Ketergantungan?

Di Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-68 yang lalu, iseng-iseng gue nulis status kaya gini di Facebook gue:

“For they who ask ‘apa kita sudah merdeka?’, go f*ck yourself. Sesungguhnya merekalah yg masih terjajah, terjajah oleh hawa nafsu sendiri.”

Kemudian status tersebut mendapatkan beberapa komentar sebagaimana berikut ini:

 

Image

 

Miss A:

“No ,no ,no ,, I love my self ,,cuma orang2 Indonesia yg udah merasa nyaman aja yg bisa merasa bangsanya sudah bener2 merdeka ,,Padahal apa2 masi tergantung sama bangsa lain ,,ini kenyataan ,bukan sekedar nafsu ,, Idealisme tetep harus ada walopun kita udah dalam posisi nyaman ,, *semangat yg dikobarkan saat ospek mahasiswa 5tahun yg lalu”

 Mister B:

“Sabar bro..”

C-Kink:

“wanna ask a question: berikan contoh 1 negara yg sama sekali ga punya ketergantungan sama negara lain, untuk mendefiniskan istilah ‘merdeka’ tersebut”

Miss A:

“Ga semua sektor jg kn mz? Apa2 impor ,,misal aja : buah impor ,beras impor ,sayuran impor ,,padahal jelas2 kita agraris ,,terlebih lagi adanya pasar bebas ,,apa ga semakin mematikan produk2 kita? Produk kita jadi cemoohan d negara kita sendiri ,,Apa2 kita maunya branded ,,dibilang kualitasnya jauuh ,,padahal kenyataannya ,,banyak produk2 kita yg kualitas bagus d ekspor trs dinamai pake brand2 ternama ,,liat aja di Cibaduyut ,,”

Mister C:

“Belum merdeka dari status jomblo”

C-Kink:

“Nah, hati2 tertipu pada paradigma bahwa pengimpor memiliki ketergantungan kepada pengekspor. sebenernya pengekspor pun juga memiliki ketergantungan kepada pengimpor. sederhananya gini: kenapa ada ketergantungan antar negara dalam bentuk ekspor-impor? selain karena adanya perbedaan kompetensi dalam memproduksi barang & jasa, juga karena ada kelebihan produksi & kebutuhan barang. Misal: kita butuh beras 3 ton, tapi negara cuma bisa produksi 2 ton, mau ga mau 1 ton sisanya harus diimpor supaya ga chaos. di sisi lain, ada negara produksi beras 5 ton, tapi kemampuan konsumsinya cuma 2 ton. mau ga mau 3 ton yg ga terpake harus diekspor ke tempat lain supaya ga merugi & terbuang sia2. Terkait branding, ini juga mirip. kita punya barang mentah, tapi ga punya kompetensi dalam bentuk ilmu & jaringan (network). mereka punya ilmu & jaringan, tapi ga punya bahan mentah. jadilah mereka bergantung kepada kita untuk memperoleh bahan mentahnya. jadi sederhananya, ketergantungan bukan cuma punya negara “berkembang” macem indonesia, negara besar pun juga punya ketergantungan terhadap negara2 macem kita. tapi ini menarik. besok2 coba aku bikin tulisan mengenai ini deh ya.”

Miss A:

“iya ,,bener bgt yg mz blg ,,sepakat bgt kalo ada ketergantungan antar negara maju – berkembang ,,Tp gini ,apa iya negara berkembang bakal jd negara berkembaaaang terus ,,ada saat dimana negara berkembang pengen jg jd negara maju ,,Malah ada paradigma kalo negara berkembang ga akan pernah jd negara maju ,,Pasti ada aja cara2 negara maju buat ngegagalinnya ,Apalagi negara “sekaya” Indonesia ,apakabarnya kalo negara ini jadi negara maju? Bakal gas pol kan yaa ,,istilahnya mendahului lewat kiri ,,Makanya dibutuhkan ahli2 yg PD yg bangga dgn bangsanya sendiri ,,Kayak mz misalnya ,,tau teknik dan cara pemasaran branding d negara maju ,kenapa ga d copas ,terus bawa Indonesia “terbang” ..Dalam semua aspek ,ga cuma itu aja ,,Nah ,itu baru yg dikatakan merdekaa ,dengan meminimalisisr “ketergantungan” ..”

Miss A:

“nah ,,ini yg namanya diskusi ,enggak cuma mentingin pendapat sndiri ,ga perlu pake kata2 kasar ,kayak d status ini “go f*ck your self” .Apakah u’r self is the best ? ,,jujur sy ga suka sama kata2nya ,, “

 

Berangkat dari diskusi itu, tertariklah gue untuk menuliskan pandangan gue dalam bentuk tulisan, sebagaimana gue sebut diatas. Jadi, mari kita mulai diskusi kita dengan tema “ketergantungan” ini. Tekan tuts-nya dan mainkan…!!!

