Pengemis

 

Akhir-akhir ini di berbagai media, khususnya sosial media, banyak yang ngebahas tentang penghasilan pengemis. Mulai dari penghasilan per hari nya yang kemudian kalo diakumulasi per bulan ternyata jumlahnya bisa ngelebihin gaji kita-kita yang kerja di perusahaan dengan persyaratan minimal sarjana. Lalu dari situ muncul imbauan supaya jangan ngasih uang ke pengemis, karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang kaya yang berkedok dalam penampilan sederhana untuk berharap belas kasihan di jalanan.

Ya, kalau kita memilih untuk nggak member uang ke pengemis karena “iri” dengan kekayaan mereka, itu sah-sah saja. Ibaratnya kita yang udah sekolah mahal-mahal dan bekerja keras memeras keringat, darah dan air mata setiap hari ternyata dikalahkan oleh pengemis yang notabene mungkin nggak memiliki pendidikan setinggi kita dan nggak ngerasain bekerja dalam tekanan atau dimarahin atasan. Iri? Silahkan, itu hak lu-lu pada. Tapi untuk gue pribadi, bukan itu ceritanya.

Sebenernya himbauan untuk jangan ngasih uang ke pengemis adalah himbauan klasik yang udah gue denger sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan kalo boleh jujur, gue pun udah sejak bertahun-tahun yang lalu memantapkan niat untuk nggak member uang ke pengemis kecuali untuk kasus-kasus tertentu. Apakah gue iri dengan penghasilan mereka yang jauh diatas penghasilan gue? Bukan, itu bukan urusan gue. Gue nggak peduli berapa penghasilan mereka, itu mah urusan mereka sendiri. Lalu kenapa? Jawabannya sederhana: sikap mental.

Mengemis, bukanlah suatu pekerjaan. Bukan juga suatu pilihan yang dilakukan dalam keadaan terpaksa ketika tidak ada pilihan lain. Mengemis adalah sikap mental. Ya, gue ulang sekali lagi, mengemis adalah sikap mental. Camkan itu sobat, mengemis adalah sikap mental!

Maksudnya apa? Begini bangbroh. Perbuatan mengemis (atau meminta-minta) adalah buah dari sikap mental yang enggan untuk bekerja dan berusaha. Adalah kecenderungan manusia untuk memperoleh untung sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Namun ya nggak dengan jadi pengemis juga.

Pengemis. Apa modal mereka? Baju lusuh. Muka melas. Tangan menegadah. Badan dekil. Dan sebagainya. Pendidikan? Nggak penting. Kerja keras, ikhtiar dan usaha? Nggak penting. Ilmu pengetahuan dan kemampuan teknis? Nggak penting. Ya, mengemis adalah sikap mental. Sikap mental yang mendasari seseorang untuk enggan berusaha dan hanya berharap belas kasihan darirorang-orang disekitarnya.

Nggak mungkin ada permintaan kalau nggak ada penawaran. Pengemis ada bukan karena sikap mental mereka yang membuat mereka berlaku menjadi pengemis, melainkan juga karena ada sekelompok orang yang memilih untuk menyumbangkan sebagian uang mereka kepada para pengemis tersebut. Seandainya aja sekelompok orang tersebut juga memilih untuk nggak member uang kepada para pengemis yang ditemuinya, tentu seseorang akan berpikir dua kali untuk menjadi pengemis. Dan jujur gue merupakan salah satu orang yang berupaya untuk demikian: memilih untuk nggak ngasih uang ke pengemis kecuali untuk kasus tertentu.

Kenapa demikian? Karena itu tadi: gue nggak ingin mereka terus menerus bermental pengemis. Bukan karena iri dengan penghasilan mereka, bukan, itu mah  nggak ada urusannya sama gue. Tapi ya itu tadi, untuk membentuk mental dan karakter bangsa ini supaya nggak menjadi pribadi yang selalu mengemis, yang enggan berusaha dan hanya ingin meminta-minta. Jadilah sejak dulu gue berusaha untuk nggak ngasih uang ke pengemis.

