LongTimeNoHere


 

Sabtu, 7 April 2012. Gue baru saja selesai mengumpulkan tugas ujian tengah semester mata kuliah Manajemen Strategi dan Lingkungan Bisnis Dinamis yang membuat mata gue yang minus 3,5 kanan-kiri ini terjaga hampir di sepanjang malam. Tubuh ini butuh istirahat sejenak, lepas dari ruangan 4 x 4 meter alias kamar gue yang hampir setiap malem selalu gue berantakin dengan buku-buku dan jurnal-jurnal perkuliahan maupun gitar dan tas yang berserakan. Juga lepas dari meja kerja berukuran 1 x 2 meter yang digunakan oleh 4 orang alias meja kerja di kantor gue tempat gue menghabiskan hampir 9 jam per hari di dalam hidup ini. Dan, D’Mall atau yang dulu dikenal sebagai Mall Depok hadir sebagai tempat pelarian.

 

Kenapa D’Mall? Sejatinya di sepanjang jalan Margonda Raya ada banyak mall-mall selain D’Mall itu sendiri. Ada Margo City, Depok Town Square, Plaza Depok, dan ITC Depok (kalau mau dianggap sebagai mall). Lalu kenapa D’Mall? Kenapa bukan yang lain? Karena D’Mall yang baru hidup kembali ini memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh mall-mall lainnya. Dan itu adalah: tempat foodcourt yang nyaman, sepi, cozy dan tentu saja: gratis! Alias kita tidak perlu membeli makanan atau minuman untuk dapat duduk manis disitu. Kecuali kalau si mas-mas pramusaji tiba-tiba datang menghampiri sembari berkata, “Mau pesan apa Mas?”. Dan mohon maaf sobat, pertanyaan itu selalu gue jawab dengan pilihan menu yang paling murah yang ada disini. “Teh manis panas aja Mas”. Mendengar jawaban itu, gue seringkali berpikir bahwa si mas-mas itu dalam hati akan berkata. “yo mbok pesen’e sing akeh to mas, ojo koyo wong melarat ngono. Apik-apik kok kere, piye iki rek…

 

Gue mengemudikan MyLovelySolBro dari parkiran Pascasarjana FE UI menuju parkiran D’Mall. Sekilas info mengenai MyLovelySolBro alias My Lovely Soluna Brother, kini dia lah yang menemani setiap langkah gue di ibukota ini, entah itu ke kantor, ke kampus, ataupun ke tempat-tempat lainnya. Efek dari utilisasi yang berlebihan ini adalah kini kilometer MyLovelySolBro telah mencapai angka 110 ribu di usianya yang telah mencapai 11 tahun, dimana 5 tahun diantaranya dihabiskan di tangan gue. Semoga dia bisa tetap setia menemani gue sampai gue menjadi direktur nanti.

 

Margonda siang ini belum begitu padat. Di jalanan depan D’Mall, terlihat beberapa ekor anak manusia dengan dandanan horor sedang mengadakan aksi teatrikal, memakan sebagian badan jalan. MyLovelySolBro telah masuk ke basement D’Mall dan berjajar rapi di tengah puluhan mobil-mobil lainnya yang gue yakin harganya jauh lebih mahal dibanding Toyota Soluna hijau metalik yang sedang gue pegang ini.

 

Sesampainya di lantai dasar, sebuah panggung terhampar di aula D’Mall. Melihat dari backdrop, spanduk, meja-meja dan sekumpulan manusia yang sedang berada di sana, terlihat jelas bahwa mall ini sedang mengadakan festival dance. 5 orang anak perempuan seusia ABG kemudian naik ke atas panggung yang masih sepi dan diiringi dentuman musik yang gue lupa judulnya apa, mereka berlatih headstand dengan dipandu instruktur. Gue pribadi tidak begitu terkejut melihat anak-anak sekecil itu mampu melakukan headstand. Gue baru akan terkejut jika ternyata mereka mampu melakukan breaststand. Ups…

 

*Astagfirullahaladzim… Apa yang ada di pikiranmu, anak muda…*

 

Kaki ini terus melangkah menuju eskalator. Satu demi satu lantai telah gue lewati. Ternyata sudah banyak yang berubah sejak terakhir kali gue kesini. Akhirnya tiba lah gue di lantai atas, tempat dimana foodcourt yang gue idam-idamkan itu berada. Mata melirik kesana-kemari mencari dimana gerangan colokan listrik, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, seonggok meja beserta kursi yang masih kosong berdiri persis di sebelah lokasi colokan listrik. Pantat gue yang seksi ini pun segera menduduki tempat itu sebelum keburu ada orang lain yang menjajahnya.