***

Pertama-tama, mari kita mulai dari sudut pandang Indonesia. Apakah Indonesia memiliki ketergantungan terhadap negara lain? Adalah sebuah kebohongan jika kita menjawab pertanyaan tersebut dengan kata “tidak”. Memang harus diakui bahwa negara ini masih cukup bergantung kepada negara lain, baik secara tersurat dari sisi sumber daya, komoditas dan ekonomi maupun 🙂secara tersirat dari sisi politik dan pertahanan-keamanan.

Lalu kenapa gue berani-beraninya update status kaya gitu? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena gue merasa bahwa ketergantungan adalah suatu hal yang biasa di dalam hubungan bernegara. Meskipun gue sepakat, bahwa ketergantungan ini harus diminimalisir sekecil mungkin, atau setidaknya Indonesia memiliki bargaining power yang lebih tinggi terhadap negara yang digantunginya.

Kenapa demikian? Sekarang mari kita coba lihat dari sudut pandang negara lain yang, katakanlah, merupakan negara dimana Indonesia bergantung kepadanya. Mereka menjual barang-barang produksi mereka ke Indonesia. Dan karena mereka adalah penjual, sementara kita adalah pembeli, seakan-akan muncul kesan bahwa kita bergantung kepada mereka. Apakah demikian?

Ya, tidak salah kalau kita berpikir bahwa Indonesia selaku pembeli memiliki ketergantungan terhadap negara lain selaku penjual. Tapi perlu diperhatikan bahwa mereka selaku penjual pun juga memiliki ketergantungan terhadap Indonesia. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk pasar (market) dimana barang tersebut dijual! Apa maksudnya? Yuk mari kita bahas yuk!

Jadi begini bangbro. Seorang penjual (atau produsen, jika juga dia sendiri yang memproduksi barang tersebut) sangat-sangat membutuhkan pasar dimana barang mereka dapat terjual. Adalah percuma jika mereka telah memproduksi barang dalam jumlah tertentu, tapi ternyata jumlah tersebut tidak mampu diserap oleh pasar, atau dengan kata lain, barangnya tidak laku terjual. Akhirnya yang muncul adalah kerugian, karena pemasukan yang mereka terima dari menjual barang tidak mampu mencukupi biaya yang keluar untuk memproduksi barang tersebut. Jadi perlu dipahami bahwa penjual pun memiliki ketergantungan terhadap pembeli.

Analoginya adalah sebagaimana contoh yang gue sebut pada komen facebook tersebut. Misal: konsumsi beras Indonesia selama 1 tahun adalah 3 ton (sebut saja demikian, ini angka fiktif hanya sebagai contoh saja). Tapi ternyata kemampuan produksi beras dalam negeri hanya mampu menghasilkan 2 ton per tahun. Jika Indonesia tetap diam saja dengan kondisi seperti ini, atau dengan kata lain enggan untuk mengimpor beras, maka yang terjadi adalah beras akan menjadi rebutan karena kebutuhan (demand) lebih tinggi daripada ketersediaan (supply), yang membuat banyak orang rela melakukan apapun demi memperoleh beras (termasuk menawar beras dengan harga lebih mahal), yang membuat harga beras menjadi mahal karena para produsen beras lokal tau bahwa barangnya menjadi rebutan di masyarakat. Kalau harga beras mahal, maka masyarakat pada akhirnya tidak akan membeli beras (karena tidak mampu membeli), sehingga beras pun malah tidak terjual, dan para produsen beras pun juga malah mengalami kerugian karena berasnya tidak laku. Untuk itu, maka Indonesia perlu melakukan impor beras untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri, khususnya untuk menjaga stabilitas harga maupun ketersediaan.

Selanjutnya, kita lihat dari sisi negara pengekspor beras. Mereka bisa mengeskpor diasumsikan karena mereka telah mampu memenuhi kebutuhan beras di dalam negerinya terlebih dahulu. Sisa produksi (excess capacity) yang tidak terserap konsumen dalam negeri inilah yang perlu dijual ke luar negeri. Mengapa demikian? Kasusnya sama seperti pada paragraf sebelom ini. Misal: di negara ini konsumsi beras dalam negeri selama 1 tahun adalah 2 ton. Tapi ternyata kemampuan produksinya cukup untuk memproduksi sampai 5 ton. Hal ini mengakibatkan dia memiliki excess capacity sebesar 5 ton. Jika dia tetap diam saja dan tidak menjual excess capacity sebesar 3 ton tersebut ke luar negeri, maka yang terjadi adalah 2 kemungkinan berikut ini:

