah pedalaman di Jawa Timur sana dengan harga yang luar biasa muahal. Tadinya obat itu buat ngobatin batuknya bokap gue, namun setelah bokap gue batuknya ilang, beliau nggak ngelanjutin minum obat itu, sehingga obatnya masih sisa dan jadilah dulu gue minum obat itu buat ngobatin batuk-yang-tak-berujung ini. Alhamdulillah cocok dan batuknya pun ilang, dan mari kita sebut obat ini sebagai “obat ajaib”.

Pernah juga kejadian batuk kaya gini lagi, kemudian gue minumin obat batuknya bokap gue lagi, akhirnya sembuh lagi. Tapi gue selaku anak muda yang penuh dengan semangat membara tentunya penasaran dong ya kenapa kok gue sering batuk kaya begini. Apakah karena gue keseringan kena AC, mengingat hampir setiap hari gue menghabiskan waktu +- 3 jam menghirup AC mobil. Apakah karena kena debu, mengingat dulu gue kerja di perusahaan logistik di daerah Cakung yang identik dengan truk-truk besar dan jalanan yang penuh debu. Ataukah karena gue keseringan begadang, mengingat gue ketika ngelanjutin kuliah ke S2 gue sering banget bangun antara jam 1 sampai jam 3 pagi demi untuk ngerjain tugas kuliah berupa ngerangkum jurnal-jurnal berbahasa Inggris untuk kemudian dibuat presentasinya. Akhirnya demi mengobati rasa penasaran, datenglah gue ke dokter langganan yang udah melayani gue sejak 20 tahun yang lalu.

Disana, si dokter bilang kalo batuk ini bisa terjadi karena beberapa alasan, yaitu alasan-alasan yang udah gue sebutin di paragraf sebelom ini. Kemudian gue coba di ronsen, gue agak-agak lupa persisnya gimana yang jelas kalo nggak salah ditemukan ada semacam gelembung atau flek di sekitaran paru-paru dan kerongkongan gue. Lupa, tapi ya kira-kira semacam itulah.

Kemudian hari ini, batuk-yang-tak-berujung ini kembali menerpa. Awalnya gue kira semacem batuk biasa, jadi gue minum obat batuk biasa, Ternyata setelah 8 hari lebih kok batuknya masih nggak ilang-ilang, jadi pastilah ini gejala batuk-yang-tak-berujung, Karena obat ajaibnya bokap gue udah abis, mau nggak mau gue pun memberangkatkan diri ke dokter hewan terdekat. Bla bla bla bla, si dokter pun menuliskan resep obat dan menganjurkan untuk istirahat dulu di rumah. Mengingat di akhir tahun ini kerjaan gue udah agak santai karena udah gue selesaiin semuanya di bulan sebelomnya dan di bidang kerja gue pun sekarang gue udah punya team, akhirnya gue memutuskan untuk menuruti anjuran dokter dan beristirahat di rumah. Jadilah besoknya gue izin nggak masuk kantor dengan alasan sakit, pertama kalinya setelah hamper 14 bulan kerja.

Sehari-hari, gue biasa bangun jam setengah 4 pagi supaya bisa segera berangkat ke kantor jam 5 kurang, biar nggak kena macet. Tapi di hari ini, gue bisa agak bersantai dan nggak perlu bangun di jam tersebut. Gue masih bisa nemenin emak gue sarapan di meja makan, nemenin emak gue baca koran di ruang tengah, kemudian biarpun (ngakunya) sakit tapi gue masih bisa nganterin emak gue belanja ke pasar dan duduk manis seharian sama emak gue di ruang tengah, biarpun cuma sekedar nonton televisi dengan channel yang diganti-ganti karena nggak tau apa yang mau ditonton maupun ketika emak gue tidur di sofa dan gue main gadget. Jadi gue yang biasa berangkat jam 4 pagi dan nyampe rumah sekitaran jam 10an malem (sebenernya pukang kantor jam 5 kalo mau tenggo sih bisa, cuma gue biasa tidur di mobil dulu sampe jam 9an sampe jalanan sepi, baru deh jalan) dan hanya bisa ketemu emak gue antara jam 4 sampe jam 5 pagi ketika sarapan (kalo malem jam 8 beliau biasanya udah tidur), hari ini bener-bener bisa ketemu emak gue seharian full.

Mungkin, inilah hikmah dibalik rasa sakit yang datang menghampiri. Pertama-tama, jelas bahwa ketika seseorang sedang terkena penyakit, sesungguhnya Allah sedang menghapus dosa-dosa yang ada di diri orang tersebut. Tidaklah suatu penyakit menimpa seseorang melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya. Selain itu, penyakit juga merupakan suatu ujian untuk melihat apakah seorang hamba termasuk pribadi yang bersabar dan bersyukur, yaitu dia yang ikhlas dan bertawakkal atas penyakit yang dideritanya, ataukah hamba tersebut merupakan pribadi yang kufur dan ingkar, yaitu dia yang berkeluh kesah atas penyakit yang menimpanya. Itu jelas, harapannya lu semua juga udah pada memahaminya ya.

