NuFoNoNE:PendinginReaktorDenganAirLaut

“Bagaimana pendapat C-Kink cute dkk tentang upaya pemerintah Jepang mendinginkan reaktor dengan air laut? Bukannya belum lazim ya? Aman tidak?”

 

Sistem pendingin. Terkait pertanyaan diatas, sebelumnya mari kita pisahkan dulu sistem pendingin reaktor dengan sistem pendingin siklus uap air yang menggunakan cooling tower. Kedua hal tersebut adalah dua hal yang berbeda.

 

Pertanyaan yang dimaksud diatas merupakan sistem pendingin reaktor, bukan pendingin yang cooling tower. Jadi, ketika sistem di teras reaktor telah di shutdown, sekalipun produk fisi dari bahan bakar sudah tidak ada tapi masih ada sisa-sisa kalor yang melekat di produk fisi tersebut. Untuk itu perlu dilakukan pendinginan reaktor dari kalor sisa setelah shutdown.

 

Dalam reaktor nuklir ada istilah RHRS, yaitu Residual Heat Removal System. Ini adalah sebuah sistem untuk mendinginkan kalor sisa setelah shutdown. Proses pendinginannya adalah mengalirkan air dengan sistem RHRS tersebut.

 

Untuk reaktor di Fukushima, sistem pendinginnya masih merupakan sistem aktif. Sementara reaktor-reaktor yang baru semuanya telah menggunakan sistem pasif. Maksudnya sistem aktif adalah, pengoperasiannya membutuhkan input daya listrik dari luar (misal: generator). Sementara sistem pasif adalah, pengoperasiannya mampu bekerja sendiri dengan memanfaatkan fenomena-fenomena fisika. Sistem pasif ini dapat tetap bekerja meskipun tidak ada pasokan listrik atau ketika generator cadangan tidak berfungsi.

 

Terkait pendinginan dengan air laut, hal tersebut sejatinya bisa dilakukan jika memang merupakan pilihan terakhir. Sejatinya pendinginan adalah menggunakan purified water atau air yang telah dimurnikan. Simpelnya, sebut saja akuades. Jika menggunakan air laut, maka reaktor dengan sangat terpaksa harus di dekomisining: reaktor sudah tidak boleh digunakan untuk beroperasi lagi. Alasannya adalah karena di dalam air laut terkandung banyak mineral dan apa jadinya bila mineral-mineral tersebut disiramkan ke dalam reaktor.

 

Kenapa Jepang menggunakan air laut untuk pendingin reaktor tersebut adalah seperti ini. Ketika terjadi gempa, reaktor akan ter-shutdown secara otomatis. Disini tidak terjadi masalah apa-apa. Seperti disebutkan diatas, sistem RHRS reaktor Fukushima yang menggunakan sistem aktif segera bekerja untuk mendinginkan kalor sisa setelah shutdown.

 

Masalah baru muncul ketika sekitar 1 jam kemudian terjadi tsunami yang diberitakan mencapai 10 meter. Tsunami ini membuat jaringan supply listrik dari generator terendam dan tidak berfungsi. Tenaga pendingin cadangan juga gagal. Sehingga sebagai upaya terakhir karena sistem RHRS aktif yang tidak bekerja, disedotlah air laut ke dalam reaktor untuk mendinginkan kalor sisa shutdown tersebut.

 

 

Depok, 15 Maret 2011, 14:48

 

*Penulis juga masih belajar tentang ilmu nuklir. CMIIW: Correct Me If I Wrong.

 

Sumber:

–          Dialog via twitter dengan Adji Ahmad Jaka Bramantya, mahasiswa S2 di KAIST, Korea Selatan.

–          Notes Pak Alexander Agung, dosen di Teknik Fisika UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s