CleanUpOurPlate!

Alkisah pada suatu masa di sekitaran awal April 2013 ketika gue berkesempatan untuk menginjakkan kaki ke luar negeri, yaitu ke Dubai, Uni Emirat Arab, gue berkesempatan menginap di salah satu hotel yang gue lupa namanya. Tibalah kita pada sesi makan malam dimana gue berkesempatan untuk menikmati makan malam secara prasmanan di restoran hotel tersebut.

As usual, gue mengambil makanan sebagaimana biasanya. Gue lupa sih persisnya menunya apa aja, yang gue inget adalah kebiasan gue (dan keluarga gue) untuk ngambil makanan secuil demi secuil. Jadi misal, gue datang dulu ke meja bubur ayam (emang di Dubai ada bubur ayam? Ya ini kan cuma permisalan doang, anggap aja ada deh ya), gue ambil buburnya kira-kira setengah mangkok, kemudian gue balik ke meja gue sendiri dan gue abisin bubur ayam itu. Setelah bubur ayamnya abis, baru gue ngider lagi untuk nyari makanan lainnya. Jadi ga mungkin bagi gue untuk mengambil makanan lain sementara makanan yang gue ambil sebelomnya belom abis.

Jujur gue lupa sih di restoran hotel itu ada makanan apa aja. Tapi gue ngambilnya ya begitu itu, ngambil dulu (misal) sosis sama kentang beberapa potong, gue abisin, terus baru ngambil yang lain, misalnya spaghetti sama macaroni beberapa sendok, gue abisin, baru ngambil yang lain lagi. Begitu seterusnya sampe hampir semua menu di restoran bisa masuk ke perut gue. Untuk setiap menu gue ngambilnya secuil-secuil, jadi ga ada ceritanya gue stuck di satu menu dan melupakan menu lainnya. Begitupun yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga gue lainnya.

Di tengah-tengah makan, seperti biasa ketika ada piring yang udah habis dengan sigap si pramusaji hotel segera menghampiri dan mengangkut piring-piring yang kosong tersebut. Begitupun juga dengan yang terjadi di meja gue. Ga lama setelah keluarga gue menghabiskan setiap makanan di atas piringnya, langsung si pramusaji datang menghampiri dan mengangkut piring kosong tersebut.

Sampai tiba-tiba ada salah satu pramusaji yang memberikan komentar terhadap piring-piring kosong yang ada di meja gue. Si mas-mas pramusaji ini dari tampangnya kayanya sih orang Arab keturunan, bukan Arab yang Arab banget tapi udah Arab yang ke Eropa-Eropaan, semacem Zinedine Zidane gitu dah. Dia ngomongnya pake bahasa Inggris, tapi logatnya kaya logat orang Prancis. Secara gitu gue kan pernah belajar bahasa Prancis 1 tahun jadi dikit-dikit tau lah ya bibirnya orang Prancis kaya gimana. Dengan bahasa yang udah gue terjemahkan (karena gue lupa persisnya dia ngomong apa), si pramusaji ini berujar:

“Well, terima kasih banyak karena telah menghabiskan makanan di piring Anda tanpa ada sisa.”

Dengan bahasa Inggris gue yang ala kadarnya, dimana gue cuma bisa ngomong “oh yes, oh no, oh f*ck” dan “oh sh*t” doang (nah ya ketauan suka nonton film apaan tuh yang dialognya cuma gitu-gitu doang…), gue pun mengucapkan terima kasih kembali kepada si mas-mas pramusaji itu. Dia pun lanjut berujar:

“Ya, banyak orang disini yang mengambil makanan sebanyak-banyaknya tapi mereka malah menyisakannya dan tidak menghabiskannya. Menyedihkan sekali.”

Kembali gue ucapkan terima kasih. Sementara anggota keluarga gue yang lain kayanya masih belum pada nyambung, jadi mereka ngangguk-ngangguk dulu aja. Akhirnya si pramusaji ini pun berujar kembali sembari meninggalkan meja kita:

“Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak karena telah membuat piring Anda bersih tanpa sisa.”

Dan akhirnya dia pun berlalu, meninggalkan keluarga gue yang masih terbengong-bengong. Akhirnya gue jelasin ke mereka kalo tadi si pramusaji give a compliment for us because we have clean up our plate and don’t make any mess on it. Keluarga gue pun akhirnya manggut-manggut tanda mengerti.

Singkat cerita, selama 24 tahun (usia gue ketika itu) gue hidup di dunia ini, baru kali ini kita dapet komentar kaya gitu dari pramusaji restoran hotel. Gue ga begitu aware sih apakah budaya untuk ngambil makanan secuil demi secuil ini apakah cuma ada di keluarga gue doang atau juga dilakukan oleh orang-orang Indonesia pada umumnya, yang jelas selama gue makan prasmanan di restoran di hotel-hotel di Indonesia, belom pernah ada pramusaji yang komentar kaya begitu. Baru kali ini aja kejadian di Dubai. Ya mungkin karena orang-orang dari negara lain ga punya budaya kaya gitu, jadilah si pramusaji ini takjub dengan apa yang kita lakukan.

Pada akhirnya, memang inilah yang seharusnya kita lakukan. Clean up our plate. Jangan menyisakan makanan yang telah kita ambil. Mungkin karena setiap harinya kita terlalu sering disuguhin makanan, nilai dari makanan itu sendiri menjadi kurang berharga di mata kita. Jadilah kalo makan ngambilnya kebanyakan; entah nasinya, entah lauknya, entah sayurnya, entah apapun itu. Dan dengan tanpa perasaan berdosa seenaknya aja kita sisain makanan itu kemudian kita buang ke tempat sampah. Padahal, padahal nih ya, makanan itu adalah salah satu bentuk rezeki dari Allah kepada kita. Begitupun lidah kita yang masih bisa merasakan setiap rasa dari makanan, dan perut kita yang masih bisa mengolah setiap makanan yang masuk. Semuanya adalah nikmat, semuanya adalah rezeki.

Pernahkah terbayangkan seperti apa kehidupan orang-orang yang tidak lebih beruntung daripada kita? Misal: pemulung. Pernahkah ngeliat mereka ngebuka-buka sisa makanan di tempat sampah kemudian dengan lahapnya mereka nikmati makanan yang udah tercampur dengan sampah itu? Pernahkah kita mencoba untuk memberikan sepotong roti (atau cemilan atau makanan apapun yang kebetulan kita bawa saat itu) kepada pemulung yang kita temui di perjalanan? Kemudian coba perhatikan bagaimana ekspresi mereka: menyedekapkan tangan sembari menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih serta memanjatkan doa untuk kebaikan kita. Pernahkah?

Buat kita, mungkin bisa makan 3 kali sehari dengan menu yang berbeda-beda adalah hal yang biasa. Tapi tidak buat mereka; mereka yang tidak seberuntung kita. Bisa makan 3 kali sehari aja udah Alhamdulillah, apalagi kalo menunya setiap hari selalu beda. Jadi, atas dasar apa kita menyisakan makanan yang udah kita ambil sementara di sekitar kita banyak orang yang mengais-ngais tempat sampah hanya untuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya?

Jadi sekali lagi, LET’S CLEAN UP OUR PLATE!

Depok, 30 November 2013, 20:08

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s