Yang kedua, penyakit adalah semacam teguran dari Zat Yang Maha Menciptakan bahwa tubuh ini juga memiliki hak untuk beristirahat. Mungkin, selama ini kita terlalu semangat beraktivitas hingga memaksa tubuh ini untuk melakukan sesuatu sampai mencapai limitnya. Dengan diturunkannya penyakit, Allah secara halus hendak mengigatkan hamba-hambanya bahwa tubuh ciptaan-Nya ini juga perlu beristirahat sejenak. Berikan tubuh ini kesempatan untuk bernafas dan mengumpulkan energi, supaya dapat digunakan untuk belari kencang lagi di kemudian hari.

Ketiga, dengan diberikannya penyakit yang akhirnya mengantarkan gue untuk beristirahat dan stay di rumah seharian, maka gue bisa seharian full menemani emak gue yang semakin beranjak tua dengan keriput di wajahnya dan uban di rambutnya. Sebagaimana gue sebutin sebelomnya, biasanya tiap hari gue cuma ketemu emak gue 1 jam doang, antara jam 4 ketika gue bangun tidur sampe jam 5 ketika gue berangkat ke kantor. Tapi hari ini, dengan diberikan kesempatan untuk istirahat di rumah, gue bisa ketemu emak gue sepanjang hari penuh, nemenin beliau bepergian, dan duduk manis satu ruangan sama beliau.

Mungkin seringkali kita-kita yang masih muda ini terlalu asik mengejar mimpi dan cita-cita kita. Kita terlalu sibuk menikmati pertumbuhan dan perkembangan kita. Padahal, di saat yang bersamaan, ketika kita sedang tumbuh dan berkembang menjadi dewasa, orang tua kita pun juga ikut tumbuh dan berkembang menjadi tua. Ya, menjadi tua.

Rasanya baru kemarin kita lulus sekolah, kemudian melanjutkan kuliah, kemudian mendapatkan rezeki untuk bekerja di tempat yang kita idam-idamkan. Ya, rasanya seperti baru kemarin. Tapi apakah kita sadar bahwa ternyata besok orang tua kita sudah akan memasuki masa pensiun? Apakah kita sadar bahwa gerakan orangtua kita sudah nggak lagi selincah dulu? Apakah kita sadar bahwa orang tua kita sudah mulai nampak keriput di wajahnya dan rambut putih di kepalanya? Apakah kita sadar?

Untuk itu, di hari ini dimana gue sedang off dari kantor dan stay di rumah, adalah suatu nikmat yang tiada tara bahwa hari ini gue masih bisa diberi kesempatan untuk nemenin emak gue seharian. Nggak ada yang gue sesali dari penyakit ini, karena setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Bahkan gue sampe nulis status kaya gini di path gue:

“The best thing about take a rest and stay at home is, you can see your mother’s face all day long.”

Bunyi status di path
Bunyi status di path

Memang, sudah saatnya bagi kita yang muda-muda untuk membalas budi semua kebaikan orang tua kita. Sekalipun, kebaikan apapun yang kita lakukan, nggak akan mungkin bisa membalas secuilpun kasih sayang mereka kepada kita. Sebagaimana sebuah cerita yang gue lupa diriwayatin dari siapa, tapi kira-kira bunyinya kaya gini:

Alkisah ada seorang pemuda yang bertanya kepada Rasulullah saw tentang berbakti kepada orang tua. “Ya Rasul, jika aku bersama ibuku yang sudah tua menjalankan ibadah haji dan aku menggendongnya sejak dari berangkat sampai selesai supaya dia tidak kelelahan, apakah hal itu dapat membalas kebaikan-kebaikan ibuku kepadaku?” Rasulullah saw menjawab, “Yang kamu lakukan itu tidak cukup untuk membalas kebaikan ibumu, bahkan jauh lebih kecil itu.”

*mungkin redaksi persisnya nggak kaya gitu. Kalo ada rekan-rekan yang punya riwayat persisnya, monggo silahkan boleh disampaikan

Intinya adalah, ditengah kesibukan kita-kita yang masih muda ini dalam mengejar mimpi dan cita-cita, ingatlah bahwa orangtua kita pun juga punya hak atas kita. Ridho Allah ada pada ridhonya orang tua, dan salah satu cara untuk membalas kebaikan mereka adalah dengan cara menjadi anak yang soleh yang senantiasa mendoakan orangtuanya. Dan, sakit adalah salah satu bentuk ujian dari Allah. Pasti nggak seorangpun diantara kita yang mau sakit, jelas semuanya pasti pengen sehat. Tapi ketika akhirnya penyakit itu datang, apakah yang akan kita lakukan? Apakah kita akan menjadi pribadi yang bersyukur, ataukah pribadi yang kufur? Pilihan ada di tangan kita masing-masing, dan gue rasa kita semua udah cukup dewasa dan berilmu untuk menikmati apa hikmah dari datangnya penyakit di dalam diri kita.

Depok, 7 Desember 2013, 02:31

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s