 

Duduk manis seorang diri di foodcourt D’mall. Ditemani laptop Compaq, smartphone Blackberry, beserta tas bahu dengan buku Good to Great karya Jim Collins di dalamnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali gue duduk manis di tempat ini. Segera Blackberry gue membuka aplikasi foursquare dan check ini di D’Mall dengan status yang berbunyi, “Long time no here.”

 

Mata ini melihat sekeliling. Memperhatikan apa yang terjadi dan mengawasi apa yang mungkin terjadi di sekitar sini. 5 orang bocah laki-laki berbaju hitam-hitam terlihat sedang menikmati makanan cepat saji. Selesai makan, mereka bangkit dan beridiri menuju lokasi yang agak luas, dan membentuk sebuah formasi. Selanjutnya mereka melakukan gerakan-gerakan layaknya SM*SH sedang berjoget di atas panggung Inbox atau Dahsyat yang dikelilingi oleh alay-alay ibukota. Ya, ternyata mereka adalah salah satu peserta festival dance sebagaimana gue sebut sebelumnya. Silahkan saja sobat, silahkan jika anak-anak seumuran kalian ingin mengabdikan diri di dunia dance dan bermimpi menjadi seperti SM*SH kelak. Silahkan kalian berdansa, namun hanya satu pesan gue: jangan jadi homo, please…

 

Amazone, tempat bermain semacam Timezone, seperti biasa tidak banyak dikunjungi oleh manusia. Seperangkat mesin permainan Dance-Dance Revolution berdiri manis di dekat gue tanpa ada seorangpun di atasnya. Membuat kaki ini gatel ingin segera meloncat-loncat disana. Ya, gue termasuk salah seorang yang gemar bermain Dance-Dance Revolution. Satu tahun lalu, gue rutin bermain disini. Begitupun dengan mesin permainan Time Crisis 3, yang juga termasuk salah satu favorit gue. Permainan menembak itu menyenangkan, sobat. Gue telah berkali-kali menembak musuh-musuh yang ada di sana, termasuk sang raja terakhirnya. Namun entah mengapa gue selalu gagal menembak perempuan dan sudah ditolak sebanyak 3 kali dalam 1 tahun terakhir ini…

 

*Eaaaa… Ada yang curcol!*

 

Radio Pop FM Jakarta masih tetap berada di sudut sana. Dulu, sekali lagi, dulu, persisnya sekitar 1 tahun yang lalu, tempat itu adalah salah satu tempat yang rutin gue kunjungi hampir setiap minggu. Tidak perlu gue ceritakan apa yang gue lakukan disana, karena kalau lu bertanya pun gue juga belum tentu bersedia memberikan jawabannya. Radio itu masih tetap sama, hanya orang di dalamnya saja yang kini sudah berbeda.

 

Menit terus berjalan, kini dari aula lantai dasar mulai terdengar bunyi dentuman musik keras dan orang-orang mendekat mengerumuninya. Suara MC terdengar membahana, pertanda bahwa festival dance tersebut sudah dimulai. Dan karena bunyi musik tersebut cukup menggangu konsentrasi, akhirnya gue pun mengakhiri tulisan ini dan bersegera untuk menonton festival dance tersebut. Siapa tau kemudian ada seorang instruktur yang tertarik melihat bodi gue yang six pack ini dan berminat untuk menjadikan gue personel Cherry Belle yang ke-sepuluh. Eh, maksudnya menjadikan gue sebagai personel SM*SH ke-delapan. You know me so weeeeeeeeell…

 

Depok, 7 April 2012, 14:06

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s