  1. Sisa 3 ton tersebut disimpan sebagai cadangan persediaan, atau bahasa kerennya inveontory. Hal ini bisa dilakukan dengan tujuan untuk berjaga-jaga jika ada kejadian luar biasa yang mengakibatkan konsumsi beras melonjak secara mendadak (misal: bencana alam). Namun perlu diperhatikan bahwa inventory adalah cost, karena perlu biaya yang tidak sedikit untuk menyimpannya (biaya gudang, biaya handling, biaya penyusutan, dll). Cadangan persediaan memang perlu, tapi cukup di sekitaran safety stock saja (stok minimal yang diperlukan untuk menjaga ketersediaan tetap aman), tidak perlu sampai berlebihan begitu banyak.
  2. Sisa 3 ton tersebut tidak disimpan sebagai cadangan persediaan melainkan dibiarkan beredar/dijual juga di pasar dalam negeri. Akhirnya yang terjadi adalah jumlah barang yang beredar melebihi jumlah yang dibutuhkan oleh pasar/konsumen, yang membuat para penjual/produsen rela melakukan apapun demi menjual berasnya (termasuk menjual dengan harga lebih murah), yang membuat harga beras menjadi murah karena para produsen beras berusaha menarik perhatian masyarakat.   Kalau harga beras murah, maka penjual/produsen beras (dalam hal ini dimisalkan adalah para petani) akan mengalami kerugian karena harga beras yang dijual tidak mampu menutupi biaya produksinya. Untuk itu, maka negara seperti ini pun perlu melakukan ekspor beras untuk

Dari sini dapat terlihat bahwa sesungguhnya produsen pun juga memiliki ketergantungan terhadap pasar ekspor, dalam hal ini kita misalkan bahwa Indonesia adalah pasar tujuan ekspor tersebut. Jadi, jangan dianggap bahwa hanya pembeli yang memiliki ketergantungan terhadap penjual. Penjual pun juga sebenarnya memiliki ketergantungan terhadap pembeli. Tinggal perlu dilihat siapakah diantara mereka yang memiliki nilai tawar (bargaining power) yang lebih kuat. Sebagaimana yang diutarakan oleh Michael Porter, seorang ahli manajemen strategi, bahwa dalam Five Forces Analysis tidak hanya menganalisa bargaining power of supplier tapi juga disertai dengan bargaining power of buyer.

Sehingga, “ketergantungan” adalah hal yang umum di dalam kehidupan bernegara. Bukan hanya dalam kehidupan bernegara, dalam kehidupan individu pun manusia juga tidak terlepas dari ketergantungan. Tinggal yang membedakanya adalah bagaimana nilai tawar mereka terhadap pihak yang mereka bergantung kepadanya. Dan bagaimana cara meningkatkan nilai tawar tersebut? Perlu satu tulisan lagi untuk membahasnya dan isinya akan banyak membahas mengenai prinsip dasar di dalam Manajemen Strategi, yaitu bagaimana untuk mencapai Sustainable Competitive Advantage.

Lalu, kembali lagi ke pertanyaan utama, “apakah Indonesia sudah merdeka?”. Kalau kita menjawab bahwa Indonesia belum merdeka, mau dibawa kemana wajah para proklamator yang telah memberanikan diri untuk memproklamirkan kemerdekaan negara ini di tahun 1945 yang lalu? Karena hari ini kita hidup dalam situasi yang sudah ‘merdeka’, dimana tidak ada Belanda atau Jepang yang berpatroli dan menenteng senjata di sekitar kita.  Seandainya kita bisa merasakan apa yang mereka rasakan di zaman penjajahan dulu, tentu hendaknya kita berani bahwa keputusan untuk memproklamirkan diri adalah sebuah keberanian besar, karena taruhannya adalah nyawa mereka sendiri.

Jika ada yang bertanya, “tapi hari ini kita masih dijajah dengan pemikiran dari Barat, dengan budaya musik Korea, dengan film-film Hollywood” dan sebagainya, maka kembali lagi kepada status di atas. “… Sesungguhnya merekalah yg masih terjajah, terjajah oleh hawa nafsu sendiri.” Ya, karena hawa nafsu mereka menuntun mereka untuk mengikuti pemikiran Barat, untuk mendengarkan musik Korea, untuk menonton film Hollywood, dan sebagainya. Karena seandainya kita mau, kita bisa kok memilih untuk tidak mengikuti itu semua. Silahkan tanyakan kepada diri kita sendiri, apakah kita mau?

Jakarta, 1 Oktober 2013, 17:44

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s