Lebih menyedihkannya lagi, anggaplah di suatu perempatan jalan di lampu merah ada pengemis dan ada pedagang, yaitu orang-orang yang menjajakan dagangannya entah apapun, semisal kanebo, boneka, tahu sumedang, mijon, cangcimen, atau apapun. Ketika para pedagang itu menawarkan dagangannya kepada kita, kita mengangkat tangan tanda menolak. Tetapi ketika pengemis datang menghampiri, kita langsung memberikan uang kepada mereka. Padahal kita tau, siapa yang berusaha lebih keras? Pedagang! Sejatinya mereka (para pedagang) bisa memilih untuk menjadi pengemis, tetapi sikap mental mereka menolak untuk menjadi pribadi yang mengemis, sehingga mereka memilih untuk melakukan suatu pekerjaan dan memperoleh imbalan atas pekerjaan yang mereka lakukan itu, dalam hal ini adalah menjadi pedagang. Para pedagang, mereka memiliki sikap mental yang jauh lebih positif dibanding para pengemis. Tapi mengapa pada akhirnya kita justru memilih untuk memindahkan uang kita ke kantong pengemis, bukan ke kantong pedagang?

Rasulullah saw pernah mengatakan bahwa sesungguhnya seseorang yang memegang kapak kemudian pergi ke hutan untuk menebang kayu dan menjual kayu hasil tebangannya tersebut adalah jauh lebih beliau sukai dibanding seseorang yang hanya sekedar meminta-minta. Sikap mental seperti ini memang perlu dibangun, yaitu sikap mental untuk selalu berusaha dan bekerja keras, dan menjauhi keinginan untuk selalu meminta-minta.

Jadi kembali lagi, inilah alasan kenapa gue enggan untuk member uang kepada pengemis. Mereka menjadi pengemis bukan karena nggak punya pilihan, tetapi karena sikap mental mereka mendorong mereka untuk menjadi pengemis. Dan ini diperparah lagi dengan adanya sekelompok orang yang mengakomodir mereka dengan member mereka uang. Jadilah pengemis tetap merasa nyaman di dalam sikap mentalnya sebagai pengemis, dan enggan jika diminta untuk bekerja keras.

Ini adalah salah satu contoh yang sering dihadapi dinas sosial atau organisasi kemasyarakatan ketika hendak memberdayakan para pengemis. Kasus terbaru, sekelompok pengemis menolak untuk diberikan pelatihan dan mendapat jaminan pekerjaan. Mereka diberi pelatihan menjahit dan dijanjikan bekerja sebagai penjahit dengan gaji sekitar 1 juta per bulan, namun mereka menolak karena hanya dengan mengemis saja mereka bisa mendapat sampai lebih dari 10 juta per bulan. Sikap mental seperti inilah yang berbahaya.

Apakah sikap mental pengemis hanya menimpa orang-orang yang memiliki tingkat kesejahteraan dan perekonomian di bawah rata-rata? Eits jangan salah. Sikap mental untuk selalu meminta-minta dan enggan berusaha pun juga dapat menimpa mereka yang berada di kalangan atas. Atau siapa saja. Karena sikap mental ini nggak terikat dengan tingkat ekonomi, tapi bisa dating menghampiri siapapun.

Kalo ada orang yang bilang bahwa “gue mengemis gara-gara gaji gue kecil”, gue berani yakin bahwa kalo gaji mereka dinaikin, pasti mereka pun masih tetap mengemis. Mau dinaikin sebesar apapun, kalo sikap mentalnya emang mental pengemis, nggak bakalan ada pengaruhnya. Yang membedakan hanyalah cara dan metodenya dalam mengemis. Kalo kalangan ke bawah mengemis nya dengan menengadahkan tangan di pinggir jalan, kalangan atas biasanya mengemisnya dengan kedok  upah koordinasi, uang terima kasih, kelancaran perizinan, atau lain sebagainya. Intinya mereka semua sama: sama-sama bermental pengemis.

Jadi, kembali lagi, gue tegaskan bahwa gue adalah orang yang memilih untuk nggak ngasih uang ke pengemis di jalanan. Terlebih lagi kalo di jalanan tersebut juga ada pedagang yang menjajakan dagangannya. Sorry, dear pengemis. You better get out of my way.

Lalu apakah dengan ini gue disebut sebagai orang yang pelit, kikir dan bakhil? I don’t want to say that I am a good person, tapi dengan tujuan supaya bisa menginspirasi lu-lu semua, berikut ini bisa gue kasih beberapa contoh untuk tetap bersedekah dengan cara yang (gue rasa) lebih tepat dibanding sekedar memberi uang kepada pengemis.

