Banci

 

 

Ah, sobat… Sepertinya kita hidup di negara banci. Banci, ya, banci. Sekali lagi: banci!

 

Berawal dari salah seorang bendahara partai yang diduga melakukan korupsi. Kemudian dia segera kabur dan melarikan diri ke luar negeri. Banci. Memilih kabur ke luar negeri.

 

Di luar negeri, lisannya berkoar-koar. Berkata bahwa dalam proyek tender A, si anu mendapat jatah sekian ratus juta rupiah. Dalam proyek tender B, si anu yang lain mendapat jatah sekian miliar rupiah. Lisannya semakin berkoar, semakin banyak nama-nama anu yang lainnya yang dia bawa-bawa. Namun sayangnya, hanya sebatas tuduhan. Belum ada bukti yang menguatkan ucapannya. Banci.

 

Pada akhirnya dia tertangkap ketika sedang berada di belahan lain dunia. Untuk memulangkannya butuh biaya sekitar 4 miliar rupiah yang semuanya diambil dari kocek negara. Banci. Korupsi mau, tapi untuk membiayai ongkos kepulangannya sendiri tidak mau.

 

Kini mendekamlah dia di tahanan. Menjalani pemeriksaan dan penyidikan. Mendadak dia lupa akan semua koarannya ketika berada di luar negeri. Bahkan mengaku salah dan mempersilahkan dirinya segera dihukum saja. Banci.

 

Tak lupa dia menyurati petinggi negara yang juga merupakan petinggi partainya. Mencari dukungan, menyelamatkan diri, atau sekadar pesanan? Entah apa alasannya, yang jelas itu adalah banci: beraninya berkoar ketika sedang bersembunyi.

 

Itu tentang si buronan yang telah tertangkap. Lalu bagaimana dengan si anu dan anu-anu lainnya yang namanya dulu sempat disebut-sebut oleh si buronan? Ya, secara formalitas mereka segera membantah. Namun sekali lagi, hanya membantah dan beradu opini, tanpa bisa membuktikan bahwa tuduhan yang dilayangkan kepada mereka adalah tidak benar. Banci.

 

Bagaimana dengan lembaga penegak hukum? Yah, tidak kalah bancinya. Sudah jelas yang menangkap si buronan adalah lembaga penegak hukum dari negara lain yang atas kejeliannya -melihat daftar buron di interpol dan mencocokkan paspor dengan aktual- serta keintegritasannya -menolak mentah-mentah suap dari si buronan- berhasil meringkus si buronan. Namun, lembaga penegak hukum negara ini mengklaim bahwa tertangkapnya si buronan adalah hasil jerih payahya. Banci!

 

Ditambah lagi, kesediaan lembaga penegak hukum lainnya untuk mengeluarkan uang rakyat sebesar +- 4 miliar rupiah hanya untuk memulangkan buronan ke negara asalnya. Hey banci, uang yang  -kalau benar- dikorupsi si buronan dan kroco-kroconya itu jumlahnya lebih besar dari sekadar 4 miliar,suruh dia membiayai ongkos kepulangannya sendiri!

 

Dan terakhir, si petinggi negara yang selama ini hanya bisa prihatin. Si buronan adalah salah seorang kader partainya, namun dia tidak berani bertindak apa-apa. Sembunyi di balik tangan, mencuci tangan dan mencari aman. Banci.

 

Setelah buronan diproses pun, dia bersikeras tidak mau ikut campur. Tidak mau mengintervensi dan menyerahkan sepenuhnya kepada lembaga penegak hukum. Padahal dia sendiri tidak menciptakan suatu sistem penegakan hukum yang clear dan jelas. Banci.

 

Cerita di atas masih terus berlanjut. Meskipun tensi nya tidak seperti dahulu ketika si buronan masih berani berkoar-koar. Sekarang tangan telah di borgol, dan lisannya telah di “bungkam”. Bahkan pura-pura lupa atas apa yang dulu pernah diucapkannya. Banci.

 

Pada akhirnya seperti inilah, sobat. Kita hidup di negara banci. Dipenuhi individu-individu banci. Bahkan pemimpinnya pun juga banci. Tak lupa, orang-orang yang hanya bisa mengkritik dari luar pun juga bisa dikatakan banci, termasuk orang yang menulis tulisan ini. Lalu apakah mereka yang hanya geram dan menggerutu atas kejadian diatas, namun tak berubat apa-apa, juga termasuk kategori banci?

 

 

Depok, 19 Agustus 2011, 22:55

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s