AFF

 

 

Rabu 29 Desember 2010, tanggal itu mungkin akan diingat oleh sebagian besar mastarakat Indonesia. Karena pada malam harinya, kesebelasan tim nasional Indonesia gagal menjuarai piala AFF yang berhasil direbut Malaysia, sekalipun malam itu timnas Indonesia menang dengan skor 2-1 melalui gol M. Nasuha dan M. Ridwan. Skor tersebut secara agregat masih belum cukup untuk membalas kemenangan Malaysia di 3 hari sebelumnya di stadion Bukit Jalil dengan skor 3-0.

Sebagaimana para masyarakat Indonesia yang latah, yang  mendadak menjadi suka dengan sepakbola dan mendadak mulai sok jago berkomentar tentang sepakbola, maka izinkan gue yang kurus imut dan cacingan ini untuk ikut-ikutan urun rembug mengomentari dunia persepakbolaan nasional kita. Meskipun sejatinya gue nggak se-latah itu, karena gue telah turut serta mengamati dunia sepakbola Indonesia mulai tahun 1998, dari jaman pemain timnas masih Ronny Wabia, Robby Darwis, Bima Sakti, Aji Santoso, Widodo Cahyono Putro dll, jamannya Jacksen F. Tiago jadi top skorer, jamannya Rusdi Bahlawan jadi pelatih timnas, termasuk jaman sepakbola gajahnya Mursyid Effendi.

Piala AFF. Mendadak ajang turnamen sepakbola 2 tahunan Asia Tenggara ini membuat masyarakat kita sukses mengamalkan sila ke-3 Pancasila. Apa bunyinya? Benar, “Persatuan Indonesia”. Manusia dari berbagai daerah bersatu padu mendukung perjuangan timnas. Mulai dari geliat pernak-pernik timnas, acara nonton bareng dimana-mana, bahkan animo masyarakat untuk menonton pertandingan langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Dan sebagai organisasi yang berkewajiban mengurusi dunia persepakbolaan nasional, PSSI yang merupakan singkatan dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia, ternyata memiliki kapabilitas yang nggak jauh beda dengan adek-adek kita yang masih sekolah di Sekolah Dasar.

Pertama, politisasi timnas. Semua orang tau, siapa itu Nurdin Halid. Ya, Ketua Umum PSSI. Tapi jangan lupakan nama Wakil Ketua Umum PSSI: Nirwan Bakrie. Terasa familiar? Ya, tentu saja.

Timnas yang mendadak menjadi popular karena ke-latah-an masyarakat kita, sukses menjadi ajang pencitraan “mereka” yang sejatinya sama sekali nggak ada hubungannya dengan perjuangan timnas. Dan, terlalu dini, hanya sebatas memanfaatkan momentum. Mulai dari acara makan “pejabat” dengan pemain timnas, pemberian “bonus”, dan acara istighosah.

Bukannya melarang. Tapi kalau tau ceritanya, sejatinya mereka bukanlah the right person in the right time untuk melakukan hal-hal tersebut. Jadi bukan simpati yang didapat, tetapi malah cemoohan dan kebodohan karena mengganggu fokus timnas kita yang sedang berjuang di Piala AFF.

Kedua, masalah tiket. Harga tiket semakin mahal. Sejatinya wajar kalau harganya mahal, tetapi jadi nggak wajar kalau tau harganya. Timnas kita yang Alhamdulillah lolos ke final, segera dimanfaatkan PSSI via panitia lokal untuk menaikkan harga tiket. Kursi VVIP dilepas seharga 1 juta rupiah. Sepintas terlihat wajar, tapi kalau dibandingkan dengan harga tiket VVIP untuk pertandingan final di Malaysia yang setara 150 ribu rupiah, jelas ada oportunisme disini.

Jangan lupakan masalah penjualan tiket yang amburadul. Bahkan para mahasiswa yang terlibat dalam kepanitiaan, mampu melakukan jauh lebih baik dari apa yang PSSI via panitia lokal lakukan. Cukup untuk pembahasan tiket ini, nggak ada kata-kata lagi yang lebih hina untuk menggambarkan seperti apa kebodohan PSSI via panitia lokal dalam urusan penjualan tiket.

Dan terakhir, PSSI itu sendiri. Berapa puluh juta rakyat kita yang membenci makhluk bernama Nurdin Halid. Berapa kali sudah seruan supaya Nurdin Halid lengser dari jabatannya terucap dari mulut masyarakat. Bahkan segala jenis umpatan telah ditujukan kepada Nurdin Halid. Namun itu semua masih belum cukup untuk menggeser Nurdin Halid (dan kroni-kroninya) dari kursi kepemimpinan PSSI. Selama PSSI ditangani oleh Nurdin Halid, persepakbolaan negara ini tidak pernah memperoleh prestasi. Bahkan, semakin carut marut dan terpuruk.

Cukup sudah. Malam ini gue menangis menyaksikan kegagalan timnas kita meraih Piala AFF untuk pertama kalinya. Menangis bahagia: bahagia karena para pemain di lapangan telah memberikan yang terbaik yang mereka bisa. Menangis bahagia: bahagia karena masyarakat kita tak kenal lelah mendukung mereka yang berjuang di atas lapangan. Tapi juga menangis sedih: sedih karena timnas (beserta sang pelatih, Alfred Riedl) yang hebat ini harus berada di bawah manajemen yang bernama PSSI dengan Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie nya. Dan menangis marah: marah karena Nurdin Halid dan kroni-kroninya nggak menjalankan amanah sebagaimama seharusnya seorang pemimpin, nggak tau diri, dan memanfaatkan PSSI untuk kepentingan perutnya sendiri.

Sekian tulisan ini dibuat. Hidup persepakbolaan Indonesia. Nggak hidup Nurdin Halid.

 

 

One Comment Add yours

  1. finaalamanda says:

    nurdin turun!

    hiaa mas ckink akhirnya ganti background..
    anw aku juga ganti nama blogku mas.. yg kemarin udh ga ada.. gantinya http://www.finaalamanda.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s