  1. Kita bisa memanfaatkan lembaga-lembaga kemasyarakatan, atau organisasi masyarakat untuk bersedekah kepada kaum yang membutuhkan. Gue nggak menyebut mereka “pengemis”, tetapi “kaum yang membutuhkan.” Kan sekarang udah banyak lembaga yang bergerak untuk pemberdayaan masyarakat bawah, misal lembaga yang mengadakan pendidikan untuk anak jalanan, penyediaan alat tulis dan buku sekolah, pelatihan keterampilan, dan sebagainya. Ditambah lagi sekarang kalo mau bersedekah bisa lewat transfer uang via ATM, semuanya jadi lebih mudah. Salah satu contohnya adalah Program Sedekah Rombongan yang dipelopori oleh Saptuari Sugiharto, atau Dompet Dhuafa, atau yayasan-yayasan lainnya. Dengan menyalurkan uang ke lembaga tersebut, harapannya rezeki yang kita berikan bisa benar-benar dimanfaatkan dengan tepat guna, yang intinya bisa mengubah sikap mental untuk mau berusaha dan bekerja keras.
  2. Sering, ketika gue lagi nyetirin emak gue, di lampu merah beliau manggil pedagang, misal pedagang tahu sumedang. Si pedagang pun langsung menghampiri. “Berapaan bang” tanya emak gue. “1 plastik nya 5 ribu aja Bu,” si pedangan menjawab. Emak gue pun membalas “beli 2 deh Bang” sembari mengeluarkan uang 50 ribuan disertai dengan ucapan “dah ambil semua Bang, ga usah kembali.” Umumnya si abang pedagang akan terkejut selama sepersekian detik sebelum akhirnya tersenyum dan ngucapin terima kasih.
  3. Ketika lebaran kemaren gue dapet parsel di kantor, yang isinya macem-macem, ada beras, sekardus indomie, gula, minyak goreng, dan sebagainya. Khusus untuk indomie yang sekardus, kalo orang kantor biasanya disimpen di lemari dan dijadiin cemilan kalo pada lembur sampe malem. Sementara gue, sekardus indomie itu gue bawa dan gue tinggal di mobil. Kemudian ketika di jalan gue ketemu sama orang-orang yang (menurut gue) seharusnya mereka bisa memilih untuk jadi pengemis tapi sikap mental mereka enggan untuk berkata demikian, gue membagi indomie-indomie itu kepada mereka, sebut saja petugas yang jaga tiket parkir di parkiran gedung-gedung di Jakarta, penjaga tol, pedagang di lampu merah, pemulung yang kebetulan ketemu, dan lain sebagainya.

 

Itu sebagian contoh kecil cara untuk tetap dapat bersedekah tanpa harus member uang ke pengemis. Intinya yang mau gue katakan adalah, mengemis adalah sikap mental, dimana kita semua bersama-sama memiliki tanggung jawab moral untuk menghapus sikap mental tersebut dari diri setiap individu khususnya yang mengaku berbangsa Indonesia. Negara ini rusak karena para penghuninya memiliki sikap mental yang doyan mengemis, doyan meminta-minta namun enggan untuk bekerja keras dan berusaha. Kalau bukan dari kita sendiri, maka siapa lagi yang akan memperbaiki penyakit mental menahun yang sudah menjangkit bangsa ini.

Kedua, gue mau bilang bahwa sebagaimana sabda Rasulullah saw tadi, marilah kita lebih menghargai mereka yang telah bekerja keras dan berusaha, dalam hal ini para pedagang. Rasulullah saw sendiri adalah seorang pedagang, dan beliau mengatakan bahwa 9 dari 10 pembuka pintu rezeki adalah dengan berdagang. Jadi tolong jangan dzalimi para pedagang dengan menolak mereka sementara disaat bersamaan kita justru mengeluarkan uang untuk para pengemis yang nggak bermodal apa-apa.  Bisa? Insya Allah bisa. Tinggal kita lihat, apakah sikap mental kita mampu untuk melakukan yang seharusnya.

 

Depok, 6 Oktober 2013, 21:47

Pengemis Lampu Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s